Mr. Podcast Indonesia Berbagi Prespektif tentang Personal Branding

Mr. Podcast Indonesia Berbagi Prespektif tentang Personal Branding

“Jadi, apa itu branding?” tanya Kak Iqbal di awal acara.

First impression,” jawaban dari Uwi, teman yang duduk di samping saya.

“Identitas diri,” jawaban dari Bagus, project leader Dreamelion Cianjur.

“Yang menjadi pembeda kita dengan yang lain (competitive advantage),” jawaban dari Hendro  yang duduk di seberang meja saya.

Sejujurnya, sebelumnya saya adalah orang yang skeptis jika menyangkut tentang mempromosikan diri. Dengan berkembangnya berbagai media sosial yang mempu menjadi sarana untuk mengaktualisasikan berbagai hal, saya berprinsip bahwa ada batasan yang harus dibuat agar apa yang dapat dilihat dan diketahui khalayak umum tidak melangkahi ranah privacy. Terdengar old style? Ya, itulah pemikiran saya tentang branding sebelum saya mengikuti sesi Mentoring 1 untuk Intern Dreamdelion Cianjur dan Jakarta bersama Iqbal Hariadi, Marketing Manager kitabisa.com.

Dulu saya menganggap bahwa branding itu bullshit, tak lebih dari kesan yang sengaja dibangun untuk meningkatkan impresi dari target pasar big companies sehingga produk mereka semakin laku. Apalagi melihat semakin berkembangnya branding negatif dengan prinsip “it’s good to be bad” yang diusung oleh para selebgram yang lagi nge-hits, membuat saya semakin tak percaya bahwa branding bisa digunakan untuk kebaikan. Satu hari mentoring pada Sabtu, 25 Maret 2017 berhasil menggoyahkan kepercayaan saya. Topik pada hari itu mampu menggeser cara berpikir saya untuk melihat sisi lain dari branding yang berhasil dibawakan secara apik oleh sang Mr. Podcast Indonesia.

Dengan niat yang baik untuk berbagi atau berkarya, social media bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menyebarkan kebaikan dan meningkatkan ketrampilan diri. Terutama untuk membangun citra diri ingin dikenal sebagai sosok yang seperti apa. Fokus pada satu atau dua media sosial yang paling sering digunakan, mulai dengan membagikan hal-hal yang terkait dengan minat pribadi atau keresahan yang kita rasakan dan ingin dibagi. The little things around yang mampu mengusik hati dan pikiran kita sehari-hari.

Bentuk lainnya adalah melalui berkarya sesuai passion. Tak perlu takut untuk terlihat jelek karena karya awal itu pasti jelek, hajar saja ketakutan yang ada. Itulah langkah awal yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya lain hingga pada akhirnya mengghasilkan karya besar yang lebih berkualitas. “Banyak yang mencemooh atau tak suka? Bisa jadi itu hanya pelampiasan rasa iri mereka,” kata Kak Alia, sang founder Dreamdelion. “Cukup temukan satu orang yang sepaham dan tulus mendukung kita,” kata Kak Iqbal, “pada akhirnya hal tersebut cukup untuk memacu dan menjadi bahan bakar semangat kita.”

Sisi lain dari branding selanjutnya adalah ia bisa dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan masalah sosial. Dikaitkan dengan dunia start-up dan social enterprise yang sedang berkembang, akan lebih mudah bagi orang awam untuk berpartisipasi dalam berbagai campaign di media sosial jika branding dari organisasi yang menyelenggarakan sudah cukup dikenal luas. Untuk mencapai pada titik bahwa branding kita diterima oleh masyarakat tentu membutuhkan waktu dan usaha yang persistence. Dengan melakukan eksperimen dan learning, serta mindset yang tough, hal tersebut merupakan kunci untuk growing and getting better.

