Dreamdelion

Ada Virus Bisnis Sosial dalam Social Campaign NSBC 2014

Salah satu rangkaian National Social Business Camp (NSBC) 2014 yang sangat sayang untuk dilewatkan adalah Social Campaign. Bagaimana tidak? Pada acara ini, semua orang dapat berpartisipasi mengkampanyekan pemberdayaan masyarakat melalui bisnis sosial tanpa kecuali.

National Social Business Camp (NSBC) merupakan agenda besar Dreamdelion di tahun 2014. NSBC 2014 ini mengusung tema Energizing Youth Spirit Through Social Business Era. Dua dari 8 rangkaian acara NSBC adalah Social Campaign. Kenapa dibilang dua acara? Karena Social Campaign ini diadakan dua kali, yaitu, pada pre event dan main event NSBC 2014.

Social Campaign merupakan kampanye masal pada acara Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI) mengenai kewirausahaan sosial. Melalui kegiatan ini, diharapkan lebih banyak orang yang mengerti tentang bisnis sosial, apa dan seperti apa bentuk dari wirausaha sosial, serta apa yang membedakannya dengan wirausaha biasa. Selain itu, keberadaan Social Campaign ini juga diharapkan dapat menularkan semangat membangun bisnis sosial kepada masyarakat luas. Setidaknya, masyarakat mau mendukung keberadaan usaha yang berbasis bisnis sosial ini.

 

Social entrepreneurs are not content just to give a fish or teach how to fish. They will not rest until they have revolutionized the fishing industry.

– Bill Drayton, Ashoka CEO & Founder.

 

Pesan inilah yang coba disampaikan oleh teman-teman Dreamdelion beserta para panitia dan volunteer Social Campaign NSBC 2014. Makna pernyataan di atas adalah bahwa wirausaha sosial tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga memberikan kail kepada masyarakat. Pada praktiknya, para penyebar “virus” bisnis sosial ini benar-benar membawa kail dan alat pancing, lho! Hihihi.

Ada tiga konsep yang digunakan dalam kegiatan ini, yaitu Intervensi, Flash Mob dan Freeze Mob. Dalam intervensi, para panitia dan volunteer berkampanye mendekati orang-orang yang ada di sekitar Bundaran HI. Mereka memantik rasa penasaran orang-orang di sekitar dengan memberikan pertanyaan seputar bisnis sosial. Pertanyaan ini diikuti dengan penjelasan singkat seputar kewirausahaan sosial.

Para pengunjung di CFD Bundaran HI juga diajak untuk ikut bergerak dalam Flash Mob. Nah, untuk Freeze Mob, berbagai atribut berupa tulisan berbahan kardus dan kertas, digunakan agen penebar “virus” untuk menarik perhatian orang-orang sekitar. Tentu saja dengan berbagai tulisan yang provokatif sekaligus informatif! Ada pula photo booth dan pigura raksasa berbentuk kiriman instagram yang bebas dipakai para pengunjung untuk berfoto bersama.

Salah satu momen yang paling seru adalah ketika para panitia secara acak memakaikan selempang bertuliskan “Duta Socialpreneur pada para pengunjung di CFD. Pemakaian selempang ini diikuti oleh penjelasan tentang sociopreneur kepada duta terpilih bersama dengan para pengunjung di sekitarnya.

Kabarnya, pada saat Social Campaign I, ada lebih dari 3000 orang yang terlibat dan tertarik untuk mendekati para agen penebar “virus” ini, lho! Yap, mereka adalah orang-orang yang datang ke Car Free Day, termasuk panitia dan volunteer NSBC. Pada acara pertama ini, hadir pula Edan Eling, grup musik Manggarai dan infocarfreeday.net.

Sementara itu, Social Campaign II tidak kalah menariknya. Kali ini bahkan lebih meriah karena diramaikan oleh kehadiran 15 tim finalis National Competition NSBC 2014. Acara ini diadakan pada hari Minggu, 9 November 2014, masih di tempat yang sama, yaitu, Bundaran Hotel Indonesia. Ada sekitar 3000 orang yang datang ke CFD, termasuk panitia, tim finalis National Competition dan volunteer NSBC.

Written by : Nisrina Putri

Virus Bisnis Sosial Disebarkan dalam Social Campaign NSBC 2014

Virus Bisnis Sosial Disebarkan dalam Social Campaign NSBC 2014

Salah satu rangkaian National Social Business Camp (NSBC) 2014 yang sangat sayang untuk dilewatkan adalah Social Campaign. Bagaimana tidak? Pada acara ini, semua orang dapat berpartisipasi mengkampanyekan pemberdayaan masyarakat melalui bisnis sosial tanpa kecuali.

National Social Business Camp (NSBC) merupakan agenda besar Dreamdelion di tahun 2014. NSBC 2014 ini mengusung tema Energizing Youth Spirit Through Social Business Era. Dua dari 8 rangkaian acara NSBC adalah Social Campaign. Kenapa dibilang dua acara? Karena Social Campaign ini diadakan dua kali, yaitu, pada pre event dan main event NSBC 2014.

Social Campaign merupakan kampanye masal pada acara Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI) mengenai kewirausahaan sosial. Melalui kegiatan ini, diharapkan lebih banyak orang yang mengerti tentang bisnis sosial, apa dan seperti apa bentuk dari wirausaha sosial, serta apa yang membedakannya dengan wirausaha biasa. Selain itu, keberadaan Social Campaign ini juga diharapkan dapat menularkan semangat membangun bisnis sosial kepada masyarakat luas. Setidaknya, masyarakat mau mendukung keberadaan usaha yang berbasis bisnis sosial ini.

