Dreamdelion

Menjadi Bagian dari Dreamdelion Kreatif Mengajarkanku Banyak Hal

Menjadi Bagian dari Dreamdelion Kreatif Mengajarkanku Banyak Hal

Tahun 2013 adalah tahun di mana saya pertama kali menyandang status sebagai mahasiswa baru. Sebagai mahasiswa baru, tentu saya dan anda juga mungkin tidak ingin hanya berkegiatan di dalam kelas saja. Di hari-hari awal kuliah, organisasi-organisasi intra sangat gencar melakukan promosi kepada mahasiswa baru, entah melalui bazaar, poster, atau ajakan dari orang-orang yang kenal dengan mahasiswa baru. Mahasiswa baru pun berbondong-bondong mendaftar di berbgai macam organisasi baik intra fakultas intra universitas, maupun ekstra kampus. Organisasi yang diikuti pun tak cukup hanya satu. Terkadang seorang mahasiswa baru bisa mngikuti lebih dari satu organisasi.

Saya termasuk orang yang gencar mencari kegiatan di luar kelas. Di tengah perjalanan saya mendaftar dan mengikuti berbagai macam organisasi, saya menemukan satu hal menarik. Melalui teman saya, saya diajak untuk bergabung dengan salah satu komunitas yang cukup baru di Yogyakarta. Ya, komunitas itu adalah Dreamdelion. Pertama kali melihat pengumuman open recruitment Dreamdelion, saya langsung tertarik. Jujur, saya langsung tertarik dengan komunitas ini karena namanya yang unik. Setelah menulusuri sedikit mengenai seluk-beluk kegiatan kmunitas ini di Yogyakarta, saya menjadi lebih tertarik lagi. Bersama beberapa teman saya dari fakultas yang sama, kami mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari Dreamdelion.

Rangkaian open recruitment.nya pun berbeda dengan organisasi yang lain. Setelah mendaftar, beberapa hari kemudian langsung diadakan gathering pertama untuk berkunjung ke desa binaan Dreamdelion. Dreamdelion adalah komunitas yang memberdayakan masyarakat di Sejatidesa, salah satu desa yang terletak di Moyudan yang memiliki potensi kebudayaan yang luar biasa. Potensi kebudayaan tersebut adalah tenun.

Setalah berkunjung ke desa dan diperlihatkan potensi-potensi desa yang ada, rangkaian open recruitment selanjutnya adalah membuat social project. Karena Dreamdelion adalah komunitas yang memberdayakan masyarakat sebagai salah satu elemen lingkungan sosial, maka calon anggota Dreamdelion harus terbiasa dengan kegiatan-kegiatan sosial. Dalam tahapan seleksi ini, mulai terlihat calon-calon anggota yang benar-benar memiliki niat untuk terjun ke dunia relawan sosial.

Proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi klegiatan social project berjalan selama kurang lebih tiga bulan. Setelah melakukan tahapan ini, calon anggota Dreamdelion kemudian dipanggil untuk melakukan wawancara. Hanya beberapa orang tersisa yang memenuhi panggilan wawancara tersebut. Pengumuman penerimaan anggota dilakukan beberapa minggu setelah wawancara selesai.

Saya diterima sebagai anggota tim produksi bagian kreatif bersama teman satu fakultas saya. Dalam perjalanan saya menjadi anggota tim produksi, saya belajar banyak hal.mulai dari proses menenun, cara menjahit produk, cara mengoperasikan mesin jahit, cara membuat pola, cara menjadi trainer dalam berbagai pelatihan kelas craft yang beberapa kali kami laksanakan. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melaksanakan pelatihan-pelatihan craft. Salah satunya adalah House of Lawe.

Selain berbagai macam ilmu mengenai craft, selama dua tahun bergabung dengan komunitas ini saya banyak belajar bahwa menanamkan komitmen untuk terjun di masyarakat bukanlah hal yang mudah akan tetapi, hanya komitmen yang mampu mendorong saya untuk tetap menghadirkan diri dalam lingkungan masyarakat hingga saat ini.

Written by: Nabila Hajar Aflaha

Sebuah Cerita Istimewa tentang Pasar Tenun Rakyat 2016

Sebuah Cerita Istimewa tentang Pasar Tenun Rakyat 2016

Sejatidesa merupakan sebuah tempat belajar yang menyenangkan dan mengesankan ketika aku menjadi Panitia Pasar Tenun Rakyat 2016. Penduduk yang ramah, lingkungan yang masih asri, makanan khas desa yang selalu menggiurkan, hingga kain tenun yang selalu menarik perhatianku. Ingin tau bagaimana kelanjutan ceritanya ? Inilah sepenggal cerita dari Dusun Sejatidesa, Desa Sumberarum dan Pasar Tenun Rakyat 2016.

Pasar Tenun Rakyat 2016 merupakan sebuah acara yang bertujuan untuk memperkenalkan Sejatidesa kepada masyarakat luas dalam upaya untuk menjadikan desa tersebut sebagai desa wisata. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kain tenun karya penduduk Sejatidesa. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 April 2016 dengan tema Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity. Sebuah kebanggaan tersendiri ketika aku diberi kesempatan untuk bergabung dalam kepanitiaan Pasar Tenun Rakyat 2016. Awalnya aku ragu untuk bergabung di kepanitiaan ini karena aku tidak meimiliki pengetahuan apapun tentang kain tenun. Namun , akhirnya aku pun mencoba untuk mendaftar dan Alhamdulillah aku bisa bergabung dalam kepanitiaan ini.

Setelah panitia terbentuk, kami pun mulai bekerja untuk mempersiapkan Pasar Tenun Rakyat 2016. Panitia terdiri dari Tim Dreamdelion dan penduduk desa. Saat itu, kami pun bekerja bersama–sama. Diantara kedua tim ini, tidak ada yang menggururi ataupun sok bisa segalanya. Tim Dreamdelion dan penduduk desa pun membaur menjadi satu demi suksesnya acara ini. Penduduk desa pun sangat ramah kepada kami, mereka selalu bersedia untuk membantu kami sehingga hal ini membuatku merasa senang dan nyaman dapat bekerja sama dengan mereka. Banyak hal yang kami persiapkan demi terselenggaranya Pasar Tenun Rakyat 2016. Mulai dari mencari peserta, membuat konsep acara, mempersiapkan penginapan, sambutan, konsumsi, dan masih banyak persiapan lainnya. Walaupun kami sempat kelelahan saat mempersiapkan segalanya, tapi kami berusaha untuk tidak mengeluh dan selalu semangat dalam mengerjakan berbagai pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawab kami. Antusias penduduk desa dalam menyambut acara Pasar Tenun Rakyat 2016 membuat kami semakin bersemangat untuk mewujudkan sebuah acara yang luar biasa. Apalagi, ketika kami rapat bersama mereka, kami selalu disediakan berbagai makanan dan minuman yang membuat energi kami selalu terisi kembali.

Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Panitia dari tim Dreamdelion dan penduduk desa pun bersiap siap untuk menyambut peserta live in ataupun workshop. Berbagai sambutan pun telah dipersiapkan mulai dari tarian, gamelan, makanan khas desa, dan juga sambutan lainnya. Tak lupa sambutan dan ucapan selamat datang dari kepala dusun, kepala desa, pak camat, hingga Kepala Dinas Pariwisata Sleman. Setelah berbagai sambutan peserta pun diajak untuk keliling desa yang dipandu oleh LO dan warga desa. Walaupun siang itu cuaca sangat panas, namun antusias peserta untuk keliling desa pun tak surut. Setelah keliling desa, peserta pun melanjutkan agenda lainnya seperti Workshop Tenun dan latihan kesenian (tari dan gamelan). Hari pertama Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Peserta pun begitu antusias dalam mengikuti berbagai agenda yang telah disusun oleh panitia. Walaupun ada peserta yang belum pernah sama sekali latihan tari dan karawitan , namun rasa keingintahuan mereka membuat suasana semakin menyenangkan saat malam itu.

Hari kedua merupakan hari yang spesial menurutku. Ada sebuah agenda yang aku sendiri belum pernah melakukannya. Penduduk desa mengajak kami untuk melakukan upacara Baritan, sebuah upacara yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Dalam upacara tersebut, terdapat sapi yang digiring menuju sungai. Setelah sampai di sungai, sapi tersebut dimandikan oleh warga. Kemudian diikuti dengan pelarungan makanan ke sungai dan makan bersama makanan khas desa seperti ketupat. Selepas upacara Baritan, peserta diajak untuk melakukan konservasi. Setiap peserta dibimbing oleh pemandu untuk melakukan penanaman pohon di tempat yang telah ditentukan. Setelah konservasi, peserta pun melanjutkan berbagai agenda lainnya seperti workshop tiedye dan workshop craft. Pada workshop tiedye , peserta belajar tentang cara memberi warna alami pada kain. Hasilnya nanti boleh dibawa pulang oleh peserta dan dijadikan kenang-kenangan. Walaupun cuaca panas saat itu, peserta tetap bersemangat untuk menuntut ilmu. Selain mendapat ilmu mengenai pewarna alami , peserta juga diberi kesempatan untuk belajar membuat kerajinan dari kain tenun. Pada workshop craft, peserta diajari untuk membuat semacam tempat pensil. Pelan pelan tapi pasti, mereka mencoba untuk menjahit kain yang telah disediakan oleh panitia. Hingga pada akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tempat pensil tersebut.

Setelah melalui berbagai rangkaian acara, tibalah saatnya pentas seni dan farewell party. Pada malam itu, acara begitu meriah. Ada gamelan, tarian yang dibawakan oleh adik adik dari desa, penampilan dari peserta, bahkan ada juga penampilan dari GAMADASI UGM. Rasa senang, bangga, dan sedih bercampur menjadi satu saat itu. Senang karena acara berjalan dengan lancar dan dipertemukan dengan orang orang baru yang begitu luar biasa menurutku, dari berbagai daerah, agama, dan latar belakang. Bangga karena acara Pasar Tenun Rakyat 2016 dapat berjalan dengan lancar dan semua itu tak akan pernah terwujud jika kami tidak saling percaya, tidak saling bahu membahu, dan tidak bertanggung jawab tehadap pekerjaan yang harus dikerjakan. Semua panitia bekerja keras untuk mewujudkan acara yang begitu luar biasa. Aku bangga bisa bertemu dengan teman teman panitia dan aku sangat mengapresiasi antusias peserta dalam mengikuti acara ini. Sedih karena akan berpisah dengan mereka semua. Mereka yang telah membuatku senang, mereka yang banyak membantuku, mereka yang selalu bersemangat walaupun disaat tertentu rasa lelah pun datang, dan mereka yang telah memberikan pengalaman yang luar biasa. Bagiku, Pasar Tenun Rakyat 2016 keren banget.

Inilah kisah yang ingin kubagikan kepada kalian. Sampai jumpa di Pasar Tenun Rakyat periode selanjutnya.

Written by: Zulfa Dewi Rosada | Photo by: Agam Budi

Seminar Nasional: Tidak Takut Membangun Bisnis Berbasis Sosial

Seminar Nasional: Tidak Takut Membangun Bisnis Berbasis Sosial

Apa sih, bisnis sosial itu? Bagaimana sih, caranya membangun bisnis berbasis komunitas pemberdayaan? Punya ide sosial tapi bingung mengeksekusi dari mana? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat kamu temukan jawabanya melalui National Seminar I dan National Seminar II National Social Business Camp (NSBC) 2014.

National Seminar merupakan bagian dari NSBC 2014, sebuah kompetisi bisnis sosial tingkat nasional yang digagas oleh Dreamdelion. Sesuai tema NSBC 2014, Energizing Youth Spirit Through Social Business Era, seminar ini diadakan untuk mengangkat isu bisnis sosial dan mengajak masyarakat khususnya anak muda dalam membangun wirausaha sosial.

Seminar ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu dalam pre event dan main event NSBC 2014. National Seminar I dilaksanakan pada tanggal 17 September 2014 di Balai Sidang UI, Depok. Ada sekitar 450 orang pendaftar pada National Seminar I yang terdiri atas masyarakat umum dan pelajar.

 

“Kalau punya ide, segera dilaksanakan. Jangan ditahan-tahan. Kalau sudah orang lain yang melaksanakan, kita sendiri yang rugi.”

– Nita Roshita melalui tweet akun Twitter @yChangemakers.