Kini saya mengerti bahwa branding tidak melulu untuk meningkatkan follower ataupun buyer. Lebih dari itu, branding adalah personal statement yang mampu menunjukkan value yang kita punya dan ingin kita bagi. Baik atau buruk bentuknya, hal tersebut adalah pilihan atas strategi yang bisa digunakan. Namun, pada akhirnya niat baik akan membawa kebaikan lebih mudah tersebar bukan?

Written by: Putri Wulandari | Photo by: Putri Wulandari | Editor: Bagus A

Serunya Menjalani Waktu Akhir Pekan dengan Dreamdelion Cianjur

Serunya Menjalani Waktu Akhir Pekan dengan Dreamdelion Cianjur

Malu-malu tapi seru, itulah kesan yang terlihat dari ekspresi para murid SMP Tunas Bangsa ketika mengikuti serangkaian games dan sesi berbincang dengan tim Dreamdelion Cianjur pada Sabtu, 11 Maret 2017. Walaupun cuaca pada hari itu cukup mendung dan rintik hujan menemani, semangat dan antusias mereka cukup untuk mencerahkan suasana. Bermain dengan adik-adik kelas 7 dan 9 yang berasal dari sekitar Puncak Simun tersebut mampu menjadi recharge buat saya.

Dimulai dengan games berkenalan yang menjadi pembuka untuk lebih mengenal satu sama lain dan mencairkan suasana. Lalu dilanjutkan dengan membagi ke dalam beberapa kelompok yang mana setiap kelompok terdapat kakak pendamping dari tim Dreamdelion untuk membuat yel-yel. Dengan kelompok tersebut juga akhirnya kami mengikuti games selanjutnya yang seru dan cukup membutuhkan kerja sama dalam kelompok. Kebetulan, saya bersama Yogi yang tergabung dengan adik-adik di kelompok Tiluk (“tiluk” adalah padanan bahasa Sunda dari “tiga”), kami berhasil memenangkan permainan tersebut.

Kegiatan selanjutnya adalah berbincang dengan adik-adik, saya dan Yogi mencoba untuk menggali lebih dalam tentang hobi, cita-cita, serta keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memiliki hobi membaca, menggambar, bermain gitar, dan balap liar. Dua anak laki-laki yang mengaku suka melakukan balap liar cukup mengusik keingintahuan saya untuk menggali lebih dalam terhadap hobi mereka yang terdengar kurang positif. Bahkan ketika saya meminta mereka untuk menceritakan pengalaman yang paling berkesan, salah satunya mengatakan bahwa ia hampir mengalami kecelakaan ketika sedang kebut-kebutan di jalanan. Kejujuran bahwa mereka tidak jera dengan kejadian tersebut membuat saya penasaran dengan cita-cita mereka.

Dua gadis yang berada di kelompok saya berkata ingin menjadi guru. Murid-murid yang lain ada yang ingin menjadi polisi, pemain bola, pengusaha. Lagi-lagi saya tertarik dengan dua anak yang hobi balap liar dan mereka mengatakan ingin melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM). Kesukaan mereka untuk mengutak-atik mesin motor lah yang menjadi motivasi untuk melanjutkan sekolah mereka ke jenjang tersebut.  Cara berpikir mereka yang belum terbuka membuat saya gatal untuk menjelaskan bahwa hobi mereka bisa ditekuni dengan cara yang lebih positif, bukan hanya untuk menggunakan motor secara ugal-ugalan tapi dengan pendidikan yang tepat dan passion yang disalurkan dengan benar bisa menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dari interaksi yang saya lakukan pada hari itu, saya bisa melihat bahwa siswa-siswi SMP Tunas Bangsa memiliki potensi untuk menjadi generasi yang lebih baik ke depannya. Terlepas dari berbagai permasalahan yang ada dan menjadi penghambat proses belajar, mereka memiliki cita-cita yang layak untuk diwujudkan. Wajah-wajah yang tadinya menunjukkan raut tak serius dan bodoh amat, seiring dengan beberapa cerita yang saya bagikan dan mereka resapi hingga mampu memunculkan gurat merenung dan berpikir ketika mereka memproses informasi tentang adanya sisi lain yang lebih baik jika mereka mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Momen singkat yang membuat saya yakin bahwa ada mimpi-mimpi yang patut untuk diperjuangkan.