Social entrepreneurs are not content just to give a fish or teach how to fish. They will not rest until they have revolutionized the fishing industry.

– Bill Drayton, Ashoka CEO & Founder.

Pesan inilah yang coba disampaikan oleh teman-teman Dreamdelion beserta para panitia dan volunteer Social Campaign NSBC 2014. Makna pernyataan di atas adalah bahwa wirausaha sosial tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga memberikan kail kepada masyarakat. Pada praktiknya, para penyebar “virus” bisnis sosial ini benar-benar membawa kail dan alat pancing, lho! Hihihi.

Ada tiga konsep yang digunakan dalam kegiatan ini, yaitu Intervensi, Flash Mob dan Freeze Mob. Dalam intervensi, para panitia dan volunteer berkampanye mendekati orang-orang yang ada di sekitar Bundaran HI. Mereka memantik rasa penasaran orang-orang di sekitar dengan memberikan pertanyaan seputar bisnis sosial. Pertanyaan ini diikuti dengan penjelasan singkat seputar kewirausahaan sosial.

Para pengunjung di CFD Bundaran HI juga diajak untuk ikut bergerak dalam Flash Mob. Nah, untuk Freeze Mob, berbagai atribut berupa tulisan berbahan kardus dan kertas, digunakan agen penebar “virus” untuk menarik perhatian orang-orang sekitar. Tentu saja dengan berbagai tulisan yang provokatif sekaligus informatif! Ada pula photo booth dan pigura raksasa berbentuk kiriman instagram yang bebas dipakai para pengunjung untuk berfoto bersama.

Salah satu momen yang paling seru adalah ketika para panitia secara acak memakaikan selempang bertuliskan “Duta Socialpreneur pada para pengunjung di CFD. Pemakaian selempang ini diikuti oleh penjelasan tentang sociopreneur kepada duta terpilih bersama dengan para pengunjung di sekitarnya.

Kabarnya, pada saat Social Campaign I, ada lebih dari 3000 orang yang terlibat dan tertarik untuk mendekati para agen penebar “virus” ini, lho! Yap, mereka adalah orang-orang yang datang ke Car Free Day, termasuk panitia dan volunteer NSBC. Pada acara pertama ini, hadir pula Edan Eling, grup musik Manggarai dan infocarfreeday.net.

Sementara itu, Social Campaign II tidak kalah menariknya. Kali ini bahkan lebih meriah karena diramaikan oleh kehadiran 15 tim finalis National Competition NSBC 2014. Acara ini diadakan pada hari Minggu, 9 November 2014, masih di tempat yang sama, yaitu, Bundaran Hotel Indonesia. Ada sekitar 3000 orang yang datang ke CFD, termasuk panitia, tim finalis National Competition dan volunteer NSBC.

Written by : Nisrina Putri

Melalui Share the Love, Dreamdelion Berbagi Harapan di Luar Sanggar

Melalui Share the Love, Dreamdelion Berbagi Harapan di Luar Sanggar

Seperti kata Share the Love, Dreamdelion ingin berbagi cinta terhadap sesama. Hal itu karena masih banyak anak-anak di luar sana yang mengalami kondisi kurang beruntung. Melalui kegiatan Share the Love, Dreamdelion melakukan kegiatan sosial di luar sanggar yang diselenggarakan setiap tahunnya. Dan hingga saat ini Share the Love sudah diadakan sebanyak 4 kali, yaitu:

Share the Love 1 : Kunjungan bakti sosial ke-4 panti asuhan di Depok dan Bogor

Dreamdelion mengawali kegiatan Share the Love dengan mengunjungi panti asuhan di Depok dan Bogor. Kegiatan yang dilakukan pada 18 Agustus 2013 merupakan acara pertama dari program Share the Love. Kegiatan ini dilakukan ke empat yayasan atau panti asuhan yaitu Panti Asuhan Bina Umat Depok, Panti Asuhan Darussalam Depok, Panti Asuhan Al-Asyar Depok, dan Panti Asuhan Yatim Online Bogor. Pada Share the Love yang pertama, Dreamdelion mengajak anak-anak panti untuk menumbuhkan kepedulian, kasih sayang, pentingnya tolong menolong antar sesama, dan rasa syukur. Berbagai kegiatan juga dilakukan di panti asuhan, mulai dari berkenalan, pemberian motivasi, games, dan lainnya. Dalam kunjungan ini Dreamdelion memberikan bantuan berupa peralatan sekolah untuk meningkatkan semangat belajar mereka.

Share the love 2 : Kunjungan ke Yayasan Kanker Anak

Share the Love yang ke-2 dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2014. Dreamdelion mengadakan kunjungan ke dua yayasan kanker anak, yaitu Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) dan Yayasan Anyo Indonesia (YAI). Kedatangan Dreamdelion kali ini bertujuan untuk saling mengasihi dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak penderita kanker.

Pada kunjungan kali ini, pertama dilakukan ke YKAKI yang terdiri dari berbagai anak-anak penderita jenis kanker. Dalam kesempatan kali ini, Dreamdelion mengadakan kegiatan seperti menghias roti dan membuat medali cita-cita yang ditulis di kertas karton. Anak-anak sangat bersemangat menuliskan cita-citanya di atas kartonnya masing-masing. Hal ini dilakukan untuk memotivasi anak-anak penderita kanker agar tetap mempunyai harapan dan cita-cita.

