Skip to main content

Dreamdelion

Menggagas Konsep Bisnis Sosial dalam Misi Pemberdayaan Masyarakat

Menggagas Konsep Bisnis Sosial dalam Misi Pemberdayaan Masyarakat

Mimpi merupakan keajaiban dari perubahan. Ketika sebuah mimpi telah dicetuskan, maka perubahan yang mengagumkan lahir di dunia ini. Banyak kisah menakjubkan yang lahir dari sebuah mimpi. Namun, yang lebih hebat dari mimpi adalah untuk melakukan perubahan dari mimpi itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus asal India, “You must be the change you wish to see in the world.” Untuk dapat melihat dunia, mengubah dunia, membuat mimpi menjadi nyata, seseorang perlu menjadi bagian dari perubahan. Seseorang itu perlu menjadi perubahan (penggerak) atas mimpinya. Sama halnya dengan Dreamdelion. Tanpa adanya penggerak dari mimpi, keajaiban Dreamdelion tidak akan hadir di pemimpi lainnya.

Digagasnya Dreamdelion diawali dari penelitian yang dilakukan beberapa kaum muda mengenai permasalahan masyarakat urban pada tahun 2011. Saat itu mereka melihat bahwa salah satu lokasi dengan permasalahan masyarakat urban serius ada di bantaran kali Manggarai. Manggarai yang merupakan salah satu kota di Jakarta yang memiliki terminal, stasiun, serta beberapa pusat perbelanjaan. Namun, meskipun lokasi ini terbilang stategis, masyarakatnya didominasi dengan kaum marjinal. Layaknya permasalahan urban, masyarakat bantaran kali Manggarai memiliki permasalahan sosial yang terbilang kompleks, mulai dari kemiskinan, kependudukan, pendidikan, bahkan kesehatan. Hal itulah yang membuat Dreamdelion terdorong untuk mengadakan pemberdayaan masyarakat di sana.

Di awal perjalanan memberdayakan masyarakat, Dreamdelion perlu menggunakan cara unik agar dapat masuk masyarakat. Hal ini dikarenakan resistensi masyarakat Manggarai yang tinggi. Sebelumnya, masyarakat Manggarai sering menerima keinginan mahasiswa untuk memberdayakan lokasi setempat, namun hal itu tidak berjalan lancar bahkan programnya dibiarkan terbengkalai. Melihat adanya kekhawatiran masyarakat akan pengalaman sebelumnya, Dreamdelion menggunakan pendekatan pada ibu-ibu dan anak-anak yang cenderung lebih terbuka dengan pendatang baru. Melalui cara inilah akhirnya Dreamdelion pun mampu berbaur dengan masyarakat Manggarai.

Awalnya tidak percaya, saya pikir hanya iseng-iseng saja,” ungkap Yuli salah satu masyarakat Manggarai.

Kini, komunitas yang mengangkat konsep bisnis sosial ini telah berjalan selama lebih dari 4 tahun dan sudah berkembang ke banyak lokasi, bukan hanya di bantaran kali Manggarai, tetapi Dreamdelion sudah ada di Yogyakarta bahkan Jawa Timur. Dari konsep inilah Dreamdelion menggerakkan mimpinya. Menggerakkan mimpi bersama yang membawa kebermanfaatan. Dengan slogan Bahagia Itu Sederhana, Dreamdelion yakin bahwa untuk menciptakan kebahagiaan bersama ternyata tidak dapat melalui cara-cara yang sederhana. Oleh karena itu, mereka yakin itulah alasan mereka untuk harus bersama.

Written by: Leovita A | Photo by: Evaulia Nindya

Menjalankan Bisnis Sosial dengan Hati, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Menjalankan Bisnis Sosial dengan Hati, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Kata passion merupakan kata yang biasa didengar, terutama di kalangan anak muda yang masih mencari jati dirinya. Kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris ini sebenarnya memiliki arti gairah, semangat, keinginan besar, dan sebagainya. Banyak pihak yang mengartikan passion sebagai sesuatu yang memang benar-benar diinginkan yang datang dari dalam diri. Menurut Alia Noor Anoviar, penggagas Dreamdelion, “Passion merupakan perasaan yang kuat untuk melakukan suatu hal, bisa jadi karena hal tersebut merupakan bagian dari minat dan bakat yang dimiliki, bisa jadi sesuatu tersebut adalah hal yang sangat dapat memotivasi seseorang mencapai target tertentu dalam kehidupannya.”

