Dreamdelion

DreamTalks: Expand Community Engagement to Enlarge Good Impact

DreamTalks: Expand Community Engagement to Enlarge Good Impact

DreamTalks – Community and Youth Development merupakan proyek yang diinisiasi oleh Yayasan Dreamdelion Indonesia untuk mewadahi pengembangan dan interaksi lintas-pemuda maupun komunitas demi mencapai kebaikan bersama. Dengan memilih Kota Yogyakarta, proyek ini menjadi ruang bagi komunitas sosial, lembaga swadaya masyarakat, NGO, maupun anak muda di kota pelajar ini untuk saling berbagi ide, bertukar gagasan, berkolaborasi, dan menjalin relasi satu dengan yang lain untuk memberikan sumbangsih bagi negeri.

Dalam menyelenggarakan acara DreamTalks #1, Dreamdelion berkolaborasi dengan Antologi Collaboractive Space dan The Zayed Sustainability Prize. Dengan mengambil tema “Expand Community Engagement, Enlarge Good Impact”, acara ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan kapasitas community engagement bagi komunitas, terutama terkait dengan strategi pemanfaatan sosial media untuk mengenalkan komunitas dan berbagai programnya kepada masyarakat luas.

Acara DreamTalks #1 ini diadakan di Antologi Collaborative Space, sebagai bagian dari rangkaian ulang tahun Antologi yang kedua, pada hari Sabtu, 4 Mei 2019, pukul 09.30-16.00 WIB. Acara dimulai dengan sambutan dari Operational Manager Dreamdelion Rofi Ibnu Haafizh dan penanggung jawab acara Varrel Vendira. Dengan mengundang Saudara Aik sebagai founder @merawatjogja dan @nantikitasambattentanghariini serta Saudari Fathimah Zahro sebagai moderator, DreamTalks #1 membicarakan mengenai peran media sosial dan manajemen konten guna mengembangkan komunitas. Tak hanya itu, tentang bagaimana strategi memaksimalkan media sosial untuk meningkatkan brand engagement komunitas juga dikupas tuntas dalam diskusi kali ini.

Instagram dan twitter tidak pernah ketinggalan jika kita berbicara tentang media sosial yang banyak digunakan oleh anak muda. The medium is magic. Setiap platform media sosial memiliki karakteristik sendiri. Konten di instagram lebih berfokus pada visual, sedangkan twitter mengusung kalimat yang efektif pada setiap kontenya. Hal yang tak kalah penting bahwa sebuah komunitas memerlukan brand guideline, seperti tone, warna, do’s and dont’s, dan hal-hal lain untuk menunjang mereka dalam mem-visualisasikan konten ke dalam sebuah desain. Begitu pula dengan kerjasama antar anggota tim. Menentukan pola konten dan alur editing konten dari tahap keyword hingga proses upload sangat penting. Oleh karena itu, sdiperlukan koordinasi yang baik antara content strategies, copywriter, content writer, design grafic, hingga ke admin media sosial.

Selanjutnya, sesi sharing berlangsung meriah dengan pembicaraan menarik dari komunitas Gemati (Karang Taruna), Project Child, Young on Top, dan Book for Mountain. Sesi sharing membicarakan tentang upaya untuk meningkatkan engagement yang telah dilakukan oleh komunitas.

Acara ditutup dengan berfoto bersama dengan pembicara, panitia, dan seluruh peserta. Harapannya, dengan adanya DreamTalks ini, berbagai komunitas yang ada di Yogyakarta dapat saling terkoneksi satu dengan yang lain, saling berkolaborasi, dan pada akhirnya dapat memberikan dampak positif demi kebaikan bersama.