“Dalam acara kali ini, saya mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dari anak-anak penderita kanker,” ungkap Ghea salah satu partisipan acara. Tak lupa, Dreamdelion juga memberikan bantuan berupa uang tunai kepada anak-anak penderita kanker.

Setelah bermain bersama dengan anak-anak penderita kanker di YKAKI, kemudian acara dilanjutkan ke YAI. Di sana, Dreamdelion juga memberikan bantuan berupa uang tunai untuk anak-anak penderita kanker.

 

Share the Love 3 : Kegiatan di Lapas Anak

Dalam Share the Love 3 yang dilaksanakan pada 19 Juli 2014, Dreamdelion mendatangi Lapas Anak Pria Tangerang (Laprita). Dreamdelion ingin berbagi kebahagiaan kepada anak-anak lapas yang terkadang dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak. Acara ini diadakan di aula yang dipenuhi oleh 200-an anak penghuni Laprita. Mereka berumur 14-20 tahun dan rata-rata terjerat kasus narkoba. Walaupun begitu, mereka tetap menunjukkan yang baik untuk keinginan berubah.

Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Ketua Acara, CEO Dreamdelion, dan Ketua Lapas. Suasana yang awalnya cukup kaku dan tegang berubah menyenangkan setelah beberapa anak Lapas unjuk kebolehan dengan dua lagunya yang ditampilkan oleh band Laprita. “Penampilan mereka itu keren! Aku nggak nyangka ternyata mereka itu punya bakat di luar alasan mereka ada di lapas,” begitulah tanggapan positif dari Ana setelah melihat penampilan anak-anak Lapas.

Sebagai penutup acara, Dreamdelion membagikan parsel untuk semua partner yang bekerjasama dalam acara Share The Love 3. Ada Yayasan Tunas Bangsa, Berbagi Nasi, MUSA, Enigami, dan para donatur. Ada juga bantuan kepada anak-anak Laprita berupa sarung, peci, pouch dan surat-surat, alat-alat olahraga, dan buku-buku.

Share the Love 4: With the Street Children

Dalam Share the Love 4 Dreamdelion mengadakan acara With the Street Children bersama anak-anak jalanan dengan mengusung tema “Show our Care to Street Children. Acara kali ini berlangsung pada 5 Juli 2015 di Taman Impian Jaya Ancol yang diikuti 500 anak jalanan dari 5 kota, yaitu Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Makasar dan Garut. Acara yang diadakan serempak di 5 kota ini memiliki tujuan untuk menghidupkan mimpi anak-anak jalanan.

“Kami telah melihat banyak anak jalanan di kota besar yang sangat minim akses terhadap pendidikan. Hal ini lah yang melatarbelakangi kami mengadakan acara Share the Love 4 bersama anak-anak jalanan,” kata Naafi selaku panitia acara tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, Dreamdelion memberikan motivasi kepada anak-anak jalanan agar tetap bersemangat untuk belajar dan menggapai masa depan gemilang. Tidak hanya itu, pada acara ini diadakan juga penayangan film pendek, belajar bersama, educational games, aksi sosial, Draw Our Dream, motivational speech, dan lainnya.

Di balik kesuksesan acara ini, ada bantuan dan kerjasama dari komunitas Save Street Children, Berbagi Nasi, Sekolah Rakyat Ancol, serta kerelaan hati para donatur yang memberikan bantuan berupa alat-alat sekolah.

Share the Love 5: With LVRI 

Pada tanggal 26 November 2016, Share the Love berkesempatan mengunjungi LVRI. Pada acara Share the Love kali ini, opa oma veteran berbagi pengetahuan kepada anak-anak sanggar Dreamdelion cerdas.

Written by: Nisrina Putri | Photo by: Faisal Muhammad

Pasar Tenun Rakyat, Upaya Agar Kain Tenun Lurik Semakin Dilirik

Pasar Tenun Rakyat, Upaya Agar Kain Tenun Lurik Semakin Dilirik

Apa yang terlintas dalam benak teman-teman ketika membaca kata “tenun”? Barangkali kain songket atau ulos menjadi kata pertama yang muncul. Tapi tahukah teman-teman bahwa Yogyakarta juga memiliki tradisi tenun?

Yap, namanya adalah tenun lurik.

Dusun Sejati Desa di Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta merupakan salah satu desa yang masih meneruskan tradisi tenun lurik ini. Secara lebih spesifik, hasil tenun dari desa ini adalah stagen. Stagen merupakan kain kecil dan panjang yang dipakai wanita untuk mengencangkan perut dan membentuk postur tubuh.

Sejak 2013, Dusun Sejati Desa menjadi fokus tempat pemberdayaan Dreamdelion di Yogyakarta. Pengembangan potensi tenun lurik ini dimulai ketika Dreamdelion menyadari adanya kerusakan lingkungan di area sekitar sungai Progo. Dusun Sejati Desa adalah salah satu wilayah dampaknya.

Sebuah konsep rainbow stagen tercetus untuk membuat tenun lurik menjadi lebih dilirik oleh generasi masa kini. Kemudian usulan untuk menggunakan pewarna dengan bahan alam muncul. Pada akhirnya, Dreamdelion berinisiatif untuk menjadikan Desa Sumberarum sebagai sebuah desa wisata, yaitu Rainbow Village. Harapannya tentu saja agar masyarakat mengurangi aktivitas penambangan, pendapatan masyarakat meningkat dari hasil tenun, dan menjaga tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Dreamdelion bekerjasama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility- Small Grant Programme), Terasmitra, dan JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID, mengadakan Pasar Tenun Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkampanyekan budaya tenun di Indonesia dan menyambut dibukanya desa wisata di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Dreamdelion juga ingin Sejati Desa dapat berkembang secara mandiri dalam sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan, semakin terbuka lebar. Pasar Tenun Rakyat ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 April 2016.