Sebagai mahasiswa lulusan FEUI, ia sangat ingin membentuk suatu gerakan konkret mengenai pemberdayaan masyarakat. Suatu gerakan yang mampu menjawab permasalahan sosial, khususnya permasalahan pada masyarakat marjinal. Berangkat dari passion inilah Alia membentuk komunitas bisnis sosial Dreamdelion pada 18 Juli 2012.

Titik balik bagi Alia untuk melanjutkan passion-nya dan membuat sebuah komunitas bisnis berawal dari pengalamannya saat melakukan pertukaran pelajar ke Thailand. Selama menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi, Alia selalu dicekoki dengan teori stakeholder (teori pemangku kepentingan) dan stockholder (teori pemegang saham). Teori yang sangat akrab dalam memaksimalisasi keuntungan pribadi yang kemudian membentuk Alia menjadi penganut individualisme. Namun, semua itu berubah ketika ia di Thailand. Sewaktu pertukaran pelajar, Alia diperkenalkan dengan konsep bisnis sosial yang tidak melulu membicarakan tentang modal, tidak selalu membicarakan keuntungan materi saja, dan bisnis itu lah yang dinamakan bisnis sosial atau sociopreneur. Sebuah konsep yang telah menginspirasi Alia untuk kemudian menggagas Dreamdelion.

Nama Dreamdelion sendiri mengandung dua kata, yakni kata dream yang berarti mimpi dan kata delion yang merepresentasikan bunga dandelion dengan mahkota bunga yang mudah ditiup dan menyebar ke mana-mana. Dari dua kata ini mengandung makna sesungguhnya dari Dreamdelion, yakni mampu membawa mimpi yang bisa memberdayakan (masyarakat) dan bisa menyebar di manapun berada. Dengan arti sempit makna Dreamdelion itu adalah berani bermimpi.

Selama perjalanannya menggagas komunitas Dreamdelion ini, Alia tidak selalu dihadapkan dengan kemudahan. Terkadang ada saatnya ketika Alia mendapatkan keraguan yang dilontarkan melalui pernyataan-pernyataan seperti ‘Untuk apa bantu orang lain? Kamu lebih baik bantu diri sendiri dulu,’ dan ‘Bantu orangnya nanti saja saat sudah kaya,’ Alia menjawab, “Rasanya luar biasa ketika dapat membantu orang lain meskipun belum punya apa-apa.” Alia sangat yakin bahwa meskipun diawali dengan hal sederhana, Dreamdelion ini mampu membantu banyak orang dan mampu menginspirasi orang lain untuk membantu orang yang lebih banyak.

Selalu ada masa di mana kita dibatasi oleh hal-hal yang membuat kita tidak mampu mendapatkan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, atau bahkan kita merasa sangat jauh dari apa yang sebenarnya kita butuhkan,” ungkap Alia. “Karena hidup adalah tantangannya.”

“Buat saya, ketika banyak orang yang meragukan apa yang saya pilih,
saya menjadi merasa tertantanguntuk melakukan apa yang saya pilih.
Merasa I can do my best!

– Alia Noor Anoviar dalam catatan pribadi.

Written by: Leovita A

Anak-Anak Binaan Dreamdelion Mengajak Kamu Intip Si Kepik!

Anak-Anak Binaan Dreamdelion Mengajak Kamu Intip Si Kepik!

Tahukah kamu kalau hewan bernama kepik sebenarnya memiliki arti ‘yang bersayap setengah’? Nama itu diberikan karena sayap depan serangga tersebut dapat dilipat. Serangga inilah yang kemudian menginspirasi anak-anak bantaran kali Manggarai dalam berkreasi kerajinan tangan. Kepik buatan anak-anak Manggarai ini dibuat dengan menggunakan kertas kokoru dan ornamen mata. Kertas kokoru merupakan kertas bergulung yang dapat digunakan untuk membuat objek 2 atau 3 dimensi dengan cara melipat, menggulung, menggunting, maupun mengelem.