 

Ada tiga sesi dalam National Seminar I. Sesi pertama diawali oleh Prof. Rhenald Kasali dari Rumah Perubahan sebagai keynote speaker; Nucha Ayuningrum, Dosen Universitas Paramadina, menjadi moderator; Nita Roshita (Ashoka Indonesia), Dewi Meisari (UKMC UI), dan Adjie Wicaksana (Desa Binaan Mandiri) yang hadir secara langsung untuk memantik semangat peserta dalam memulai bisnis sosial.

Pada sesi kedua, masih dalam National Seminar I, hadir Nurrohim (Sekolah Master), Oskar Unggul (Telapak Indonesia), dan Wempy Dyocta Koto (Wardour and Oxford) yang menjelaskan semakin dalam mengenai seberapa besar peranan bisnis sosial dalam masyarakat dan perubahan di Indonesia. Tujuan utama dalam wirausaha sosial menurut Wempy Dyocta Koto adalah keberlanjutan.

Di sesi ketiga, Yosea (Nutrifood) bersama M. Al Fatih Timur (kitabisa.com), M. Bijaksana Junerosano (Greeneration Indonesia), Yuri Pratama (Urchindonesia), dan Jombang (Penulis Buku “Bunda Lisa”) hadir untuk berbagi pengalaman seputar wirausaha sosial yang sedang dijalani. Hadir pula Darozatun (Mahasiswa FKM UI) dan Taufik Hidayat (Mahasiswa MIPA UI) sebagai moderator dalam seminar.

 

“IPK itu jangan sekadar nilai saja, tapi harus berwujud dalam karya nyata.”

– Prof. Rhenald Kasali.

Setelah sebelumnya menjadi keynote speaker dalam National Seminar I, Prof. Rhenald Kasali kembali hadir secara langsung untuk berbagi ide tentang bisnis sosial di hadapan peserta National Seminar II. Sekitar 500 orang peserta seminar dengan tambahan 15 tim finalis National Competition memenuhi Auditorium K310. National Seminar II ini dilaksanakan pada tanggal 9 November 2014 di Universitas Indonesia, Depok.

Dengan Mengusung tema yang sama seperti National Seminar I, seminar kedua kali ini juga terdiri atas 3 sesi. Pada sesi I, para peserta diajak berpikir tentang bisnis sosial sebagai cara untuk memecahkan masalah sosial dan lingkungan. Sesi ini diisi oleh Prof. Rhenald Kasali dengan Alia Noor Anoviar, pendiri Dreamdelion, sebagai moderatornya. Sesi selanjutnya diisi oleh Wempy Dyocta Koto dari Wardour and Oxford. Tidak ketinggalan juga ada Sirly W. Natsir dari Perhumas Indonesia hadir menjadi moderator dalam sesi yang memiliki tema How to Make Social Entrepreneurship Become a Global Business.

Erista (Tanoto Foundation), Fahma Nurika (Dreamdelion), Dr. Achsin U. Choliq (Practical Universitiy), dan Salman Subakat (PT Paragon Technology and Innovation) hadir mengisi sesi ketiga. Tema yang dibahas kali ini adalah “How to Implement Social Entrepreneurship Idea”. Ada pula Gloria Marcella Morgen Wiria (Nutrifood), Stefanus Syalom (Mahasiswa FT UI), dan Zerlinda Zuhri (Mahasiswa Vokasi UI) yang hadir untuk menambah keseruan seminar dan diskusi kali ini.

Satu hal yang dapat dipetik dari seminar ini adalah bahwa untuk membangun sebuah komunitas bisnis sosial tidak perlu langkah yang rumit. Seperti pesan yang disampaikan oleh Wempy Dyocta Koto atau yang akrab disapa Uda Wempy, “Ketika memulai sebuah movement, keep it simple.”

Written by: Nisrina Putri

Serunya Berkompetisi di National Social Business Camp (NSBC) 2014

Serunya Berkompetisi di National Social Business Camp (NSBC) 2014

No matter what our age or background or walk of life, each of us has something to contribute to the life of this nation.

– Michelle Obama.

 Mendapatkan keuntungan sekaligus memberdayakan masyarakat, bisakah? Tentu saja bisa! Melalui bisnis sosial, kamu tidak hanya mendapatkan keuntungan dari produk yang kamu jual, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memberdayakan masyarakat di sekitarmu.

Kalau kamu berencana melakukan kegiatan serupa tapi bingung mulai dari mana, ikut kompetisi bisa jadi salah satu jalan untuk menjalankan rencanamu, lho! Seperti kompetisi bisnis sosial yang diadakan oleh Dreamdelion di tahun 2014 lalu. Kompetisi yang bertaraf nasional ini bernama National Competition, yaitu kompetisi membuat social business plan sesuai dengan passion dan permasalahan yang ditemui di lingkungan sekitar.  Tujuan kegiatan ini tentu saja melahirkan sociopreneur muda baru di Indonesia. Selain itu, Dreamdelion ingin meningkatkan kepedulian pemuda Indonesia akan masalah sosial serta menjadi wadah untuk memberikan pengetahuan mengenai kewirausahaan sosial kepada pemuda Indonesia.

National Competition sendiri merupakan salah satu dari rangkaian acara National Social Business Camp (NSBC) 2014 yang diselenggarakan oleh Dreamdelion bekerjasama dengan Rumah Perubahan. NSBC merupakan sebuah kegiatan yang memberikan sepaket lengkap tentang bagaimana menjadi wirausaha sosial kepada ribuan pemuda Indonesia.

Ada dua tahap kegiatan dalam National Competition, yaitu Social Business Plan dan Social Business Pitching. Dalam Social Business Plan, peserta diharuskan mengirim ide bisnis sosial mereka dalam bentuk proposal. Ide tersebut haruslah bersifat orisinil dan belum pernah diikutsertakan pada perlombaan sejenis sebelumnya. Tidak ada batasan kategori maupun tema bisnis sosial yang diajukan. Bisnis sosial tersebut dapat berupa bisnis produk atau jasa yang didasarkan pada analisis kebutuhan masyarakat, serta dapat merupakan bisnis sosial yang telah atau belum berjalan.