Konsep utama Pasar Tenun Rakyat adalah tinggal di desa wisata sambil belajar kebudayaan. Tidak hanya tenun, tetapi juga kesenian yang lainnya. Meski demikian, sejak Februari, telah diadakan berbagai acara tidak kalah menariknya. Ada dua pameran tentang tenun yang diadakan di Yogyakarta dan Jakarta, juga ada kompetisi photowalk yang diadakan di Dusun Sejati Desa. Rangkaian pre-event berhasil mencuri banyak perhatian publik. Hal ini terbukti pula dengan jumlah peserta yang mendaftar untuk Pasar Tenun Rakyat, yaitu sekitar 50 orang yang sebagian besar berasal dari wilayah Yogyakarta.

Sesuai dengan temanya, “Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity, Dreamdelion ingin mengajak para peserta untuk merasa bahagia dalam kesederhanaan. Selama dua hari satu malam, peserta belajar budaya sekaligus merasakan suasana pedesaan yang membuat tentram.

Dreamdelion mengajak peserta untuk melihat lebih dekat keindahan alam dan keseharian penduduk Sejati Desa. Peserta juga mendapat kesempatan untuk melihat langsung upacara Baritan, yaitu bentuk syukuran selepas panen padi.

Salah satu bagian yang paling menarik dari acara ini adalah sensasi belajar langsung dari para ahlinya. Tidak hanya tentang tenun, peserta juga diajak untuk belajar kesenian dan keterampilan yang lain. Beberapa workshop yang ditawarkan adalah workshop menenun di hari pertama. Ada pula workshop Tiedye dan Crafting dengan bahan kain tenun di hari kedua. Sementara itu, peserta juga belajar seni gamelan Jawa dan tarian Jawa yang diadakan pada malam hari pertama.

Pasar Tenun Rakyat merupakan cara Dreamdelion untuk berkontribusi menjaga kebudayaan bangsa. Tidak hanya untuk membuat tenun lurik semakin dilirik, tetapi juga menjadikan desa wisata ini sebagai cara untuk melestarikan budaya dan alam sekitar kita.

Ditulis oleh: Nisrina Putri | Foto oleh: Doni Dwitama & Yosua Pelamonia

Pasar Tenun Rakyat: Agar Tenun Lurik Semakin Dilirik

 Apa yang terlintas dalam benak teman-teman ketika membaca kata “tenun”? Barangkali kain songket atau ulos menjadi kata pertama yang muncul. Tapi tahukah teman-teman bahwa Yogyakarta juga memiliki tradisi tenun?

Yap, namanya adalah tenun lurik.

Dusun Sejati Desa di Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta merupakan salah satu desa yang masih meneruskan tradisi tenun lurik ini. Secara lebih spesifik, hasil tenun dari desa ini adalah stagen. Stagen merupakan kain kecil dan panjang yang dipakai wanita untuk mengencangkan perut dan membentuk postur tubuh.

Sejak 2013, Dusun Sejati Desa menjadi fokus tempat pemberdayaan Dreamdelion di Yogyakarta. Pengembangan potensi tenun lurik ini dimulai ketika Dreamdelion menyadari adanya kerusakan lingkungan di area sekitar sungai Progo. Dusun Sejati Desa adalah salah satu wilayah dampaknya.

Sebuah konsep rainbow stagen tercetus untuk membuat tenun lurik menjadi lebih dilirik oleh generasi masa kini. Kemudian usulan untuk menggunakan pewarna dengan bahan alam muncul. Pada akhirnya, Dreamdelion berinisiatif untuk menjadikan Desa Sumberarum sebagai sebuah desa wisata, yaitu Rainbow Village. Harapannya tentu saja agar masyarakat mengurangi aktivitas penambangan, pendapatan masyarakat meningkat dari hasil tenun, dan menjaga tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Dreamdelion bekerjasama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility- Small Grant Programme), Terasmitra, dan JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID, mengadakan Pasar Tenun Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkampanyekan budaya tenun di Indonesia dan menyambut dibukanya desa wisata di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Dreamdelion juga ingin Sejati Desa dapat berkembang secara mandiri dalam sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan, semakin terbuka lebar. Pasar Tenun Rakyat ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 April 2016.

Konsep utama Pasar Tenun Rakyat adalah tinggal di desa wisata sambil belajar kebudayaan. Tidak hanya tenun, tetapi juga kesenian yang lainnya. Meski demikian, sejak Februari, telah diadakan berbagai acara tidak kalah menariknya. Ada dua pameran tentang tenun yang diadakan di Yogyakarta dan Jakarta, juga ada kompetisi photowalk yang diadakan di Dusun Sejati Desa. Rangkaian pre-event berhasil mencuri banyak perhatian publik. Hal ini terbukti pula dengan jumlah peserta yang mendaftar untuk Pasar Tenun Rakyat, yaitu sekitar 50 orang yang sebagian besar berasal dari wilayah Yogyakarta.

Sesuai dengan temanya, “Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity, Dreamdelion ingin mengajak para peserta untuk merasa bahagia dalam kesederhanaan. Selama dua hari satu malam, peserta belajar budaya sekaligus merasakan suasana pedesaan yang membuat tentram.