Pelatihan yang diadakan di awal tahun 2015 tersebut merupakan bagian dari kegiatan Sanggar Manggarai. Sanggar Manggarai ini tidak hanya mengajak anak-anak Manggarai untuk membuat kerajinan tangan seperti kepik, tetapi juga ada sanggar belajar, kelas bahasa Inggris (English Class), taman baca, dan lainnya. Untuk pembuatan si Kepik ini, berawal dari ajakan anak-anak Manggarai untuk diajari kerajinan tangan. Antusiasme anak-anak pun berkembang ketika teman-teman Dreamdelion mengeluarkan bahan berupa kertas kokoru dan ornamen mata. Cara yang dilakukan anak-anak Manggarai pun sederhana, yakni melipat, menggulung, menggunting, mengelem, kemudian memasang ornamen mata pada kertas kokoru yang telah jadi. Dengan bimbingan Dreamdelion, anak-anak pun mampu membuat kepik dari karyanya sendiri.

Kreativitas anak-anak Manggarai sangat tinggi. Terbukti dari kemampuan anak-anak yang mampu membuat kerajinan tangan lain ketika beberapa bahan telah habis. Kerajinan tangan yang tak kalah serunya dari si Kepik adalah jam tangan, mobil, cincin, permen lolipop, bahkan ada yang mampu membuat tokoh Disney, Mickey Mouse!

Pelatihan kerajinan tangan ini tidak hanya diajarkan pada anak-anak kecil Manggarai, tetapi juga dengan ibu rumah tangga. Meskipun sebelumnya belum memiliki keterampilan mumpuni, kini ibu-ibu Manggarai membuktikan bahwa dengan semangat dan keuletannya, mereka mampu menghasilkan berbagai kerajinan tangan yang tak kalah menarik dengan si Kepik. Bahkan, kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai memiliki daya jual yang baik. Adapun kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai adalah bros, boneka flanel, boneka wisuda, gantungan kunci, dan aksesoris lainnya.

Sama dengan pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada anak-anak Manggarai, untuk pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada ibu-ibu Manggarai, Dreamdelion melakukannya dengan bimbingan praktik. Saat pelatihan kerajinan dari kain flanel yang diadakan Dreamdelion bersama ibu-ibu Manggarai, pelatih menambahkan tentang bagaimana pemilihan jarum yang sesuai dengan jenis kain. Hal ini agar proses menjahitnya lebih mudah. Setelah itu, Dreamdelion membimbing ibu-ibu Manggarai dalam praktik cara menjahit produk tas cantik. Pada umumnya, pembuatan kerajinan dilakukan dengan tiga langkah, yakni pemilihan dua motif kain, pemotongan kain sesuai ukuran, kemudian penyelesaian dengan cara menjahit sesuai pola dan ditambah kancing atau resleting.

Pemberdayaan masyarakat melalui cara kreatif yang diberi nama Dreamdelion Kreatif ini terbukti membuahkan hasil. Tidak hanya si Kepik yang merupakan kerajinan tangan anak-anak Manggarai, tetapi juga ibu-ibu Manggarai yang bahkan memiliki daya jual yang baik di pasar. Apabila suatu saat dijumpai adanya si Kepik di lingkungan sekitar, mungkin saja itu adalah si Kepik hasil dari anak-anak Manggarai.

Written by: Leovita A

Dreamdelion & Kemenakertrans Hadir Membangun Masyarakat Marjinal

Dreamdelion & Kemenakertrans Hadir Membangun Masyarakat Marjinal

“Kami di sini banyak sekali menerima masukan dan ilmu yang didapat dari cara membuat dompet, tas, bahkan menganyam. Yang tadinya tidak tahu, sekarang kami jadi tahu,” ujar Yuli, salah satu warga bantaran kali Manggarai. Menyebarkan mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata adalah kalimat yang selalu terngiang-ngiang dalam benak anggota Dreamdelion. Mimpi inilah yang pada akhirnya disambut baik oleh banyak institusi seperti Rumah Perubahan, UKMC UI, bahkan Kemenakertrans (Kementerian Tenaga Kerja dan Trasmigrasi).

Pada pertengahan bulan Oktober 2012, Dreamdelion bekerjasama dengan Kemenakertrans mengadakan program pelatihan kewirausahaan untuk ibu-ibu bantaran kali Manggarai. Program yang berjudul Pengembangan Model Pelatihan Kewirausahaan diadakan di Balai Pendidikan Anak Usia Dini bantaran kali Manggarai selama 10 hari, yakni dari tanggal 9 sampai tanggal 18 Oktober 2012.