Written by : Putri Wulandari | Photo by : Putri Wulandari

Editor : Bagus A

Membangun Langkah Awal yang Baik Bersama Dreamdelion Ngawi

Membangun Langkah Awal yang Baik Bersama Dreamdelion Ngawi

Dreamdelion, kata yang indah dan penuh makna bila kita mencermatinya. Awal dari semua ini adalah pada tanggal 2 Januari ketika aku bertemu seseorang yang hebat, Alia Noor Anoviar. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya. Dari perbincangan awal mengenai mimpiku masuk UGM hingga bahasan paling menarik tentang dreamdelion. Nah, aku mulai bertanya-tanya soal organisasi kemasyarakatan, potensi masyarakat, dan banyak hal yang bisa kupelajari dari semua itu. 

Sudah bertemu inspirator, tentunya harus ada tindakan real. Aku mengajak teman-temanku, dari temen sekelas sampai adik-adik kelas. Memang benar kata pepatah, bahwa mengajak demi kebaikan itu perjuangannya wow banget. Dari beberapa kelas yang berminat bergabung hanya 19 orang yang berminat. Tak apalah, itu sudah jumlah yang banyak. 

Untuk mengadakan suatu kegiatan tentu harus direncanakan, kami pun berdiskusi mengenai program vertikultur sesuai dengan saran dari kakak dreamdelion sebelumnya. Diskusi pertama memang hanya dihadiri 6 orang saja, yaitu aku (Herlina), Rina, Nindi, Nifta, Eksanti dan Icha. Sesuai program yang terencana, tanggal 9 – 11 Januari kami mengumpulkan tanah, pupuk, uang Rp2.000 (untuk membeli biji tanaman), dan juga per anak membawa botol ukuran 1,5 liter sebanyak 5. Wihhh.. Susah loh dapat botolnya. Karena kebanyakan dipakai bapak ibu ke sawah. Dan akhirnya tanggal 13 Januari kami siap bertempur, wew,, bertempur dengan pupuk kandang yang bau tentunya. 

Dalam gerimis dan sampai hujan deras, kami menanam biji sawi, kangkung dan juga bayam. Karena kami menghendaki hari itu jadi, ya bagaimana pun caranya harus berhasil. Bismillah kun fayakun. Jeng..jeng..jeng.. Hasil tak mengkhianati usaha kami. Vertikultur sederhana kami jadi dan banyak kritikan yang membangun dari bapak ibu guru. 

Hari berganti hari, biji tanaman kini telah tumbuh, kami rawat dengan baik dan tumbuh dengan sehat. Tanggal 24 Februari kami memanen sayuran dan memasaknya di kantin sekolah. Panen bareng, masak bareng, makan bareng, banyak deh yang bareng. Hehe.. Ya itulah sedikit cerita dari kami anak-anak SMK N 1 Paron, Ngawi. Bye.. 😊

Written by: Herlina

Antusiasme Menyambut Mahasiswa Luar Negeri di Sleman

Antusiasme Menyambut Mahasiswa Luar Negeri di Sleman

Cerita hari ini bermula ketika kami tiba-tiba menerima sebuah e-mail dari Singapore Management University yang ingin sekali berkunjung ke Sejatidesa, Sumberarum, Moyudan, Sleman untuk belajar mengenai social enterprise. E-mail itu kami terima kurang lebih satu minggu setelah launching website resmi kami. Tentu saja, tawaran itu mendapat sambutan baik dari kami dan warga desa. Warga desa sangat antusias mendengar kabar tersebut. Persiapan kami lakukan kurang lebih selama satu bulan. Mulai dari perencanaan paket wisata yang akan ditawarkan, kegiatan yang siap untuk dilaksanakan, perencanaan teknis, hingga pelaksanaan kegiatan di lapangan kami persiapkan dengan baik.