Dreamdelion mengajak peserta untuk melihat lebih dekat keindahan alam dan keseharian penduduk Sejati Desa. Peserta juga mendapat kesempatan untuk melihat langsung upacara Baritan, yaitu bentuk syukuran selepas panen padi.

Salah satu bagian yang paling menarik dari acara ini adalah sensasi belajar langsung dari para ahlinya. Tidak hanya tentang tenun, peserta juga diajak untuk belajar kesenian dan keterampilan yang lain. Beberapa workshop yang ditawarkan adalah workshop menenun di hari pertama. Ada pula workshop Tiedye dan Crafting dengan bahan kain tenun di hari kedua. Sementara itu, peserta juga belajar seni gamelan Jawa dan tarian Jawa yang diadakan pada malam hari pertama.

Pasar Tenun Rakyat merupakan cara Dreamdelion untuk berkontribusi menjaga kebudayaan bangsa. Tidak hanya untuk membuat tenun lurik semakin dilirik, tetapi juga menjadikan desa wisata ini sebagai cara untuk melestarikan budaya dan alam sekitar kita.

Written by : Nisrina Putri | Photo Contributor : Doni Dwitama & Yoshua Pelamonia

Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

“Menenun adalah kerja budaya. Mereka sebagai warga Indonesia berhak hidup layak. Dengan mendukung gerakan ini, akan berdampak bagi berbagai pihak, diantaranya mendukung gerakan lokal.”

 

Pernyataan tersebut dituturkan oleh Paulina Dinar Tisti dari Bentara Budaya Jakarta dalam konferensi pers Cerita Tenun Tangan tanggal 15 Maret 2016 di Bentara Budaya Jakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula Ibu Catharina Dwihastarini (GEF-SGP), Mama Yovita (Yayasan Thafen Pah), dan Mbak Adinindyah (House of Lawe).

Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap kehadiran pameran Stagen: Start Again, membuat Dreamdelion ingin membagikan semangat yang sama ke tempat baru. Dreamdelion, bersama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility-Small Grant Programme), Terasmitra, JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID,  Poros, dan Bentara Budaya Jakarta, membawa kisah tenun ini ke Jakarta. Yap, sebenarnya ini adalah pameran yang tidak direncanakan sebelumnya.

Cerita Tenun Tangan ini diadakan di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 15 Maret hingga 20 Maret 2016. Pameran ini mengangkat tema Weaving for Life, yaitu bagaimana tenun memiliki dampak yang sangat besar dalam hidup para penenunnya.

Tidak hanya tenun stagen dari Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, yang disajikan dalam Cerita Tenun Rakyat, ada pula tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan 3 Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), juga ada tenun dari Biboki, Timor Tengah Utara (TTU). Keberadaan tenun di masing-masing wilayah ini memiliki makna yang menarik untuk dipahami. Ada kisah, nilai, dan budaya yang tersimpan dalam tiap helai benangnya. Maka dari itu, pameran kali ini diberi nama Cerita Tenun Tangan.

Lain daerah, lain pula cerita di balik lembaran warna-warni kain tenunnya. Di Mollo, Amanatun, dan Amanuban, hasil tenun dapat menjadi sumber penghasilan dan merupakan cara untuk mengusir tambang marmer. Ada pula kisah dari Moyudan, Yogyakarta, yang menjadikan tenun sebagai upaya untuk mengurangi kegiatan penambangan pasir di sungai Progo. Kegiatan penambangan pasir ini secara nyata telah merusak ekosistem alam di desa. Sementara itu, hasil penjualan tenun di Biboki telah digunakan untuk misi regenerasi dan beasiswa anak-anak Biboki. Sungguh menarik, bukan, menyimak cerita tenun dari masing-masing daerah?

Pameran ini tidak hanya menyajikan hasil jadi tenun tangan, tetapi juga menghadirkan beberapa alat tenun yang dapat dicoba langsung oleh para pengunjung. Para penenun asli dari Yogyakarta dan Timor Tengah Utara datang juga untuk mengajari para pengunjung cara menggunakan alat tenunnya. Hasil jadi tenun tangan ini juga dipamerkan sekaligus dijual, seperti tas, dompet, baju hingga boneka. Keuntungan penjualan ini kembali ke para penenun dan pengrajin pembuat produk di Terasmitra dan GEF-SGP, lho. Selain itu, ada pula kelas kerajinan tangan yang diadakan tiap hari. Kelas kerajinan tangan ini mengajak pengunjung untuk membuat bros, jepit rambut, dan pouch cantik dari kain tenun.

Ada pula Talkshow “Eksistensi Tenun Dulu dan Sekarang” yang diadakan pada hari kedua pameran, 16 Maret 2016. Tidak tanggung-tanggung, narasumber talkshow ini adalah Didiet Maulana, desainer terkenal dari The Ikat Indonesia, Yovita Meta Basin dari Yayasan Taefan Pah, dan Adinindyah dari House of Lawe. Perbincangan ini membahas tentang minat generasi muda terhadap kerajinan tenun dan permasalahan terkait pemasaran hasil jadi tenun itu sendiri. Masih di hari yang sama, digelar pula Fashion Show dengan tema “Aplikasi Kain Tenun dalam Berbusana”.

Pertunjukan seni dan musik membuat Cerita Tenun Tangan semakin berwarna. Ada Daniel dari sanggar Sakti Dance Company dan pertunjukan musik Sasando oleh Djitron Pah yang membuka hari pertama pameran. Teater “Main Dulu, Main Sekarang” dari Sanggar Bias hadir pula mengisi di hari ketiga. Selain itu masih ada pertunjukan musik Jimbe dari Yayasan Ciliwung Merdeka.