Program yang diikuti sebanyak 25 wanita bantaran kali Manggarai ini merupakan pembekalan keterampilan berupa pelatihan hardskill maupun softskill. Adapun pembekalannya meliputi keterampilan menjahit untuk hardskill dan manajemen bisnis untuk softskill, seperti manajemen keuangan, pemasaran produk, hingga penjaminan kualitas produk dengan cara yang lebih sederhana.

Dalam program pelatihan ini, Dreamdelion banyak dibantu oleh pihak-pihak selain Kemenakertrans. Pihak-pihak tersebut adalah Dewi Meisari dari UKM Center FEUI, Bintang Darawijaya yang memberikan pembekalan mengenai manajemen keuangan, Annatasya Maryana dengan materi pemasarannya, terutama Rumah Perubahan Rhenald Kasali yang telah membantu Dreamdelion baik dalam hal materi maupun non materi, dan teman-teman Dreamdelion lainnya yang membantu memberikan pelatihan hardskill dalam hal jahit-menjahit.

Berkat pelatihan dan antusiasme yang tinggi, masyarakat bantaran kali Manggarai kini memiliki keahlian yang lebih baik. Program ini rupanya meningkatkan kemampuan hardskill masyarakat, seperti kemampuan menjahit, juga kemampuan softskill, seperti pengetahuan dalam manajemen sebuah bisnis. Dengan adanya program ini, motivasi masyarakat dalam berkembang menjadi lebih tinggi. Bahkan, diharapkan selanjutnya masyarakat Bantaran kali Manggarai lebih mandiri dalam berwirausaha.

Written by: Leovita A

Ide Kreatif Dreamdelion Hasilkan Solusi Masyarakat Manggarai

Ide Kreatif Dreamdelion Hasilkan Solusi Masyarakat Manggarai

Dalam waktu 4 tahun, Dreamdelion telah sukses membangkitkan semangat masyarakat dengan idenya yang kreatif. Pasalnya, komunitas comdev (community Development) ini menjawab problema masyarakat dengan pendekatan yang berbeda. Komunitas yang beranggotakan mahasiswa ini tidak hanya sekedar penelitian di lokasi masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga secara kontinu mengajak masyarakat untuk menjadi lebih kreatif dengan berwirausaha. Konsentrasi komunitas Dreamdelion berada pada masyarakat bantaran kali Manggarai dan desa Sumberanum, dan ide kreatif yang dikenalkan Dreamdelion adalah pengembangan barang maupun jasa.

Untuk pengembangan masyarakat bantaran kali Manggarai, Dreamdelion datang dengan menawarkan program, salah satunya adalah bank sampah. “Saat itu Dreamdelion datang kemari dan menawarkan bantuan untuk membenahi bank sampah dan membuat pupuk kompos,” cerita Tim, ibu rumah tangga. Hasil dari pendekatan awal di masyarakat bantaran kali Manggarai ini rupanya mampu mengubah kebiasaan masyarakat. Menurut Suratman, salah satu Ketua RW di Manggarai, “Awalnya sulit karena masyarakat pasti akan ke kali untuk membuang sampah. Ketika Dreamdelion datang inilah masyarakat tidak lagi buang sampah ke kali.”

Untuk masyarakat desa Sumberarum yang sudah terkenal dengan potensi kain tenun, pengembangan masyarakat yang dilakukan Dreamdelion adalah untuk membuat produk bernilai jual lebih tinggi yang berasal dari kain stagen.

Meskipun Dreamdelion sudah berjalan lebih dari 4 tahun, bukan berarti perjalanannya bebas dari kendala. Saat berawal diinisiasikannya komunitas, dan kemudian mencoba penetrasi ke dalam masyarakat, sempat ada resistensi dari masyarakat, khususnya masyarakat bantaran kali Manggarai. Pasalnya, masyarakat setempat sempat trauma dan khawatir kalau-kalau Dreamdelion hanya akan menebar janji tanpa adanya keberlanjutan yang lebih baik.