    

Menilik Keindahan Pembuatan Stagen Desa Sumberanum Lebih Dekat

Menilik Keindahan Pembuatan Stagen Desa Sumberanum Lebih Dekat

“Di desa ini, semua perempuan menenun apabila ada waktu senggang,” ujar ibu salah satu penenun stagen di dusun Sejatidesa, desa Sumberanum. Kisah yang dimulai pada pertengahan 2013 antara Dreamdelion dan masyarakat desa Sumberanum kini masih berlanjut. Meskipun pada awalnya, masyarakat setempat pernah merasa skeptis dan khawatir apabila kedatangan Dreamdelion hanya beberapa bulan kemudian terhenti. Masyarakat setempat masih khawatir akan pengalaman tersebut.

Perjalanan Dreamdelion dengan masyarakat desa Sumberanum pun sudah menjajaki tiga tahun. Selama tiga tahun tersebut, sudah beratus-ratus kain stagen yang diproduksi masyarakat Sumberanum. Awalnya, kain stagen yang diproduksi masih didominasi warna gelap, seperti hitam dan biru tua. Kini, produksi stagen yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), sudah mampu menginovasikan kain stagen menjadi warna yang lebih kreatif. Bahkan, setelah melakukan internalisasi, hearing, dan sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan Dreamdelion, masyarakat mampu menghasilkan kain tenun yang ikonis yang dikenal dengan rainbow weave, jenis kain tenun stagen yang memiliki warna yang menyerupai pelangi.

Proses penenunan stagen terbilang tidak mudah. Ada beberapa tahap persiapan sebelum benang-benangnya siap ditenun. Di awal pengerjaan, ibu-ibu penenun perlu mempersiapkan benang stagen yang disebut lawe, benang untuk pembuatan stagen yang masih mentah. Lawe ini belum berwarna-warni, masih merupakan benang dengan warna putih seperti gading. Untuk membuat benang ini memiliki warna-warna yang indah, ibu-ibu penenun perlu merendamkan lawe ini ke dalam cairan pewarna yang masih panas. Setelah itu, lawe harus dikeringkan dengan dijemur, dan siap untuk masuk tahap selanjutnya.

Selanjutnya setelah mendapatkan benang yang berwarna-warni, ibu-ibu penenun perlu melakukan sekir. Sekir adalah penataan ratusan benang yang berwarna-warni untuk kemudian membentuk pola yang diinginkan. Untuk mencapai pola kain tenun stagen yang sempurna, tahapan sekir ini memerlukan waktu yang panjang, ketelatenan, dan kesabaran yang tinggi. Selain itu, tahapan sekir ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, perlu penenun ahli untuk melakukannya

“Jika akan menenun stagen bermotif, proses sekir ini lebih rumit. Sebanyak 350 helai benang dengan beberapa warna harus ditata menggunakan pola tertentu agar menghasilkan motif yang diinginkan,” ujar Sumirah, salah satu penenun kain stagen di dusun Sejatidesa.

Kain kain tenun stagen hasil produksi masyarakat desa Sumberanum ini mampu menghasilkan 15 sampai 20 meter dengan lebar 14,5 cm. Adapun kain stagen yang dihasilkan adalah kain stagen polos dan kain stagen motif. Untuk kain stagen polos dengan panjang 9,5 meter diberi harga Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu, sedangkan untuk kain stagen bermotif diberi harga per meter Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

Kini, produk-produk kain stagen dapat dinikmati dengan berbagai inovasi. Bekerjasama dengan House of Lawe, kain stagen buatan desa Sumberanum disulap menjadi produk Daisy Pouch, Tera Bag, Lola Bag, dan Nit-nit Pouch. Untuk menikmati kain stagen dalam bentuk baju tenun, Dreamdelion juga bekerjasama dengan Oemah Etnik.

Written by: Leovita A | Photo by: Ratna Ayu

Dreamdelion Kreatif: Membangun Semangat Kreatifitas Tanpa Batas

Dreamdelion Kreatif: Membangun Semangat Kreatifitas Tanpa Batas

Dreamdelion yang merupakan komunitas bisnis sosial yang diinisiasikan pada 18 Juli 2012 ini telah dikenal luas dan berhasil memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan mimpinya. Adapun masyarakat tersebut terdapat di lokasi bantaran kali Manggarai, Jakarta, desa Sumberanum, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dalam pemberdayaan masyarakat, Dreamdelion memiliki tiga program unggulan, yakni Dreamdelion Kreatif, Dreamdelion Sehat, dan Dreamdelion Cerdas.