Kegiatan penjurian ini berupa penilaian terhadap proposal social business plan peserta National Competition sesuai dengan kriteria-kriteria penilaian yang sudah ditentukan. M. Alfatih Timur (Founder kitabisa.com) dan Adjie Wicaksana (Founder Desa Inovasi Mandiri) merupakan juri dalam Social Business Plan ini.

Proses registrasi untuk Social Business Plan diadakan sejak awal tahun, yaitu April-Juni 2014 dengan pendaftar sebanyak 44 tim. Pada akhir bulan Agustus 2014, terpilih 15 tim yang lolos sebagai finalis dan diundang untuk hadir ke Jakarta dan berhak mengikuti tahapan kompetisi selanjutnya. Para finalis merupakan 15 tim yang terdiri atas pemuda Indonesia berusia 15-25 tahun yang berasal dari Jambi, Depok, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Kelompok terbaik kembali dilombakan melalui Social Business Pitching di Jakarta. Selain mempresentasikan social business plan mereka di hadapan para juri, para finalis mengikuti serangkaian acara NSBC lainnya, seperti NSBC Academy, National Seminar II, Social Campaign II, dan Social Visit II.

Pada 7 November 2014, para finalis bertemu dengan Vikra Ijas (kitabisa.co.id), Nursalim (UKMC UI), Romy Cahyadi (UNTLD), dan Yuri Pratama (URCHINDONESIA) dalam proses penjurian social business plan. Berdasarkan penilaian, akan dipilih tiga tim terbaik yang akan menjadi pemenang. Dua pemenang adalah pilihan dari dewan juri dan satu pemenang yang lainnya adalah pilihan Dreamdelion. Proses pemilihan 3 tim terbaik ini, yaitu Social Business Pitching dilaksanakan di Rumah Perubahan Rhenald Kasali, Bekasi.

Pemenang dari Social Business Plan adalah AkuaNusa, Mangurai Denim, dan Mezon Feed. Ketiga pemenang ini dipilih berdasarkan ide, inovasi, implementasi, keaktifan, realisasi dan keluasan dampak, serta hal-hal yang sudah dikerjakan. Dewan juri memilih AkuaNusa dan Mangurai Denim. Akuanusa ini merupakan tim dari Depok yang mengambil isu sistem pertanian akuaponik. Akuaponik merupakan istilah untuk satu lahan yang menghasilkan dua produk, misalnya bagian bawah ternak ikan, bagian atas lahan tani. Sementara itu, Mangurai Denim merupakan tim dari Jambi yang mengangkat produk busana dengan menggabungkan bahan denim dan batik. Tim ini juga memberdayakan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Jambi.

“Saya harap kegiatan seperti ini bukan hanya angkatan saya yang merasakan, tapi dapat berlanjut ke tahun berikutnya.”

– Amrul, perwakilan tim MezonFeed.

MezonFeed adalah pemenang kategori pilihan Dreamdelion. Mezon Feed yang mengangkat tentang pemberdayaan masyarakat peternak lele ini merupakan tim dari Surabaya.

Written by: Nisrina Putri

Belajar dari Masyarakat Manggarai: Social Visit NSBC 2014

Belajar dari Masyarakat Manggarai: Social Visit NSBC 2014

Alone we can do so little, together we can do so much.”

– Helen Keller.

 

Jalan-jalan seru pulangnya dapat ilmu, siapa sih, yang nggak mau?

Hal inilah yang diperoleh para peserta Social Visit. Masih dalam rangkaian National Social Business Competition (NSBC) 2014, Social Visit merupakan agenda kunjungan ke pelaku bisnis sosial, dalam hal ini Dreamdelion Manggarai. Salah satu tujuannya adalah untuk mengajak para finalis National Competition melihat dan terlibat langsung kegiatan yang biasa dilakukan Dreamdelion.

Dari kegiatan ini, para peserta dapat langsung berinteraksi dengan masyarakat dan belajar bagaimana pendekatan kepada masyarakat yang memerlukan binaan. Selain itu, para peserta juga dapat belajar membuat produk-produk Dreamdelion dari hasil tangan masyarakat Manggarai. Sebagian peserta juga dapat merasakan bagaimana caranya membimbing dan berbagi kebahagiaan kepada adik-adik Manggarai di sanggar belajar Dreamdelion.

 

We make a living by what we get. We make a life by what we give.

– Winston S. Churchill.

 

Keinginan Dreamdelion untuk menginspirasi lebih banyak orang membuat Social Visit ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu dalam pre-event dan main event NSBC 2014. Social Visit I dilaksanakan pada Minggu, 21 September 2014 di Manggarai. Agenda ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Gerakan Manggarai Sehat (GEMAS) Dreamdelion.

GEMAS merupakan salah satu kegiatan tahunan dari divisi Dreamdelion Sehat yang dimulai sejak tahun 2012. Tahun 2014 adalah GEMAS IV yang diadakan oleh Dreamdelion Sehat. Sebanyak 500 kupon pemeriksaan dan pengobatan gratis dibagikan pada warga di RW 04 dan RW 012 Manggarai. Ada pula penyuluhan Kesehatan Reproduksi (KesPro) bagi remaja dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi warga hadir dalam kegiatan ini.

Social Visit II lebih semarak dan istimewa karena dihadiri oleh 33 orang peserta dari 15 tim finalis National Competition NSBC 2014. Acara ini diadakan pada hari Minggu, 9 November 2014, masih di tempat yang sama, yaitu RW 04 dan RW 12 Manggarai. Para peserta berkesempatan menilik ilmu dari empat tempat kegiatan di Manggarai.

Empat titik kegiatan yang dikunjungi oleh para peserta, yaitu, Grabear, vertikultur, sanggar belajar, dan produksi produk dengan bahan dasar jeans. Di RW 04, para peserta dapat melihat dan belajar secara langsung produksi Grabear (Graduation Bear), boneka wisuda yang terbuat dari limbah kertas. Selain itu, peserta dapat melihat vertikultur milik warga RW 04. Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini dapat dilakukan di dalam ruang maupun luar ruang. Masih di tempat yang sama, peserta juga berkesempatan untuk bertemu dengan adik-adik di sanggar belajar. Setelah itu, para peserta juga berkunjung untuk melihat pembuatan produk berbahan dasar jeans di RW 12 Manggarai.