Walaupun begitu Dreamdelion tidak pernah menyerah. Dreamdelion berhasil mendekati masyarakat dengan masuk melalui kelompok-kelompok kecil, seperti ibu-ibu dan anak-anak. Hal ini karena mereka lebih mudah untuk berkenalan dengan orang baru. Alia, penggagas Dreamdelion, percaya bahwa lambat tapi pasti, akan muncul keterikatan sendiri antara masyarakat bantaran kali Manggarai dan Dreamdelion.

Kini Dreamdelion telah membuktikannya usahanya. Berkat kerja keras tanpa patah semangat, kini jumlah pengangguran dalam masyarakat bantaran kali Manggarai telah menurun, terutama untuk ibu-ibu Manggarai. Dengan ide kreatifnya, Dreamdelion berhasil memberi semangat masyarakat setempat untuk menjadi lebih kreatif dengan berwirausaha. Mungkin salah satu produknya yakni boneka wisuda yang sering diberikan kepada kerabat terdekat adalah salah satu karya dari masyarakat bantaran kali Manggarai.

Written by: Leovita A

Dreamdelion Siapkan Beasiswa Bagi Anak yang Berprestasi & Berkarakter

Dreamdelion Siapkan Beasiswa Bagi Anak yang Berprestasi & Berkarakter

Scholarship Dreamdelion Cerdas adalah program beasiswa di bawah divisi Dreamdelion Cerdas. Melalui Scholarship Dreamdelion Cerdas, Dreamdelion berupaya memfasilitasi kesulitan-kesulitan ekonomi yang mungkin anak-anak sanggar temui ketika mewujudkan impian mereka, terutama yang berkaitan dengan keterbatasan dana pendidikan. Scholarship ini berawal dari Persatuan Pelajar Mahasiswa Muslim di Jepang yang menyisihkan uang sakunya untuk disumbangkan ke sanggar Dreamdelion. Kini, donatur beasiswa tidak hanya dari Persatuan Pelajar Mahasiswa Muslim di Jepang saja, tapi juga terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi donatur.

Ada dua jenis beasiswa, yaitu beasiswa perorangan dan beasiswa kelompok. Beasiswa perorangan adalah beasiswa dengan target perorangan berdasarkan kebutuhan pendidikan mereka. Beasiswa ini diberikan dalam bentuk barang kebutuhan pendidikan atau dana yang akan disimpan dan dikelola penggunaannya oleh pihak Dreamdelion Cerdas, seperti biaya les, alat tulis, dan seragam sekolah. Sementara beasiswa kelompok adalah beasiswa dengan target seluruh siswa sanggar Dreamdelion Cerdas, baik chapter Jakarta maupun Yogyakarta. Tujuan dari beasiswa ini adalah untuk memberikan berbagai jenis program edukasi untuk membuka cakrawala dan pengetahuan anak-anak sanggar yang mungkin belum didapatkan di bangku sekolah, misalnya wisata edukasi, kelas inspirasi, dan sebagainya.

Beasiswa ini memiliki kriteria khusus untuk penerima beasiswa. Anak-anak yang mempunyai karakter baik menjadi pertimbangan utama. Kemudian kriteria selanjutnya adalah prestasi anak di sekolah, berasal dari keluarga yang tidak mampu, dan benar-benar membutuhkan dana pendidikan. Sehingga sebelum beasiswa tersebut diberikan, diadakan proses penyeleksian oleh tim Scholarship Dreamdelion Cerdas.

Tahap awal proses penyeleksian adalah evaluasi dan review anak-anak sanggar Dreamdelion Cerdas. Kemudian akan diajukan nama yang direkomendasikan untuk mendapat beasiswa, yaitu anak-anak yang berperilakuan baik dan berprestasi. Selanjutnya adalah proses wawancara, di mana mereka akan ditanya tentang sekolah dan kondisi keluarga.

Untuk memperkuat kebenaran informasi, tim Scholarship Dreamdelion Cerdas melakukan kunjungan ke rumah orang tua anak, apakah mereka benar-benar dari keluarga yang kurang mampu atau tidak. Survei ke sekolah juga dilakukan untuk mengetahui nilai akademik dari nilai rapor yang ada. Selanjutnya adalah menanyakan hal-hal yang dibutuhkan anak penerima beasiswa untuk kebutuhan pendidikan mereka. Pada tahap akhir, dipilihlah nama anak yang berhak memperoleh beasiswa. Proses pelaksanaan beasiswa tersebut berlangsung selama satu tahun. Semua ini dilakukan agar beasiswa jatuh di tangan yang tepat serta anak yang mendapatkan beasiswa memang anak yang benar-benar membutuhkan bantuan tersebut.

