Skip to main content

Dreamdelion

Virus Bisnis Sosial Disebarkan dalam Social Campaign NSBC 2014

Virus Bisnis Sosial Disebarkan dalam Social Campaign NSBC 2014

Salah satu rangkaian National Social Business Camp (NSBC) 2014 yang sangat sayang untuk dilewatkan adalah Social Campaign. Bagaimana tidak? Pada acara ini, semua orang dapat berpartisipasi mengkampanyekan pemberdayaan masyarakat melalui bisnis sosial tanpa kecuali.

National Social Business Camp (NSBC) merupakan agenda besar Dreamdelion di tahun 2014. NSBC 2014 ini mengusung tema Energizing Youth Spirit Through Social Business Era. Dua dari 8 rangkaian acara NSBC adalah Social Campaign. Kenapa dibilang dua acara? Karena Social Campaign ini diadakan dua kali, yaitu, pada pre event dan main event NSBC 2014.

Social Campaign merupakan kampanye masal pada acara Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI) mengenai kewirausahaan sosial. Melalui kegiatan ini, diharapkan lebih banyak orang yang mengerti tentang bisnis sosial, apa dan seperti apa bentuk dari wirausaha sosial, serta apa yang membedakannya dengan wirausaha biasa. Selain itu, keberadaan Social Campaign ini juga diharapkan dapat menularkan semangat membangun bisnis sosial kepada masyarakat luas. Setidaknya, masyarakat mau mendukung keberadaan usaha yang berbasis bisnis sosial ini.

Social entrepreneurs are not content just to give a fish or teach how to fish. They will not rest until they have revolutionized the fishing industry.

– Bill Drayton, Ashoka CEO & Founder.

Pesan inilah yang coba disampaikan oleh teman-teman Dreamdelion beserta para panitia dan volunteer Social Campaign NSBC 2014. Makna pernyataan di atas adalah bahwa wirausaha sosial tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga memberikan kail kepada masyarakat. Pada praktiknya, para penyebar “virus” bisnis sosial ini benar-benar membawa kail dan alat pancing, lho! Hihihi.

Ada tiga konsep yang digunakan dalam kegiatan ini, yaitu Intervensi, Flash Mob dan Freeze Mob. Dalam intervensi, para panitia dan volunteer berkampanye mendekati orang-orang yang ada di sekitar Bundaran HI. Mereka memantik rasa penasaran orang-orang di sekitar dengan memberikan pertanyaan seputar bisnis sosial. Pertanyaan ini diikuti dengan penjelasan singkat seputar kewirausahaan sosial.

Para pengunjung di CFD Bundaran HI juga diajak untuk ikut bergerak dalam Flash Mob. Nah, untuk Freeze Mob, berbagai atribut berupa tulisan berbahan kardus dan kertas, digunakan agen penebar “virus” untuk menarik perhatian orang-orang sekitar. Tentu saja dengan berbagai tulisan yang provokatif sekaligus informatif! Ada pula photo booth dan pigura raksasa berbentuk kiriman instagram yang bebas dipakai para pengunjung untuk berfoto bersama.

Salah satu momen yang paling seru adalah ketika para panitia secara acak memakaikan selempang bertuliskan “Duta Socialpreneur pada para pengunjung di CFD. Pemakaian selempang ini diikuti oleh penjelasan tentang sociopreneur kepada duta terpilih bersama dengan para pengunjung di sekitarnya.

Kabarnya, pada saat Social Campaign I, ada lebih dari 3000 orang yang terlibat dan tertarik untuk mendekati para agen penebar “virus” ini, lho! Yap, mereka adalah orang-orang yang datang ke Car Free Day, termasuk panitia dan volunteer NSBC. Pada acara pertama ini, hadir pula Edan Eling, grup musik Manggarai dan infocarfreeday.net.

Sementara itu, Social Campaign II tidak kalah menariknya. Kali ini bahkan lebih meriah karena diramaikan oleh kehadiran 15 tim finalis National Competition NSBC 2014. Acara ini diadakan pada hari Minggu, 9 November 2014, masih di tempat yang sama, yaitu, Bundaran Hotel Indonesia. Ada sekitar 3000 orang yang datang ke CFD, termasuk panitia, tim finalis National Competition dan volunteer NSBC.