Melihat keseruan yang hadir selama Social Visit II, rasanya tak cukup satu hari untuk belajar bersama masyarakat Manggarai ini. Titi Sari Nurul, Ketua NSBC 2014, mengatakan bahwa Social Visit merupakan salah satu upaya agar 15 tim terpilih dapat merasakan langsung suasana social entrepreneur dan semakin termotivasi untuk berkontribusi dalam masyarakat luas.

Written by : Nisrina Putri

Belajar dari Ahlinya: Academy National Social Business Camp 2014

Belajar dari Ahlinya: Academy National Social Business Camp 2014

“Kita melakukan sosial bisnis buat bantu orang, tapi belum tentu konsumen kita punya niat yang sama. We need brand.”

– Paulina Purnomowati (Co-Founder DreamLab Indonesia)

Bagaimana rasanya bila kita dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki kesamaan minat di bidang bisnis sosial? Tidak sampai di situ, kita juga dapat belajar langsung dari para ahli di bidang tersebut. Siapa yang tidak tertarik?

Kesempatan berharga ini didapatkan 15 tim finalis National Competition bersama 13 peserta umum lainnya dalam Academy National Social Business Camp (NSBC)  2014. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 5 dan 6 November 2014 di Rumah Perubahan Rhenald Kasali, Bekasi. NSBC merupakan proyek besar pertama Dreamdelion 2014 yang mengusung tema “Energizing Youth Spirit Through Social Business Era”.  Academy merupakan salah satu dari rangkaian acara NSBC 2014 ini.

Academy NSBC ini berbentuk kegiatan berupa training dan workshop mengenai materi dasar mewujudkan bisnis sosial. Materinya adalah elevator pitching, social mapping, social business canvas, fundraising, dan marketing. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan finalis dalam proses penjurian saat pitching. Lima orang trainer handal datang untuk memberikan materi dan menginspirasi para peserta dalam waktu dua hari, yaitu 5 dan 6 November 2014. Sebelumnya, 15 finalis telah diberi tugas yang berkaitan dengan kelima materi ini.

Pada hari pertama, Vikra Ijas (Co-Founder Kitabisa.com) dan Paulina Purnomowati (Co-Founder DreamLab Indonesia) hadir sebagai pemateri. Mereka hadir untuk mengajak para peserta melihat kembali konsep bisnis sosial mereka. Elevator Pitching adalah materi yang dibawakan oleh Vikra Ijas. Pitching sendiri merupakan teknik presentasi yang membuat pendengar menjadi lebih tertarik. Poin terpentingnya adalah memberikan kesan dalam satu menit presentasi agar investor tertarik dengan bisnis yang ditawarkan.

Materi selanjutnya, yang tidak kalah menarik adalah Social Business Canvas. Melalui materi ini, Paulina Purnomowati memperkenalkan istilah BMC atau Business Model Canvas. BMC merupakan rancangan model bisnis yang berisi penjabaran persiapan sebuah usaha yang meliputi 9 elemen, yaitu, customer segments, value proposition, channel, relationship, key activities, key resources, key partner, cost structure, dan revenue. Peserta diberi pelatihan bagaimana membuat BMC yang tepat sasaran agar bisnis dapat berjalan dengan baik dan tersegmentasi.

Pada hari kedua, tiga orang pemateri hadir untuk mengukuhkan langkah bisnis sosial para finalis. Arifin Purwakananta dari Institusi Inovasi Sosial Indonesia, menjelaskan materi Fundraising dalam bisnis sosial. Menurut beliau, ada dua hal yang harus dilakukan dalam pelaksanaan fundraising, yaitu komunikasi dan kemudahan layanan donasi. Handoko Hendroyono dari doArt dan OneComm Indonesia, menjelaskan bagaimana  Marketing dalam bisnis sosial. Salah satu bentuk marketing dari bisnis sosial adalah dengan melakukan kolaborasi, membuat lingkaran pertemanan yang positif untuk berkolaborasi serta membuat proyek bisnis sosial bersama.  Sesi terakhir, sekaligus materi terakhir dalam Academy NSBC diisi oleh Ahmad JuwainiCEO Dompet Dhuafa. Beliau menjelaskan konsep Social Mapping. Di sesi ini, para peserta diminta untuk mengidentifikasi masyarakat di sekitar mereka dan menuliskan ide bisnis sosial untuk mereka. Setelahnya, peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil Social Mapping yang telah dibuat.

Academy NSBC hadir untuk membekali finalis dalam melaksanakan gagasan bisnis sosialnya, sehingga dapat bersaing dengan kompetitor lain. Kemampuan baru yang dimaksudkan adalah pengelolaan sumberdaya, seperti,  capital, fundraising dan volunteering. Harapannya, kemampuan ini dapat digunakan sebagai potensi untuk mengembangkan bisnis sosial yang mereka miliki.  Melalui Academy NSBC pula,  para peserta dapat memperoleh kemampuan baru dalam memasarkan gagasan, produk yang dihasilkan, dan membangun networking kepada pihak eksternal.

Written by: Nisrina Putri

Virus Bisnis Sosial Disebarkan dalam Social Campaign NSBC 2014

Virus Bisnis Sosial Disebarkan dalam Social Campaign NSBC 2014

Salah satu rangkaian National Social Business Camp (NSBC) 2014 yang sangat sayang untuk dilewatkan adalah Social Campaign. Bagaimana tidak? Pada acara ini, semua orang dapat berpartisipasi mengkampanyekan pemberdayaan masyarakat melalui bisnis sosial tanpa kecuali.

National Social Business Camp (NSBC) merupakan agenda besar Dreamdelion di tahun 2014. NSBC 2014 ini mengusung tema Energizing Youth Spirit Through Social Business Era. Dua dari 8 rangkaian acara NSBC adalah Social Campaign. Kenapa dibilang dua acara? Karena Social Campaign ini diadakan dua kali, yaitu, pada pre event dan main event NSBC 2014.

Social Campaign merupakan kampanye masal pada acara Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI) mengenai kewirausahaan sosial. Melalui kegiatan ini, diharapkan lebih banyak orang yang mengerti tentang bisnis sosial, apa dan seperti apa bentuk dari wirausaha sosial, serta apa yang membedakannya dengan wirausaha biasa. Selain itu, keberadaan Social Campaign ini juga diharapkan dapat menularkan semangat membangun bisnis sosial kepada masyarakat luas. Setidaknya, masyarakat mau mendukung keberadaan usaha yang berbasis bisnis sosial ini.