Dreamdelion Kreatif memiliki tujuan untuk membekali peserta pemberdayaan. Pada awalnya Dreamdelion Kreatif ini disebut Manggarai Berkarakter, karena saat itu Dreamdelion masih berfokus pada masyarakat Manggarai saja. Tujuan dari Manggarai Berkarakter adalah untuk membangun karakter masyarakat di Manggarai, khususnya ibu rumah tangga. Karena seringkali terjadi tumpang tindih tugas dengan tim lain, nama Dreamdelion Kreatif ini kemudian berganti nama menjadi Dreamdelion Kreatif.

Dreamdelion Kreatif yang awalnya diikuti 7 orang ini pun berkembang. Dreamdelion yang tadinya fokus pada masyarakat Manggarai kemudian melebarkan sayap hingga ke Yogyakarta dan Jawa Timur. Adapun pelatihan yang diajarkan oleh Dreamdelion ini berupa pelatihan hardskill maupun softskill. Pelatihan hardskill ini dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk mempelajari cara pembuatan kerajinan tangan dengan menggunakan mesin produksi. Adapun pelatihan softskill dilakukan dengan melatih bagaimana cara manajemen keuangan, memasarkan produk, bernegosiasi, dan berkomunikasi yang baik dengan berbagai pihak.

Tidak hanya sampai di situ, Dreamdelion Kreatif juga mengajak kerjasama berbagai pihak dalam pengembangannya. Kerjasama itu dilakukan dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Imigrasi (Kemenakertrans) dan Rumah Perubahan Rhenad Kasali. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menyelenggarakan pelatihan kerajinan tangan bersama 25 ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pekerja lepas, penjual makanan, dan pencuci laundry. Tidak hanya ibu rumah tangga, peserta lanjut usia pun juga turut hadir dalam pelatihan tersebut.

Written by: Leovita A

Menggagas Konsep Bisnis Sosial dalam Misi Pemberdayaan Masyarakat

Menggagas Konsep Bisnis Sosial dalam Misi Pemberdayaan Masyarakat

Mimpi merupakan keajaiban dari perubahan. Ketika sebuah mimpi telah dicetuskan, maka perubahan yang mengagumkan lahir di dunia ini. Banyak kisah menakjubkan yang lahir dari sebuah mimpi. Namun, yang lebih hebat dari mimpi adalah untuk melakukan perubahan dari mimpi itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus asal India, “You must be the change you wish to see in the world.” Untuk dapat melihat dunia, mengubah dunia, membuat mimpi menjadi nyata, seseorang perlu menjadi bagian dari perubahan. Seseorang itu perlu menjadi perubahan (penggerak) atas mimpinya. Sama halnya dengan Dreamdelion. Tanpa adanya penggerak dari mimpi, keajaiban Dreamdelion tidak akan hadir di pemimpi lainnya.

Digagasnya Dreamdelion diawali dari penelitian yang dilakukan beberapa kaum muda mengenai permasalahan masyarakat urban pada tahun 2011. Saat itu mereka melihat bahwa salah satu lokasi dengan permasalahan masyarakat urban serius ada di bantaran kali Manggarai. Manggarai yang merupakan salah satu kota di Jakarta yang memiliki terminal, stasiun, serta beberapa pusat perbelanjaan. Namun, meskipun lokasi ini terbilang stategis, masyarakatnya didominasi dengan kaum marjinal. Layaknya permasalahan urban, masyarakat bantaran kali Manggarai memiliki permasalahan sosial yang terbilang kompleks, mulai dari kemiskinan, kependudukan, pendidikan, bahkan kesehatan. Hal itulah yang membuat Dreamdelion terdorong untuk mengadakan pemberdayaan masyarakat di sana.