Written by: Enggar Tri Lestari

Sanggar Belajar Dreamdelion Cerdas Lebarkan Sayap ke Yogyakarta

Sanggar Belajar Dreamdelion Cerdas Lebarkan Sayap ke Yogyakarta

Pada Oktober 2013, berdirilah Dreamdelion di Yogyakarta. Awalnya Dreamdelion di Yogyakarta memang berfokus pada pelestarian tenun dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui rainbow stagen yang mereka buat. Kemudian sekitar awal tahun 2015 mulailah dibentuk Dreamdelion Cerdas di Yogyakarta.

Berdasarkan hasil survei dari teman-teman Dreamdelion, banyak dari ibu-ibu penenun di desa tersebut mempunyai anak sekitar usia SD, namun keseharian mereka diisi dengan aktivitas yang kurang bermanfaat. Sementara itu, orang tua dari anak-anak khawatir jika anak-anak mereka tumbuh tanpa cita-cita. Atas dasar itu, maka dibentuklah Sanggar Belajar Dreamdelion Cerdas di Yogyakarta. Orang tua dari anak-anak menyambut baik kehadiran sanggar belajar Dreamdelion Cerdas.

“Wah, adanya sanggar belajar Dreamdelion Cerdas dirasa sangat bermanfaat sekali. Kalau saya selalu mendukung anak saya untuk bermain di sanggar Dreamdelion Cerdas saja, daripada main tidak jelas,” kata Sumirah, salah satu orang tua anak-anak di desa Sumberarum.

Sama halnya dengan tujuan sanggar belajar di Jakarta, sanggar belajar yang ada di Yogyakarta dibuat dengan tujuan penanaman pendidikan karakter bagi anak. Kurikulum yang diajarkan disesuaikan dengan anak-anak usia tersebut. Berbagai kegiatan memang dirancang dengan begitu menyenangkan, yaitu belajar sambil bermain, sehingga anak-anak tidak merasa jenuh dengan materi yang diberikan. Proses pembelajaran yang dilakukan bersifat menghibur seperti mewarnai gambar, menonton film, membuat ketrampilan, role play, kegiatan menanam, dan mendongeng.

Pertemuan yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali ini selalu dinanti oleh anak-anak desa Sumberarum, yaitu setiap hari Minggu pukul 8.00-11.00 WIB. Dalam pelaksanaannya, sanggar belajar ini dibantu oleh sukarelawan Dreamdelion atau yang lebih akrab dipanggil “fasil”. Juga ada kerjasama dari berbagai komunitas dan organisasi kemahasiswaan yang membuat kegiatan ini menjadi semakin baik dan efektif. Hingga saat ini, rata-rata ada 20-30 anak yang mengikuti kegiatan belajar di Joglo Pelangi, yaitu tempat di mana anak-anak desa Sumberarum biasa menghabiskan waktu bersama Dreamdelion.

“Anak saya juga sangat senang selepas bermain di sanggar. Selepas pulang dari sanggar dia selalu cerita macam-macam. Katanya senang kalau bermain di sanggar dan selalu dapat pengalaman baru, terlebih jika dapat hadiah dari kakak-kakak Dreamdelion,” tambah Sumirah.

Berbagai kegiatan yang telah dilakukan ternyata telah memberikan pengaruh baik bagi anak-anak di desa Sumberarum. Bukan dengan paksaan, lambat laun dan secara sadar anak-anak di desa Sumberarum terbiasa melakukan hal-hal baik dalam kesehariannya. Anak-anak yang pada awalnya ketika pulang sekolah selalu menghabiskan waktu dengan bermain, menonton televisi, atau hal lain yang kurang bermanfaat, kini kebiasaan itu mulai hilang. Karakter positif itu mulai tumbuh pada anak-anak desa Sumberarum, seperti sikap anak yang sudah mulai membuang sampah pada tempatnya, rajin menabung, lebih percaya diri, disiplin, dan mempunyai cita-cita tinggi.

Perubahan karakter juga dirasakan orang tua dari anak-anak desa Sumberarum, seperti yang diungkapkan oleh ibu Sumirah, “Setelah beberapa kali mengikuti kegiatan belajar bersama Dreamdelion, sekarang anak saya mudah kalau dinasihati dan jadi anak penurut.”