Written by : Nisrina Putri

Pasar Tenun Rakyat, Upaya Agar Kain Tenun Lurik Semakin Dilirik

Pasar Tenun Rakyat, Upaya Agar Kain Tenun Lurik Semakin Dilirik

Apa yang terlintas dalam benak teman-teman ketika membaca kata “tenun”? Barangkali kain songket atau ulos menjadi kata pertama yang muncul. Tapi tahukah teman-teman bahwa Yogyakarta juga memiliki tradisi tenun?

Yap, namanya adalah tenun lurik.

Dusun Sejati Desa di Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta merupakan salah satu desa yang masih meneruskan tradisi tenun lurik ini. Secara lebih spesifik, hasil tenun dari desa ini adalah stagen. Stagen merupakan kain kecil dan panjang yang dipakai wanita untuk mengencangkan perut dan membentuk postur tubuh.

Sejak 2013, Dusun Sejati Desa menjadi fokus tempat pemberdayaan Dreamdelion di Yogyakarta. Pengembangan potensi tenun lurik ini dimulai ketika Dreamdelion menyadari adanya kerusakan lingkungan di area sekitar sungai Progo. Dusun Sejati Desa adalah salah satu wilayah dampaknya.

Sebuah konsep rainbow stagen tercetus untuk membuat tenun lurik menjadi lebih dilirik oleh generasi masa kini. Kemudian usulan untuk menggunakan pewarna dengan bahan alam muncul. Pada akhirnya, Dreamdelion berinisiatif untuk menjadikan Desa Sumberarum sebagai sebuah desa wisata, yaitu Rainbow Village. Harapannya tentu saja agar masyarakat mengurangi aktivitas penambangan, pendapatan masyarakat meningkat dari hasil tenun, dan menjaga tradisi yang sudah ada sebelumnya.

Dreamdelion bekerjasama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility- Small Grant Programme), Terasmitra, dan JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID, mengadakan Pasar Tenun Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkampanyekan budaya tenun di Indonesia dan menyambut dibukanya desa wisata di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Dreamdelion juga ingin Sejati Desa dapat berkembang secara mandiri dalam sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan, semakin terbuka lebar. Pasar Tenun Rakyat ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 April 2016.

Konsep utama Pasar Tenun Rakyat adalah tinggal di desa wisata sambil belajar kebudayaan. Tidak hanya tenun, tetapi juga kesenian yang lainnya. Meski demikian, sejak Februari, telah diadakan berbagai acara tidak kalah menariknya. Ada dua pameran tentang tenun yang diadakan di Yogyakarta dan Jakarta, juga ada kompetisi photowalk yang diadakan di Dusun Sejati Desa. Rangkaian pre-event berhasil mencuri banyak perhatian publik. Hal ini terbukti pula dengan jumlah peserta yang mendaftar untuk Pasar Tenun Rakyat, yaitu sekitar 50 orang yang sebagian besar berasal dari wilayah Yogyakarta.

Sesuai dengan temanya, “Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity, Dreamdelion ingin mengajak para peserta untuk merasa bahagia dalam kesederhanaan. Selama dua hari satu malam, peserta belajar budaya sekaligus merasakan suasana pedesaan yang membuat tentram.

Dreamdelion mengajak peserta untuk melihat lebih dekat keindahan alam dan keseharian penduduk Sejati Desa. Peserta juga mendapat kesempatan untuk melihat langsung upacara Baritan, yaitu bentuk syukuran selepas panen padi.

Salah satu bagian yang paling menarik dari acara ini adalah sensasi belajar langsung dari para ahlinya. Tidak hanya tentang tenun, peserta juga diajak untuk belajar kesenian dan keterampilan yang lain. Beberapa workshop yang ditawarkan adalah workshop menenun di hari pertama. Ada pula workshop Tiedye dan Crafting dengan bahan kain tenun di hari kedua. Sementara itu, peserta juga belajar seni gamelan Jawa dan tarian Jawa yang diadakan pada malam hari pertama.

Pasar Tenun Rakyat merupakan cara Dreamdelion untuk berkontribusi menjaga kebudayaan bangsa. Tidak hanya untuk membuat tenun lurik semakin dilirik, tetapi juga menjadikan desa wisata ini sebagai cara untuk melestarikan budaya dan alam sekitar kita.