Di awal perjalanan memberdayakan masyarakat, Dreamdelion perlu menggunakan cara unik agar dapat masuk masyarakat. Hal ini dikarenakan resistensi masyarakat Manggarai yang tinggi. Sebelumnya, masyarakat Manggarai sering menerima keinginan mahasiswa untuk memberdayakan lokasi setempat, namun hal itu tidak berjalan lancar bahkan programnya dibiarkan terbengkalai. Melihat adanya kekhawatiran masyarakat akan pengalaman sebelumnya, Dreamdelion menggunakan pendekatan pada ibu-ibu dan anak-anak yang cenderung lebih terbuka dengan pendatang baru. Melalui cara inilah akhirnya Dreamdelion pun mampu berbaur dengan masyarakat Manggarai.

Awalnya tidak percaya, saya pikir hanya iseng-iseng saja,” ungkap Yuli salah satu masyarakat Manggarai.

Kini, komunitas yang mengangkat konsep bisnis sosial ini telah berjalan selama lebih dari 4 tahun dan sudah berkembang ke banyak lokasi, bukan hanya di bantaran kali Manggarai, tetapi Dreamdelion sudah ada di Yogyakarta bahkan Jawa Timur. Dari konsep inilah Dreamdelion menggerakkan mimpinya. Menggerakkan mimpi bersama yang membawa kebermanfaatan. Dengan slogan Bahagia Itu Sederhana, Dreamdelion yakin bahwa untuk menciptakan kebahagiaan bersama ternyata tidak dapat melalui cara-cara yang sederhana. Oleh karena itu, mereka yakin itulah alasan mereka untuk harus bersama.

Written by: Leovita A | Photo by: Evaulia Nindya

Menjalankan Bisnis Sosial dengan Hati, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Menjalankan Bisnis Sosial dengan Hati, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Kata passion merupakan kata yang biasa didengar, terutama di kalangan anak muda yang masih mencari jati dirinya. Kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris ini sebenarnya memiliki arti gairah, semangat, keinginan besar, dan sebagainya. Banyak pihak yang mengartikan passion sebagai sesuatu yang memang benar-benar diinginkan yang datang dari dalam diri. Menurut Alia Noor Anoviar, penggagas Dreamdelion, “Passion merupakan perasaan yang kuat untuk melakukan suatu hal, bisa jadi karena hal tersebut merupakan bagian dari minat dan bakat yang dimiliki, bisa jadi sesuatu tersebut adalah hal yang sangat dapat memotivasi seseorang mencapai target tertentu dalam kehidupannya.”

Sebagai mahasiswa lulusan FEUI, ia sangat ingin membentuk suatu gerakan konkret mengenai pemberdayaan masyarakat. Suatu gerakan yang mampu menjawab permasalahan sosial, khususnya permasalahan pada masyarakat marjinal. Berangkat dari passion inilah Alia membentuk komunitas bisnis sosial Dreamdelion pada 18 Juli 2012.

Titik balik bagi Alia untuk melanjutkan passion-nya dan membuat sebuah komunitas bisnis berawal dari pengalamannya saat melakukan pertukaran pelajar ke Thailand. Selama menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi, Alia selalu dicekoki dengan teori stakeholder (teori pemangku kepentingan) dan stockholder (teori pemegang saham). Teori yang sangat akrab dalam memaksimalisasi keuntungan pribadi yang kemudian membentuk Alia menjadi penganut individualisme. Namun, semua itu berubah ketika ia di Thailand. Sewaktu pertukaran pelajar, Alia diperkenalkan dengan konsep bisnis sosial yang tidak melulu membicarakan tentang modal, tidak selalu membicarakan keuntungan materi saja, dan bisnis itu lah yang dinamakan bisnis sosial atau sociopreneur. Sebuah konsep yang telah menginspirasi Alia untuk kemudian menggagas Dreamdelion.

Nama Dreamdelion sendiri mengandung dua kata, yakni kata dream yang berarti mimpi dan kata delion yang merepresentasikan bunga dandelion dengan mahkota bunga yang mudah ditiup dan menyebar ke mana-mana. Dari dua kata ini mengandung makna sesungguhnya dari Dreamdelion, yakni mampu membawa mimpi yang bisa memberdayakan (masyarakat) dan bisa menyebar di manapun berada. Dengan arti sempit makna Dreamdelion itu adalah berani bermimpi.