Selain itu, meningkatnya minat baca pada anak Desa Sumbrarum mulai dirasakan oleh teman-teman Dreamdelion. Awalnya, di desa tersebut memang belum dilengkapi fasilitas pengadaan buku-buku yang cukup. Oleh karena itu teman-teman Dreamdelion yang ada di Yogyakarta berinisiatif mengadakan Taman Baca Joglo Pelangi.

Taman Baca Joglo Pelangi

Berdirinya Joglo Pelangi sejak tanggal 25 November 2015 tidak lepas dari peran teman-teman Dreamdelion yang memiliki kepedulian sosial-pendidikan tinggi. Pada awalnya mereka memang cukup kesulitan untuk mencari tempat untuk taman baca ini. Namun setelah berdiskusi dengan warga sekitar, Pak Dwi (salah satu warga) mengizinkan rumah kosongnya untuk digunakan sebagai taman baca.

Dari rumah kosong tersebut, diatur menjadi ruang edukatif yang menyenangkan, sehingga anak-anak tidak merasa cepat bosan saat kegiatan belajar berlangsung. Tidak hanya untuk taman baca atau kegiatan belajar anak-anak saja, keberadaan Joglo Pelangi di dusun Sejati Desa juga menjadi pusat pembelajaran untuk segala kegiatan pemberdayaan masyarakat. Adanya Joglo Pelangi ini memberi manfaat besar bagi masyarakat sekitar.

Saat ini ketersediaan buku di taman baca Joglo Pelangi belum begitu banyak, koleksi buku sementara berasal dari teman-teman Dreamdelion sendiri, Dari Buku Untuk Negeri, Community Engagement Grants (CEGs) UI, dan teman-teman UGM. Sementara itu, kerjasama dari pihak lain sangat diharapkan untuk menambah koleksi buku taman baca Joglo Pelangi ini. Meskipun begitu, adanya taman baca ini bisa menunjang kegiatan belajar anak-anak desa Sumberarum dan sebagai fasilitator dari kebiasaan anak yang mulai menyukai membaca.

Buku yang disediakan tidak hanya untuk anak-anak saja. Masyarakat desa juga mampir ke taman baca Joglo Pelangi untuk membaca buku, karena memang buku hanya bisa dibaca di tempat. Jika buku belum selesai dibaca mereka akan kembali lagi ke Joglo Pelangi.

“Jadi buku hanya boleh dibaca di tempat. Masyarakat juga ikut membaca buku di Joglo pelangi, terutama ibu-ibu. Jadi, di taman baca Joglo Pelangi selalu ada Penanggung Jawab (PJ) yang berasal dari pemuda setempat,” kata Chaye, salah satu pengurus Dreamdelion di Yogyakarta.

Written by : Enggar Tri Lestari | Photo by : Evaulia Nindya K

 

Komitmen Dreamdelion Cerdas Cetak Generasi Berprestasi

Komitmen Dreamdelion Cerdas Cetak Generasi Berprestasi

Seperti halnya dengan nama“Dreamdelion” yang berasal dari kata ”dream” dan ”bunga dandelion” yakni impian untuk menyebarkan mimpi ke mana saja dan tumbuh di mana saja untuk mewujudkannya. Dreamdelion Cerdas ada untuk memberikan mimpi kepada anak-anak. Dreamdelion Cerdas sendiri sebenarnya berdiri sebelum Dreamdelion berdiri. Setelah penelitian selesai dilakukan oleh sekelompok mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yaitu Sentia, Site, dan Alia, akhirnya penelitian tersebut diwujudkan dalam bentuk pengabdian masyarakat berupa Sanggar Belajar bagi anak-anak di Manggarai, yang kemudian disebut Sanggarai.

Pada awal proses pembelajarannya, anak-anak diberikan materi pelajaran sekolah. Namun seiring waktu berjalan, dengan melihat masalah yang ada, anak-anak Manggarai ternyata lebih membutuhkan pendidikan karakter dibanding pendidikan akademik. Di mana kawasan Manggarai terkenal dengan masalahnya yang sangat kompleks sehingga berdampak pada tumbuh kembang karakter anak-anak di Manggarai. Contohnya saja adalah penyelesaian masalah yang berujung pada kekerasan, kurangnya dukungan dan motivasi bagi anak untuk menggapai cita-cita yang tinggi, dan kurang terpenuhinya hak anak. Hal semacam ini seolah-olah sudah menjadi hal lumrah yang terjadi pada anak Manggarai. Tidak ingin terlalu larut dalam permasalahan ini, akhirnya materi pembelajaran Sanggarai lebih difokuskan pada pengembangan karakter anak.