Meraka adalah sembilan mahasiswa Keio University yang sedang menjalankan short program di Singapore Management University, dua staf dari Lien Centre for Social Innovation dan dua pendamping dari Keio University.  Mereka melaksanakan kegiatan selama satu hari di Sejatidesa. Kegiatan di desa dimulai dengan pengenalan Kelompok Sadar Wisata Pelangi Progo yang dipimpin oleh Ketua Pokdarwis Pelangi Progo yaitu Bapak Sutikno. Selanjutnya, kami melakukan sharing session dengan Dreamdelion. Sesi ini dipimpin langsung oleh Alia Noor Anoviar selaku CEO Dreamdelion. Kami banyak membahas mengenai apa itu social enterprise dan apa saja yang telah dilakukan Dreamdelion di Sejatidesa. Kami sangat senang mengetahui bahwa mahasiswa tersebut juga ternyata sedang mempelajari social enterprise sehingga kami pun banyak belajar bersama mereka.

Setelah sesi sharing yang ditemani oleh segelas es dawet dan jajanan pasar, kami menyempatkan mengajak mereka untuk bermain gamelan bersama. Kami bermain gamelan di salah satu rumah warga. Para anak-anak yang sudah ahli memainkan gamelan pun bersemangat untuk ikut mengajari cara bermain gamelan kepada para pengunjung.

Setelah puas bermain gamenlan, kami melanjutkan agenda berikutnya yaitu natural tie dye. Kami berkolaborasi dengan Kotak Si Kuning untuk memperkenalkan natural tie dye kepada mereka.  Kami menjelaskan setiap proses yang harus dilakukan untuk membuat natural tie dye. Mereka sangat antusias menjalani setiap proses dalam pembuatan natural tie dye. Agenda ini ditutup dengan berfoto bersama dengan hasil karya tie dye yang telah selesai.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. kami menuju salah satu rumah warga untuk makan siang bersama. Menu makanan yang disediakan adalah gudeg (makanan khas Jogja). Kami menghabiskan waktu makan bersama dan mengakrabkan diri sambil melihat-lihat hasil produk tenun milik warga. Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan menenun. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok untuk mempelajari dan mempraktikkan secara langsung proses menenun dari awal hingga akhir. Awalnya, agak sulit bagi mereka terlihat kesulitan untuk melakukan proses menenun. Tetapi, mereka akhirnya bisa melakukan proses tersebut meski tidak terlalu lancar. Kami mengakhiri kegiatan hari itu dengan sesi kesan dan pesan serta pengumuman juara hasil tie dye terbaik yang telah dipilih oleh warga.

Ini adalah kali pertama warga mendapatkan kunjungan langsung dari. Adanya perbedaan tidak membuat mereka malu atau merasa rendah diri untuk menunjukkan potensi yang dimiliki oleh desa mereka. Baik mahasiswa maupun pendamping sangat terkesan dengan Sejatidesa. Salah satu perwakilan pengunjung bernama Christian mengatakan bahwa suasana di desa itu memberikan ketenangan baginya karena jauh dari riuh kesibukan di negaranya. Ia berpesan, budaya desa yang tradisional jangan sampai hilang karena itulah keunggulan yang dimilik desa tersebut.

Sejatidesa, 25 Februari 2017, bersama kawan-kawan Keio University dan Singapore Management University telah meambah satu lembar kisah dalam catatan harian kami. Masih banyak lembar yang menanti untuk diisi. Kepercayaan, semangat warga, serta ketulusan hati teman-teman untuk ikut mewujudkan mimpi warga Sejatidesa menjadi kekuatan kami untuk kembali menuliskan cerita pada lembar catatan harian kami selanjutnya.

So, We are ready for the next collaboration guys!

Written by: Nabila Aflaha