Social entrepreneurs are not content just to give a fish or teach how to fish. They will not rest until they have revolutionized the fishing industry.

– Bill Drayton, Ashoka CEO & Founder.

Pesan inilah yang coba disampaikan oleh teman-teman Dreamdelion beserta para panitia dan volunteer Social Campaign NSBC 2014. Makna pernyataan di atas adalah bahwa wirausaha sosial tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga memberikan kail kepada masyarakat. Pada praktiknya, para penyebar “virus” bisnis sosial ini benar-benar membawa kail dan alat pancing, lho! Hihihi.

Ada tiga konsep yang digunakan dalam kegiatan ini, yaitu Intervensi, Flash Mob dan Freeze Mob. Dalam intervensi, para panitia dan volunteer berkampanye mendekati orang-orang yang ada di sekitar Bundaran HI. Mereka memantik rasa penasaran orang-orang di sekitar dengan memberikan pertanyaan seputar bisnis sosial. Pertanyaan ini diikuti dengan penjelasan singkat seputar kewirausahaan sosial.

Para pengunjung di CFD Bundaran HI juga diajak untuk ikut bergerak dalam Flash Mob. Nah, untuk Freeze Mob, berbagai atribut berupa tulisan berbahan kardus dan kertas, digunakan agen penebar “virus” untuk menarik perhatian orang-orang sekitar. Tentu saja dengan berbagai tulisan yang provokatif sekaligus informatif! Ada pula photo booth dan pigura raksasa berbentuk kiriman instagram yang bebas dipakai para pengunjung untuk berfoto bersama.

Salah satu momen yang paling seru adalah ketika para panitia secara acak memakaikan selempang bertuliskan “Duta Socialpreneur pada para pengunjung di CFD. Pemakaian selempang ini diikuti oleh penjelasan tentang sociopreneur kepada duta terpilih bersama dengan para pengunjung di sekitarnya.

Kabarnya, pada saat Social Campaign I, ada lebih dari 3000 orang yang terlibat dan tertarik untuk mendekati para agen penebar “virus” ini, lho! Yap, mereka adalah orang-orang yang datang ke Car Free Day, termasuk panitia dan volunteer NSBC. Pada acara pertama ini, hadir pula Edan Eling, grup musik Manggarai dan infocarfreeday.net.

Sementara itu, Social Campaign II tidak kalah menariknya. Kali ini bahkan lebih meriah karena diramaikan oleh kehadiran 15 tim finalis National Competition NSBC 2014. Acara ini diadakan pada hari Minggu, 9 November 2014, masih di tempat yang sama, yaitu, Bundaran Hotel Indonesia. Ada sekitar 3000 orang yang datang ke CFD, termasuk panitia, tim finalis National Competition dan volunteer NSBC.

Written by : Nisrina Putri

Melalui Share the Love, Dreamdelion Berbagi Harapan di Luar Sanggar

Melalui Share the Love, Dreamdelion Berbagi Harapan di Luar Sanggar

Seperti kata Share the Love, Dreamdelion ingin berbagi cinta terhadap sesama. Hal itu karena masih banyak anak-anak di luar sana yang mengalami kondisi kurang beruntung. Melalui kegiatan Share the Love, Dreamdelion melakukan kegiatan sosial di luar sanggar yang diselenggarakan setiap tahunnya. Dan hingga saat ini Share the Love sudah diadakan sebanyak 4 kali, yaitu:

Share the Love 1 : Kunjungan bakti sosial ke-4 panti asuhan di Depok dan Bogor

Dreamdelion mengawali kegiatan Share the Love dengan mengunjungi panti asuhan di Depok dan Bogor. Kegiatan yang dilakukan pada 18 Agustus 2013 merupakan acara pertama dari program Share the Love. Kegiatan ini dilakukan ke empat yayasan atau panti asuhan yaitu Panti Asuhan Bina Umat Depok, Panti Asuhan Darussalam Depok, Panti Asuhan Al-Asyar Depok, dan Panti Asuhan Yatim Online Bogor. Pada Share the Love yang pertama, Dreamdelion mengajak anak-anak panti untuk menumbuhkan kepedulian, kasih sayang, pentingnya tolong menolong antar sesama, dan rasa syukur. Berbagai kegiatan juga dilakukan di panti asuhan, mulai dari berkenalan, pemberian motivasi, games, dan lainnya. Dalam kunjungan ini Dreamdelion memberikan bantuan berupa peralatan sekolah untuk meningkatkan semangat belajar mereka.

Share the love 2 : Kunjungan ke Yayasan Kanker Anak

Share the Love yang ke-2 dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2014. Dreamdelion mengadakan kunjungan ke dua yayasan kanker anak, yaitu Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) dan Yayasan Anyo Indonesia (YAI). Kedatangan Dreamdelion kali ini bertujuan untuk saling mengasihi dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak penderita kanker.

Pada kunjungan kali ini, pertama dilakukan ke YKAKI yang terdiri dari berbagai anak-anak penderita jenis kanker. Dalam kesempatan kali ini, Dreamdelion mengadakan kegiatan seperti menghias roti dan membuat medali cita-cita yang ditulis di kertas karton. Anak-anak sangat bersemangat menuliskan cita-citanya di atas kartonnya masing-masing. Hal ini dilakukan untuk memotivasi anak-anak penderita kanker agar tetap mempunyai harapan dan cita-cita.

“Dalam acara kali ini, saya mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dari anak-anak penderita kanker,” ungkap Ghea salah satu partisipan acara. Tak lupa, Dreamdelion juga memberikan bantuan berupa uang tunai kepada anak-anak penderita kanker.

Setelah bermain bersama dengan anak-anak penderita kanker di YKAKI, kemudian acara dilanjutkan ke YAI. Di sana, Dreamdelion juga memberikan bantuan berupa uang tunai untuk anak-anak penderita kanker.

 

Share the Love 3 : Kegiatan di Lapas Anak

Dalam Share the Love 3 yang dilaksanakan pada 19 Juli 2014, Dreamdelion mendatangi Lapas Anak Pria Tangerang (Laprita). Dreamdelion ingin berbagi kebahagiaan kepada anak-anak lapas yang terkadang dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak. Acara ini diadakan di aula yang dipenuhi oleh 200-an anak penghuni Laprita. Mereka berumur 14-20 tahun dan rata-rata terjerat kasus narkoba. Walaupun begitu, mereka tetap menunjukkan yang baik untuk keinginan berubah.

Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Ketua Acara, CEO Dreamdelion, dan Ketua Lapas. Suasana yang awalnya cukup kaku dan tegang berubah menyenangkan setelah beberapa anak Lapas unjuk kebolehan dengan dua lagunya yang ditampilkan oleh band Laprita. “Penampilan mereka itu keren! Aku nggak nyangka ternyata mereka itu punya bakat di luar alasan mereka ada di lapas,” begitulah tanggapan positif dari Ana setelah melihat penampilan anak-anak Lapas.

Sebagai penutup acara, Dreamdelion membagikan parsel untuk semua partner yang bekerjasama dalam acara Share The Love 3. Ada Yayasan Tunas Bangsa, Berbagi Nasi, MUSA, Enigami, dan para donatur. Ada juga bantuan kepada anak-anak Laprita berupa sarung, peci, pouch dan surat-surat, alat-alat olahraga, dan buku-buku.

Share the Love 4: With the Street Children

Dalam Share the Love 4 Dreamdelion mengadakan acara With the Street Children bersama anak-anak jalanan dengan mengusung tema “Show our Care to Street Children. Acara kali ini berlangsung pada 5 Juli 2015 di Taman Impian Jaya Ancol yang diikuti 500 anak jalanan dari 5 kota, yaitu Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Makasar dan Garut. Acara yang diadakan serempak di 5 kota ini memiliki tujuan untuk menghidupkan mimpi anak-anak jalanan.

“Kami telah melihat banyak anak jalanan di kota besar yang sangat minim akses terhadap pendidikan. Hal ini lah yang melatarbelakangi kami mengadakan acara Share the Love 4 bersama anak-anak jalanan,” kata Naafi selaku panitia acara tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, Dreamdelion memberikan motivasi kepada anak-anak jalanan agar tetap bersemangat untuk belajar dan menggapai masa depan gemilang. Tidak hanya itu, pada acara ini diadakan juga penayangan film pendek, belajar bersama, educational games, aksi sosial, Draw Our Dream, motivational speech, dan lainnya.

Di balik kesuksesan acara ini, ada bantuan dan kerjasama dari komunitas Save Street Children, Berbagi Nasi, Sekolah Rakyat Ancol, serta kerelaan hati para donatur yang memberikan bantuan berupa alat-alat sekolah.

Share the Love 5: With LVRI 

Pada tanggal 26 November 2016, Share the Love berkesempatan mengunjungi LVRI. Pada acara Share the Love kali ini, opa oma veteran berbagi pengetahuan kepada anak-anak sanggar Dreamdelion cerdas.

Written by: Nisrina Putri | Photo by: Faisal Muhammad

Pasar Tenun Rakyat, Upaya Agar Kain Tenun Lurik Semakin Dilirik

Pasar Tenun Rakyat, Upaya Agar Kain Tenun Lurik Semakin Dilirik

Apa yang terlintas dalam benak teman-teman ketika membaca kata “tenun”? Barangkali kain songket atau ulos menjadi kata pertama yang muncul. Tapi tahukah teman-teman bahwa Yogyakarta juga memiliki tradisi tenun?

Yap, namanya adalah tenun lurik.

Dusun Sejati Desa di Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta merupakan salah satu desa yang masih meneruskan tradisi tenun lurik ini. Secara lebih spesifik, hasil tenun dari desa ini adalah stagen. Stagen merupakan kain kecil dan panjang yang dipakai wanita untuk mengencangkan perut dan membentuk postur tubuh.

Sejak 2013, Dusun Sejati Desa menjadi fokus tempat pemberdayaan Dreamdelion di Yogyakarta. Pengembangan potensi tenun lurik ini dimulai ketika Dreamdelion menyadari adanya kerusakan lingkungan di area sekitar sungai Progo. Dusun Sejati Desa adalah salah satu wilayah dampaknya.

Sebuah konsep rainbow stagen tercetus untuk membuat tenun lurik menjadi lebih dilirik oleh generasi masa kini. Kemudian usulan untuk menggunakan pewarna dengan bahan alam muncul. Pada akhirnya, Dreamdelion berinisiatif untuk menjadikan Desa Sumberarum sebagai sebuah desa wisata, yaitu Rainbow Village. Harapannya tentu saja agar masyarakat mengurangi aktivitas penambangan, pendapatan masyarakat meningkat dari hasil tenun, dan menjaga tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Dreamdelion bekerjasama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility- Small Grant Programme), Terasmitra, dan JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID, mengadakan Pasar Tenun Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkampanyekan budaya tenun di Indonesia dan menyambut dibukanya desa wisata di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Dreamdelion juga ingin Sejati Desa dapat berkembang secara mandiri dalam sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan, semakin terbuka lebar. Pasar Tenun Rakyat ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 April 2016.

Konsep utama Pasar Tenun Rakyat adalah tinggal di desa wisata sambil belajar kebudayaan. Tidak hanya tenun, tetapi juga kesenian yang lainnya. Meski demikian, sejak Februari, telah diadakan berbagai acara tidak kalah menariknya. Ada dua pameran tentang tenun yang diadakan di Yogyakarta dan Jakarta, juga ada kompetisi photowalk yang diadakan di Dusun Sejati Desa. Rangkaian pre-event berhasil mencuri banyak perhatian publik. Hal ini terbukti pula dengan jumlah peserta yang mendaftar untuk Pasar Tenun Rakyat, yaitu sekitar 50 orang yang sebagian besar berasal dari wilayah Yogyakarta.

Sesuai dengan temanya, “Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity, Dreamdelion ingin mengajak para peserta untuk merasa bahagia dalam kesederhanaan. Selama dua hari satu malam, peserta belajar budaya sekaligus merasakan suasana pedesaan yang membuat tentram.

Dreamdelion mengajak peserta untuk melihat lebih dekat keindahan alam dan keseharian penduduk Sejati Desa. Peserta juga mendapat kesempatan untuk melihat langsung upacara Baritan, yaitu bentuk syukuran selepas panen padi.