Kemeriahan Cerita Tenun Rakyat ini juga ditambah dengan kontes foto Cerita Tenun Tangan yang diadakan setiap hari. Caranya sederhana, cukup unggah foto tentang acara Weaving For Life, lalu tag 3 orang teman di Instagram.

Seru sekali, bukan?

Jauh di luar dugaan, Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta ini disambut hangat oleh lebih banyak orang dan lebih banyak media. Bahkan di hari terakhir, sudah ada lebih dari 500 pengunjung dalam pameran Weaving for Life! Tidak hanya itu, Dewi Motik, Frans Hartono, dan Nina Tamam turut hadir mengisi rangkaian kegiatan dalam pameran ini. Rasanya segala usaha dan kerja keras tuntas terbayarkan oleh tanggapan positif yang diberikan masyarakat.

Written by : Nisrina Putri | Photo by : Evaulia Nindya

Menenun untuk Kehidupan: Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

“Menenun adalah kerja budaya. Mereka sebagai warga Indonesia berhak hidup layak. Dengan mendukung gerakan ini, akan berdampak bagi berbagai pihak, diantaranya mendukung gerakan lokal.”

 

Pernyataan tersebut dituturkan oleh Paulina Dinar Tisti dari Bentara Budaya Jakarta dalam konferensi pers Cerita Tenun Tangan tanggal 15 Maret 2016 di Bentara Budaya Jakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula Ibu Catharina Dwihastarini (GEF-SGP), Mama Yovita (Yayasan Thafen Pah), dan Mbak Adinindyah (House of Lawe).

Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap kehadiran pameran Stagen: Start Again, membuat Dreamdelion ingin membagikan semangat yang sama ke tempat baru. Dreamdelion, bersama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility-Small Grant Programme), Terasmitra, JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID,  Poros, dan Bentara Budaya Jakarta, membawa kisah tenun ini ke Jakarta. Yap, sebenarnya ini adalah pameran yang tidak direncanakan sebelumnya.

Cerita Tenun Tangan ini diadakan di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 15 Maret hingga 20 Maret 2016. Pameran ini mengangkat tema Weaving for Life, yaitu bagaimana tenun memiliki dampak yang sangat besar dalam hidup para penenunnya.

Tidak hanya tenun stagen dari Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, yang disajikan dalam Cerita Tenun Rakyat, ada pula tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan 3 Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), juga ada tenun dari Biboki, Timor Tengah Utara (TTU). Keberadaan tenun di masing-masing wilayah ini memiliki makna yang menarik untuk dipahami. Ada kisah, nilai, dan budaya yang tersimpan dalam tiap helai benangnya. Maka dari itu, pameran kali ini diberi nama Cerita Tenun Tangan.

Lain daerah, lain pula cerita di balik lembaran warna-warni kain tenunnya. Di Mollo, Amanatun, dan Amanuban, hasil tenun dapat menjadi sumber penghasilan dan merupakan cara untuk mengusir tambang marmer. Ada pula kisah dari Moyudan, Yogyakarta, yang menjadikan tenun sebagai upaya untuk mengurangi kegiatan penambangan pasir di sungai Progo. Kegiatan penambangan pasir ini secara nyata telah merusak ekosistem alam di desa. Sementara itu, hasil penjualan tenun di Biboki telah digunakan untuk misi regenerasi dan beasiswa anak-anak Biboki. Sungguh menarik, bukan, menyimak cerita tenun dari masing-masing daerah?

Pameran ini tidak hanya menyajikan hasil jadi tenun tangan, tetapi juga menghadirkan beberapa alat tenun yang dapat dicoba langsung oleh para pengunjung. Para penenun asli dari Yogyakarta dan Timor Tengah Utara datang juga untuk mengajari para pengunjung cara menggunakan alat tenunnya. Hasil jadi tenun tangan ini juga dipamerkan sekaligus dijual, seperti tas, dompet, baju hingga boneka. Keuntungan penjualan ini kembali ke para penenun dan pengrajin pembuat produk di Terasmitra dan GEF-SGP, lho. Selain itu, ada pula kelas kerajinan tangan yang diadakan tiap hari. Kelas kerajinan tangan ini mengajak pengunjung untuk membuat bros, jepit rambut, dan pouch cantik dari kain tenun.

Ada pula Talkshow “Eksistensi Tenun Dulu dan Sekarang” yang diadakan pada hari kedua pameran, 16 Maret 2016. Tidak tanggung-tanggung, narasumber talkshow ini adalah Didiet Maulana, desainer terkenal dari The Ikat Indonesia, Yovita Meta Basin dari Yayasan Taefan Pah, dan Adinindyah dari House of Lawe. Perbincangan ini membahas tentang minat generasi muda terhadap kerajinan tenun dan permasalahan terkait pemasaran hasil jadi tenun itu sendiri. Masih di hari yang sama, digelar pula Fashion Show dengan tema “Aplikasi Kain Tenun dalam Berbusana”.

Pertunjukan seni dan musik membuat Cerita Tenun Tangan semakin berwarna. Ada Daniel dari sanggar Sakti Dance Company dan pertunjukan musik Sasando oleh Djitron Pah yang membuka hari pertama pameran. Teater “Main Dulu, Main Sekarang” dari Sanggar Bias hadir pula mengisi di hari ketiga. Selain itu masih ada pertunjukan musik Jimbe dari Yayasan Ciliwung Merdeka.