Selama perjalanannya menggagas komunitas Dreamdelion ini, Alia tidak selalu dihadapkan dengan kemudahan. Terkadang ada saatnya ketika Alia mendapatkan keraguan yang dilontarkan melalui pernyataan-pernyataan seperti ‘Untuk apa bantu orang lain? Kamu lebih baik bantu diri sendiri dulu,’ dan ‘Bantu orangnya nanti saja saat sudah kaya,’ Alia menjawab, “Rasanya luar biasa ketika dapat membantu orang lain meskipun belum punya apa-apa.” Alia sangat yakin bahwa meskipun diawali dengan hal sederhana, Dreamdelion ini mampu membantu banyak orang dan mampu menginspirasi orang lain untuk membantu orang yang lebih banyak.

Selalu ada masa di mana kita dibatasi oleh hal-hal yang membuat kita tidak mampu mendapatkan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, atau bahkan kita merasa sangat jauh dari apa yang sebenarnya kita butuhkan,” ungkap Alia. “Karena hidup adalah tantangannya.”

“Buat saya, ketika banyak orang yang meragukan apa yang saya pilih,
saya menjadi merasa tertantanguntuk melakukan apa yang saya pilih.
Merasa I can do my best!

– Alia Noor Anoviar dalam catatan pribadi.

Written by: Leovita A

Anak-Anak Binaan Dreamdelion Mengajak Kamu Intip Si Kepik!

Anak-Anak Binaan Dreamdelion Mengajak Kamu Intip Si Kepik!

Tahukah kamu kalau hewan bernama kepik sebenarnya memiliki arti ‘yang bersayap setengah’? Nama itu diberikan karena sayap depan serangga tersebut dapat dilipat. Serangga inilah yang kemudian menginspirasi anak-anak bantaran kali Manggarai dalam berkreasi kerajinan tangan. Kepik buatan anak-anak Manggarai ini dibuat dengan menggunakan kertas kokoru dan ornamen mata. Kertas kokoru merupakan kertas bergulung yang dapat digunakan untuk membuat objek 2 atau 3 dimensi dengan cara melipat, menggulung, menggunting, maupun mengelem.

Pelatihan yang diadakan di awal tahun 2015 tersebut merupakan bagian dari kegiatan Sanggar Manggarai. Sanggar Manggarai ini tidak hanya mengajak anak-anak Manggarai untuk membuat kerajinan tangan seperti kepik, tetapi juga ada sanggar belajar, kelas bahasa Inggris (English Class), taman baca, dan lainnya. Untuk pembuatan si Kepik ini, berawal dari ajakan anak-anak Manggarai untuk diajari kerajinan tangan. Antusiasme anak-anak pun berkembang ketika teman-teman Dreamdelion mengeluarkan bahan berupa kertas kokoru dan ornamen mata. Cara yang dilakukan anak-anak Manggarai pun sederhana, yakni melipat, menggulung, menggunting, mengelem, kemudian memasang ornamen mata pada kertas kokoru yang telah jadi. Dengan bimbingan Dreamdelion, anak-anak pun mampu membuat kepik dari karyanya sendiri.

Kreativitas anak-anak Manggarai sangat tinggi. Terbukti dari kemampuan anak-anak yang mampu membuat kerajinan tangan lain ketika beberapa bahan telah habis. Kerajinan tangan yang tak kalah serunya dari si Kepik adalah jam tangan, mobil, cincin, permen lolipop, bahkan ada yang mampu membuat tokoh Disney, Mickey Mouse!