Hal ini selaras seperti yang diungkapkan Marissa selaku mantan kepala Sekolah Dreamdelion, “Anak-anak yang mempunyai karakter baik, dia akan memaksimalkan apa yang mereka inginkan dengan sebaik mungkin, sehingga memang perlu pendidikan karakter diterapkan pada anak-anak Manggarai yang nantinya menjadi bekal untuk masa depan mereka.”

Sanggarai yang kini mempunyai fokus pada pendidikan karakter mulai terealisasikan setelah berkenalan dengan Farah Mafaza melalui akun Twitter. Farah yang merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia, juga berkeinginan untuk menjalankan sanggar belajar tersebut. Dibalik Farah, tak luput juga peran mahasiswi psikologi lainnya yaitu Aisyah Ibadi, Selfi Andriani, dan Citrawanti Oktavia. Mereka mengerahkan segala kemampuan untuk memajukan sanggar tersebut dengan cara menyusun kurikulum untuk pengembangan karakter anak, dan berbagai upaya lainnya.

Pada tahun 2012, sanggar belajar Manggarai yang bernama Sanggarai ini kemudian berubah menjadi Manggarai Cerdas. Perubahan nama ini rupanya bersamaan dengan hari didirikannya Dreamdelion. Hingga saat ini, nama tersebut masih tetap digunakan.

Dalam pelaksanaan kegiatan program Manggarai Cerdas, tim Manggarai Cerdas yang biasa disebut tim MC dibantu oleh sejumlah volunteer dari latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman yang berbeda. Mereka biasa disebut ‘fasil’, karena sebagai fasilitator anak-anak-anak dalam proses pembelajarannya. Hal itu pula yang menjadi alasan dibuatnya CEO Shop (Community Empowerment Online Shop) untuk pembiayaan operasional dan juga dibukanya rekruitmen terbuka volunteer untuk kakak-kakak pengajar.

Seiring perkembangannya, sanggar belajar mulai diterapkan di Bandung dan Yogyakarta. Akhirnya pada tahun 2013, nama Manggarai Cerdas diubah kembali menjadi Dreamdelion Cerdas. Hingga saat ini Dreamdelion Cerdas telah mengalami 2 masa Kepala Sekolah setelah Farah, yaitu Marissa Abdul dan saat ini Marwah Azizah dengan kurikulum yang diajarkan adalah pendidikan karakter bagi anak. Hingga setelah kurang lebih selama empat tahun berjalan, tanpa terasa karakter-karakter kurang baik yang ada pada anak lambat laun mulai menghilang.

“Sejak adanya sanggar Dreamdelion Cerdas anak-anak mempunyai sarana bermain yang positif, mereka tidak lagi bermain atau berjualan di jalan. Pada awalnya beberapa anak yang baru masuk sanggar Dreamdelion Cerdas mempunyai sikap kurang baik, kurang responsif, kurang menerima orang, dan cenderung kasar. Setelah berada di sanggar mereka berubah menjadi lebih penyayang, dan lebih inisiatif dalam menolong. Mereka menjadi tahu makna menolong yang sesungguhnya, membantu orang bukan hanya agar mendapat imbalan seperti berupa uang. Hal-hal kecil seperti itu lah mulai muncul di sanggar,” ungkap Marissa.

Perubahan baik tersebut juga mulai dirasakan oleh orang tua anak-anak sanggar. Beberapa orang tua mengaku bahwa bahwa anak-anaknya berubah menjadi lebih baik. Memang perubahan karakter membutuhkan waktu yang panjang, namun setiap pertemuan rutin di hari Minggu ternyata juga bisa membawa dampak positif bagi anak-anak Manggarai. Sesuai dengan tujuan awal didirikannya Dreamdelion Cerdas, yakni mengubah karakter anak menjadi lebih baik.

Written by : Enggar Tri Lestari | Photo by : Aswanudin Hamid