Kemeriahan Cerita Tenun Rakyat ini juga ditambah dengan kontes foto Cerita Tenun Tangan yang diadakan setiap hari. Caranya sederhana, cukup unggah foto tentang acara Weaving For Life, lalu tag 3 orang teman di Instagram.

Seru sekali, bukan?

Jauh di luar dugaan, Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta ini disambut hangat oleh lebih banyak orang dan lebih banyak media. Bahkan di hari terakhir, sudah ada lebih dari 500 pengunjung dalam pameran Weaving for Life! Tidak hanya itu, Dewi Motik, Frans Hartono, dan Nina Tamam turut hadir mengisi rangkaian kegiatan dalam pameran ini. Rasanya segala usaha dan kerja keras tuntas terbayarkan oleh tanggapan positif yang diberikan masyarakat.

Written by : Nisrina Putri | Photo by : Evaulia Nindya

Stagen: Start Again to Preserve the Beautiful and Unique Indonesian Culture

Stagen: Start Again to Preserve the Beautiful and Unique Indonesian Culture

Sesederhana nama yang diberikan “Stagen: Start Again, Dreamdelion ingin memulai kembali tradisi tenun yang terancam hilang. Dreamdelion ingin eksistensi tenun, terutama tenun stagen di Yogyakarta, bisa kembali naik dan mendunia. Untuk itulah Dreamdelion membuat pameran ini. Masih satu rangkaian dengan Pasar Tenun Rakyat, pameran “Stagen: Start Again” hadir sebagai upaya untuk membuat tenun lebih dikenal oleh kalangan luas.

Pameran Stagen: Start Again ini dilaksanakan pada awal tahun 2016, yaitu 13-17 Februari 2016. Acara ini merupakan sebuah kolaborasi antara Dreamdelion Yogyakarta dengan Jelajah Indi Komunikasi (JIKom), House of Lawe, serta dukungan penuh dari Global Environmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SGP).  Keberadaan pameran ini juga merupakan salah satu penyambutan dari dibukanya desa wisata pewarna alam (Rainbow Village) di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman.

“Menenun itu tidak susah hanya butuh telaten saat nyekir, proses awal menggulung benang.”

– Mbak Jimah.

Dreamdelion berusaha untuk mendekatkan para pengunjung dengan tenun, untuk kemudian membuat semakin banyak orang yang jatuh cinta dengannya. Pameran ini mengeksplorasi tenun, mulai dari perkembangan alat tenun yang digunakan, proses pewarnaannya, hingga aneka ragam hasil jadi olahannya. Ada stagen polos untuk ikat perut setelah melahirkan, stagen warna, dan kreasi kain lurik dalam bentuk tas, jam tangan, dan sepatu.

Tidak hanya pameran, Dreamdelion juga mengundang Mbak Jimah (45) dan Mbak Sumirah (34), para penenun rainbow stagen dari Desa Sumberarum. Pengunjung dapat belajar menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) kepada para penenun ini. Dalam pameran ini, beberapa gambar penenun dari luar Yogyakarta dipajang. Ada dari suku Molo, Amantun dan Amanuban, Timur Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Agar acara ini semakin menarik, Dreamdelion juga mengadakan kompetisi foto di Instagram. Para pengunjung pameran ini ditantang untuk mengunggah foto-foto mereka selama pameran. Tiap harinya, dipilih satu orang pemenang yang mendapatkan bingkisan menarik dari panitia.

Para media yang hadir juga banyak untuk meliput dan mempromosikan kegiatan ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisara Kabupaten Sleman turut menyambut baik keberadaan pameran ini.

Semoga saja setelah kegiatan ini, akan ada lebih banyak orang yang terinspirasi untuk mencintai dan menjaga kebudayaan Indonesia. Tidak ada lagi orang-orang yang dengan mudahnya menawar harga rendah untuk sebuah kain tenun. Sebab sejak awal, tenun tidak semudah itu dibuat. Ini langkah awal Dreamdelion untuk memulai kembali menghidupkan tenun.

Written by: Nisrina Putri

Stagen: Start Again for a The Better Future

Sesederhana nama yang diberikan “Stagen: Start Again, Dreamdelion ingin memulai kembali tradisi tenun yang terancam hilang. Dreamdelion ingin eksistensi tenun, terutama tenun stagen di Yogyakarta, bisa kembali naik dan mendunia. Untuk itulah Dreamdelion membuat pameran ini. Masih satu rangkaian dengan Pasar Tenun Rakyat, pameran “Stagen: Start Again” hadir sebagai upaya untuk membuat tenun lebih dikenal oleh kalangan luas.

Pameran Stagen: Start Again ini dilaksanakan pada awal tahun 2016, yaitu 13-17 Februari 2016. Acara ini merupakan sebuah kolaborasi antara Dreamdelion Yogyakarta dengan Jelajah Indi Komunikasi (JIKom), House of Lawe, serta dukungan penuh dari Global Environmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SGP).  Keberadaan pameran ini juga merupakan salah satu penyambutan dari dibukanya desa wisata pewarna alam (Rainbow Village) di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman.

“Menenun itu tidak susah hanya butuh telaten saat nyekir, proses awal menggulung benang.”

– Mbak Jimah.