Pelatihan kerajinan tangan ini tidak hanya diajarkan pada anak-anak kecil Manggarai, tetapi juga dengan ibu rumah tangga. Meskipun sebelumnya belum memiliki keterampilan mumpuni, kini ibu-ibu Manggarai membuktikan bahwa dengan semangat dan keuletannya, mereka mampu menghasilkan berbagai kerajinan tangan yang tak kalah menarik dengan si Kepik. Bahkan, kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai memiliki daya jual yang baik. Adapun kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai adalah bros, boneka flanel, boneka wisuda, gantungan kunci, dan aksesoris lainnya.

Sama dengan pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada anak-anak Manggarai, untuk pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada ibu-ibu Manggarai, Dreamdelion melakukannya dengan bimbingan praktik. Saat pelatihan kerajinan dari kain flanel yang diadakan Dreamdelion bersama ibu-ibu Manggarai, pelatih menambahkan tentang bagaimana pemilihan jarum yang sesuai dengan jenis kain. Hal ini agar proses menjahitnya lebih mudah. Setelah itu, Dreamdelion membimbing ibu-ibu Manggarai dalam praktik cara menjahit produk tas cantik. Pada umumnya, pembuatan kerajinan dilakukan dengan tiga langkah, yakni pemilihan dua motif kain, pemotongan kain sesuai ukuran, kemudian penyelesaian dengan cara menjahit sesuai pola dan ditambah kancing atau resleting.

Pemberdayaan masyarakat melalui cara kreatif yang diberi nama Dreamdelion Kreatif ini terbukti membuahkan hasil. Tidak hanya si Kepik yang merupakan kerajinan tangan anak-anak Manggarai, tetapi juga ibu-ibu Manggarai yang bahkan memiliki daya jual yang baik di pasar. Apabila suatu saat dijumpai adanya si Kepik di lingkungan sekitar, mungkin saja itu adalah si Kepik hasil dari anak-anak Manggarai.

Written by: Leovita A

Dreamdelion & Kemenakertrans Hadir Membangun Masyarakat Marjinal

Dreamdelion & Kemenakertrans Hadir Membangun Masyarakat Marjinal

“Kami di sini banyak sekali menerima masukan dan ilmu yang didapat dari cara membuat dompet, tas, bahkan menganyam. Yang tadinya tidak tahu, sekarang kami jadi tahu,” ujar Yuli, salah satu warga bantaran kali Manggarai. Menyebarkan mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata adalah kalimat yang selalu terngiang-ngiang dalam benak anggota Dreamdelion. Mimpi inilah yang pada akhirnya disambut baik oleh banyak institusi seperti Rumah Perubahan, UKMC UI, bahkan Kemenakertrans (Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi).

Pada pertengahan bulan Oktober 2012, Dreamdelion bekerjasama dengan Kemenakertrans mengadakan program pelatihan kewirausahaan untuk ibu-ibu bantaran kali Manggarai. Program yang berjudul Pengembangan Model Pelatihan Kewirausahaan diadakan di Balai Pendidikan Anak Usia Dini bantaran kali Manggarai selama 10 hari, yakni dari tanggal 9 sampai tanggal 18 Oktober 2012.

Program yang diikuti sebanyak 25 wanita bantaran kali Manggarai ini merupakan pembekalan keterampilan berupa pelatihan hardskill maupun softskill. Adapun pembekalannya meliputi keterampilan menjahit untuk hardskill dan manajemen bisnis untuk softskill, seperti manajemen keuangan, pemasaran produk, hingga penjaminan kualitas produk dengan cara yang lebih sederhana.

Dalam program pelatihan ini, Dreamdelion banyak dibantu oleh pihak-pihak selain Kemenakertrans. Pihak-pihak tersebut adalah Dewi Meisari dari UKM Center FEUI, Bintang Darawijaya yang memberikan pembekalan mengenai manajemen keuangan, Annatasya Maryana dengan materi pemasarannya, terutama Rumah Perubahan Rhenald Kasali yang telah membantu Dreamdelion baik dalam hal materi maupun non materi, dan teman-teman Dreamdelion lainnya yang membantu memberikan pelatihan hardskill dalam hal jahit-menjahit.