Salah satu bagian yang paling menarik dari acara ini adalah sensasi belajar langsung dari para ahlinya. Tidak hanya tentang tenun, peserta juga diajak untuk belajar kesenian dan keterampilan yang lain. Beberapa workshop yang ditawarkan adalah workshop menenun di hari pertama. Ada pula workshop Tiedye dan Crafting dengan bahan kain tenun di hari kedua. Sementara itu, peserta juga belajar seni gamelan Jawa dan tarian Jawa yang diadakan pada malam hari pertama.

Pasar Tenun Rakyat merupakan cara Dreamdelion untuk berkontribusi menjaga kebudayaan bangsa. Tidak hanya untuk membuat tenun lurik semakin dilirik, tetapi juga menjadikan desa wisata ini sebagai cara untuk melestarikan budaya dan alam sekitar kita.

Ditulis oleh: Nisrina Putri | Foto oleh: Doni Dwitama & Yosua Pelamonia

Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

“Menenun adalah kerja budaya. Mereka sebagai warga Indonesia berhak hidup layak. Dengan mendukung gerakan ini, akan berdampak bagi berbagai pihak, diantaranya mendukung gerakan lokal.”

 

Pernyataan tersebut dituturkan oleh Paulina Dinar Tisti dari Bentara Budaya Jakarta dalam konferensi pers Cerita Tenun Tangan tanggal 15 Maret 2016 di Bentara Budaya Jakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula Ibu Catharina Dwihastarini (GEF-SGP), Mama Yovita (Yayasan Thafen Pah), dan Mbak Adinindyah (House of Lawe).

Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap kehadiran pameran Stagen: Start Again, membuat Dreamdelion ingin membagikan semangat yang sama ke tempat baru. Dreamdelion, bersama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility-Small Grant Programme), Terasmitra, JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID,  Poros, dan Bentara Budaya Jakarta, membawa kisah tenun ini ke Jakarta. Yap, sebenarnya ini adalah pameran yang tidak direncanakan sebelumnya.

Cerita Tenun Tangan ini diadakan di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 15 Maret hingga 20 Maret 2016. Pameran ini mengangkat tema Weaving for Life, yaitu bagaimana tenun memiliki dampak yang sangat besar dalam hidup para penenunnya.

Tidak hanya tenun stagen dari Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, yang disajikan dalam Cerita Tenun Rakyat, ada pula tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan 3 Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), juga ada tenun dari Biboki, Timor Tengah Utara (TTU). Keberadaan tenun di masing-masing wilayah ini memiliki makna yang menarik untuk dipahami. Ada kisah, nilai, dan budaya yang tersimpan dalam tiap helai benangnya. Maka dari itu, pameran kali ini diberi nama Cerita Tenun Tangan.

Lain daerah, lain pula cerita di balik lembaran warna-warni kain tenunnya. Di Mollo, Amanatun, dan Amanuban, hasil tenun dapat menjadi sumber penghasilan dan merupakan cara untuk mengusir tambang marmer. Ada pula kisah dari Moyudan, Yogyakarta, yang menjadikan tenun sebagai upaya untuk mengurangi kegiatan penambangan pasir di sungai Progo. Kegiatan penambangan pasir ini secara nyata telah merusak ekosistem alam di desa. Sementara itu, hasil penjualan tenun di Biboki telah digunakan untuk misi regenerasi dan beasiswa anak-anak Biboki. Sungguh menarik, bukan, menyimak cerita tenun dari masing-masing daerah?

Pameran ini tidak hanya menyajikan hasil jadi tenun tangan, tetapi juga menghadirkan beberapa alat tenun yang dapat dicoba langsung oleh para pengunjung. Para penenun asli dari Yogyakarta dan Timor Tengah Utara datang juga untuk mengajari para pengunjung cara menggunakan alat tenunnya. Hasil jadi tenun tangan ini juga dipamerkan sekaligus dijual, seperti tas, dompet, baju hingga boneka. Keuntungan penjualan ini kembali ke para penenun dan pengrajin pembuat produk di Terasmitra dan GEF-SGP, lho. Selain itu, ada pula kelas kerajinan tangan yang diadakan tiap hari. Kelas kerajinan tangan ini mengajak pengunjung untuk membuat bros, jepit rambut, dan pouch cantik dari kain tenun.

Ada pula Talkshow “Eksistensi Tenun Dulu dan Sekarang” yang diadakan pada hari kedua pameran, 16 Maret 2016. Tidak tanggung-tanggung, narasumber talkshow ini adalah Didiet Maulana, desainer terkenal dari The Ikat Indonesia, Yovita Meta Basin dari Yayasan Taefan Pah, dan Adinindyah dari House of Lawe. Perbincangan ini membahas tentang minat generasi muda terhadap kerajinan tenun dan permasalahan terkait pemasaran hasil jadi tenun itu sendiri. Masih di hari yang sama, digelar pula Fashion Show dengan tema “Aplikasi Kain Tenun dalam Berbusana”.

Pertunjukan seni dan musik membuat Cerita Tenun Tangan semakin berwarna. Ada Daniel dari sanggar Sakti Dance Company dan pertunjukan musik Sasando oleh Djitron Pah yang membuka hari pertama pameran. Teater “Main Dulu, Main Sekarang” dari Sanggar Bias hadir pula mengisi di hari ketiga. Selain itu masih ada pertunjukan musik Jimbe dari Yayasan Ciliwung Merdeka.

Kemeriahan Cerita Tenun Rakyat ini juga ditambah dengan kontes foto Cerita Tenun Tangan yang diadakan setiap hari. Caranya sederhana, cukup unggah foto tentang acara Weaving For Life, lalu tag 3 orang teman di Instagram.

Seru sekali, bukan?

Jauh di luar dugaan, Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta ini disambut hangat oleh lebih banyak orang dan lebih banyak media. Bahkan di hari terakhir, sudah ada lebih dari 500 pengunjung dalam pameran Weaving for Life! Tidak hanya itu, Dewi Motik, Frans Hartono, dan Nina Tamam turut hadir mengisi rangkaian kegiatan dalam pameran ini. Rasanya segala usaha dan kerja keras tuntas terbayarkan oleh tanggapan positif yang diberikan masyarakat.

Written by : Nisrina Putri | Photo by : Evaulia Nindya

× Mari berkolaborasi!