Dreamdelion berusaha untuk mendekatkan para pengunjung dengan tenun, untuk kemudian membuat semakin banyak orang yang jatuh cinta dengannya. Pameran ini mengeksplorasi tenun, mulai dari perkembangan alat tenun yang digunakan, proses pewarnaannya, hingga aneka ragam hasil jadi olahannya. Ada stagen polos untuk ikat perut setelah melahirkan, stagen warna, dan kreasi kain lurik dalam bentuk tas, jam tangan, dan sepatu.

Tidak hanya pameran, Dreamdelion juga mengundang Mbak Jimah (45) dan Mbak Sumirah (34), para penenun rainbow stagen dari Desa Sumberarum. Pengunjung dapat belajar menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) kepada para penenun ini. Dalam pameran ini, beberapa gambar penenun dari luar Yogyakarta dipajang. Ada dari suku Molo, Amantun dan Amanuban, Timur Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Agar acara ini semakin menarik, Dreamdelion juga mengadakan kompetisi foto di Instagram. Para pengunjung pameran ini ditantang untuk mengunggah foto-foto mereka selama pameran. Tiap harinya, dipilih satu orang pemenang yang mendapatkan bingkisan menarik dari panitia.

Para media yang hadir juga banyak untuk meliput dan mempromosikan kegiatan ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisara Kabupaten Sleman turut menyambut baik keberadaan pameran ini.

Semoga saja setelah kegiatan ini, akan ada lebih banyak orang yang terinspirasi untuk mencintai dan menjaga kebudayaan Indonesia. Tidak ada lagi orang-orang yang dengan mudahnya menawar harga rendah untuk sebuah kain tenun. Sebab sejak awal, tenun tidak semudah itu dibuat. Ini langkah awal Dreamdelion untuk memulai kembali menghidupkan tenun.

Written by : Nisrina Putri

Merekam Cerahnya Warna-Warni Rainbow Village yang Bersejarah

Merekam Cerahnya Warna-Warni Rainbow Village yang Bersejarah

“The two most enganging powers of a photograph are to make new things familiar and familiar things new.” – William Thackeray.

Pada tanggal 7 Februari 2016, Dreamdelion di Yogyakarta mengadakan kompetisi Photowalk. Kegiatan ini adalah bagian dari pre event Pasar Tenun Rakyat.  Mengangkat tema yang sama, “Weaving for Life”, Dreamdelion mengajak pecinta fotografi untuk menyusuri dusun Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Yogyakarta.

Hujan deras mengawali persiapan keberangkatan bersama para peserta di hari Minggu pagi. Meski demikian, 60 orang peserta tetap terlihat bersemangat untuk hadir dan berkumpul di GSP UGM.  Sebagai informasi, peserta berasal dari berbagai latar belakang, dari pelajar hingga karyawan. Ada pula beberapa komunitas yang berada di Yogyakarta, seperti Dagelan Mataram, lho!

Begitu tiba di lokasi, peserta berkumpul di Joglo Pelangi, sebuah tempat luas yang biasa digunakan untuk berkumpul warga. Perkenalan dan sejarah Rainbow Village menjadi kegiatan pertama. Kemudian, panitia membagi para peserta menjadi beberapa kelompok kecil. Kelompok kecil ini akan dipandu oleh seorang pemuda desa untuk berkeliling desa dan mengambil gambar suasana desa.

Warga desa begitu antusias dan menyambut hangat kehadiran para peserta. Mereka tak ragu membiarkan para peserta mengambil gambar dari kegiatan menenun dan aktivitas sehari-hari yang lainnya. Para peserta juga ditawari aneka hasil kebun mereka, seperti buah rambutan. Ada pula hasil olahannya yang lain seperti singkong, tahu bacem, tempe mendoan, kacang rebus, arem-arem, dan pisang. Sebisa mungkin, acara ini berusaha membuat para peserta dapat merasakan suasana pedesaan yang menyenangkan.

“Saya merasa senang bisa mengikuti acara ini. Saya bisa memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru seputar proses menenun. Tenun yang dihasilkan warga Sejati Desa merupakan salah satu produk lokal Indonesia yang harus dilestarikan.”

Pernyataan diatas dikemukakan oleh Iza, seorang siswa SMA Negeri di Yogyakarta, yang juga merupakan peserta Photowalk ini. Masih ada wajah-wajah antusias dan bahagia yang nampak dari para peserta.

Peserta juga dapat membeli kain hasil tenun warga desa di acara ini. Rainbow stagen yang berukuran mirip syal ini banyak menarik perhatian peserta. Ibu Sumirah, salah seorang warga Sejati Desa sekaligus penenun, tampak sumringah melihat antusiasme peserta saat bertanya, memotret, juga membeli hasil tenunnya.

Pada pukul 12.00 WIB atau tepat tengah hari. Peserta kembali berkumpul di Joglo Pelangi untuk beristirahat dan mengikuti beberapa kuis berhadiah. Agenda foto bersama menutup rangkaian kegiatan Photowalk ini.

Proses penjurian dilakukan melalui penilaian postingan di Instagram untuk hasil foto sepanjang kegiatan Photowalk ini. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah membuat foto-foto ini menjadi viral dan dilihat oleh banyak orang. Sehingga akan semakin banyak orang mengetahui keberadaan tenun lurik di Rainbow Village. Dreamdelion menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu media promosi keberadaan agenda utama Pasar Tenun Rakyat, yaitu Live in.

Ingin berkunjung ke Sejati Desa tapi belum tahu alamatnya dimana? Feel free to ask us! #WeavingForLife: Kalau bukan kita yang menjaga budaya, siapa lagi?

Written by: Nisrina Putri | Photo by: Randitya A

× Mari berkolaborasi!