Berkat pelatihan dan antusiasme yang tinggi, masyarakat bantaran kali Manggarai kini memiliki keahlian yang lebih baik. Program ini rupanya meningkatkan kemampuan hardskill masyarakat, seperti kemampuan menjahit, juga kemampuan softskill, seperti pengetahuan dalam manajemen sebuah bisnis. Dengan adanya program ini, motivasi masyarakat dalam berkembang menjadi lebih tinggi. Bahkan, diharapkan selanjutnya masyarakat Bantaran kali Manggarai lebih mandiri dalam berwirausaha.

Written by: Leovita A

Ide Kreatif Dreamdelion Hasilkan Solusi Masyarakat Manggarai

Ide Kreatif Dreamdelion Hasilkan Solusi Masyarakat Manggarai

Dalam waktu 4 tahun, Dreamdelion telah sukses membangkitkan semangat masyarakat dengan idenya yang kreatif. Pasalnya, komunitas comdev (community Development) ini menjawab problema masyarakat dengan pendekatan yang berbeda. Komunitas yang beranggotakan mahasiswa ini tidak hanya sekedar penelitian di lokasi masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga secara kontinu mengajak masyarakat untuk menjadi lebih kreatif dengan berwirausaha. Konsentrasi komunitas Dreamdelion berada pada masyarakat bantaran kali Manggarai dan desa Sumberanum, dan ide kreatif yang dikenalkan Dreamdelion adalah pengembangan barang maupun jasa.

Untuk pengembangan masyarakat bantaran kali Manggarai, Dreamdelion datang dengan menawarkan program, salah satunya adalah bank sampah. “Saat itu Dreamdelion datang kemari dan menawarkan bantuan untuk membenahi bank sampah dan membuat pupuk kompos,” cerita Tim, ibu rumah tangga. Hasil dari pendekatan awal di masyarakat bantaran kali Manggarai ini rupanya mampu mengubah kebiasaan masyarakat. Menurut Suratman, salah satu Ketua RW di Manggarai, “Awalnya sulit karena masyarakat pasti akan ke kali untuk membuang sampah. Ketika Dreamdelion datang inilah masyarakat tidak lagi buang sampah ke kali.”

Untuk masyarakat desa Sumberarum yang sudah terkenal dengan potensi kain tenun, pengembangan masyarakat yang dilakukan Dreamdelion adalah untuk membuat produk bernilai jual lebih tinggi yang berasal dari kain stagen.

Meskipun Dreamdelion sudah berjalan lebih dari 4 tahun, bukan berarti perjalanannya bebas dari kendala. Saat berawal diinisiasikannya komunitas, dan kemudian mencoba penetrasi ke dalam masyarakat, sempat ada resistensi dari masyarakat, khususnya masyarakat bantaran kali Manggarai. Pasalnya, masyarakat setempat sempat trauma dan khawatir kalau-kalau Dreamdelion hanya akan menebar janji tanpa adanya keberlanjutan yang lebih baik.

Walaupun begitu Dreamdelion tidak pernah menyerah. Dreamdelion berhasil mendekati masyarakat dengan masuk melalui kelompok-kelompok kecil, seperti ibu-ibu dan anak-anak. Hal ini karena mereka lebih mudah untuk berkenalan dengan orang baru. Alia, penggagas Dreamdelion, percaya bahwa lambat tapi pasti, akan muncul keterikatan sendiri antara masyarakat bantaran kali Manggarai dan Dreamdelion.

Kini Dreamdelion telah membuktikannya usahanya. Berkat kerja keras tanpa patah semangat, kini jumlah pengangguran dalam masyarakat bantaran kali Manggarai telah menurun, terutama untuk ibu-ibu Manggarai. Dengan ide kreatifnya, Dreamdelion berhasil memberi semangat masyarakat setempat untuk menjadi lebih kreatif dengan berwirausaha. Mungkin salah satu produknya yakni boneka wisuda yang sering diberikan kepada kerabat terdekat adalah salah satu karya dari masyarakat bantaran kali Manggarai.

Written by: Leovita A

× Mari berkolaborasi!