Ditulis oleh: Nisrina Putri | Foto oleh: Doni Dwitama & Yosua Pelamonia

Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

“Menenun adalah kerja budaya. Mereka sebagai warga Indonesia berhak hidup layak. Dengan mendukung gerakan ini, akan berdampak bagi berbagai pihak, diantaranya mendukung gerakan lokal.”

 

Pernyataan tersebut dituturkan oleh Paulina Dinar Tisti dari Bentara Budaya Jakarta dalam konferensi pers Cerita Tenun Tangan tanggal 15 Maret 2016 di Bentara Budaya Jakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula Ibu Catharina Dwihastarini (GEF-SGP), Mama Yovita (Yayasan Thafen Pah), dan Mbak Adinindyah (House of Lawe).

Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap kehadiran pameran Stagen: Start Again, membuat Dreamdelion ingin membagikan semangat yang sama ke tempat baru. Dreamdelion, bersama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility-Small Grant Programme), Terasmitra, JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID,  Poros, dan Bentara Budaya Jakarta, membawa kisah tenun ini ke Jakarta. Yap, sebenarnya ini adalah pameran yang tidak direncanakan sebelumnya.

Cerita Tenun Tangan ini diadakan di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 15 Maret hingga 20 Maret 2016. Pameran ini mengangkat tema Weaving for Life, yaitu bagaimana tenun memiliki dampak yang sangat besar dalam hidup para penenunnya.

Tidak hanya tenun stagen dari Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, yang disajikan dalam Cerita Tenun Rakyat, ada pula tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan 3 Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), juga ada tenun dari Biboki, Timor Tengah Utara (TTU). Keberadaan tenun di masing-masing wilayah ini memiliki makna yang menarik untuk dipahami. Ada kisah, nilai, dan budaya yang tersimpan dalam tiap helai benangnya. Maka dari itu, pameran kali ini diberi nama Cerita Tenun Tangan.

Lain daerah, lain pula cerita di balik lembaran warna-warni kain tenunnya. Di Mollo, Amanatun, dan Amanuban, hasil tenun dapat menjadi sumber penghasilan dan merupakan cara untuk mengusir tambang marmer. Ada pula kisah dari Moyudan, Yogyakarta, yang menjadikan tenun sebagai upaya untuk mengurangi kegiatan penambangan pasir di sungai Progo. Kegiatan penambangan pasir ini secara nyata telah merusak ekosistem alam di desa. Sementara itu, hasil penjualan tenun di Biboki telah digunakan untuk misi regenerasi dan beasiswa anak-anak Biboki. Sungguh menarik, bukan, menyimak cerita tenun dari masing-masing daerah?

Pameran ini tidak hanya menyajikan hasil jadi tenun tangan, tetapi juga menghadirkan beberapa alat tenun yang dapat dicoba langsung oleh para pengunjung. Para penenun asli dari Yogyakarta dan Timor Tengah Utara datang juga untuk mengajari para pengunjung cara menggunakan alat tenunnya. Hasil jadi tenun tangan ini juga dipamerkan sekaligus dijual, seperti tas, dompet, baju hingga boneka. Keuntungan penjualan ini kembali ke para penenun dan pengrajin pembuat produk di Terasmitra dan GEF-SGP, lho. Selain itu, ada pula kelas kerajinan tangan yang diadakan tiap hari. Kelas kerajinan tangan ini mengajak pengunjung untuk membuat bros, jepit rambut, dan pouch cantik dari kain tenun.

Ada pula Talkshow “Eksistensi Tenun Dulu dan Sekarang” yang diadakan pada hari kedua pameran, 16 Maret 2016. Tidak tanggung-tanggung, narasumber talkshow ini adalah Didiet Maulana, desainer terkenal dari The Ikat Indonesia, Yovita Meta Basin dari Yayasan Taefan Pah, dan Adinindyah dari House of Lawe. Perbincangan ini membahas tentang minat generasi muda terhadap kerajinan tenun dan permasalahan terkait pemasaran hasil jadi tenun itu sendiri. Masih di hari yang sama, digelar pula Fashion Show dengan tema “Aplikasi Kain Tenun dalam Berbusana”.

Pertunjukan seni dan musik membuat Cerita Tenun Tangan semakin berwarna. Ada Daniel dari sanggar Sakti Dance Company dan pertunjukan musik Sasando oleh Djitron Pah yang membuka hari pertama pameran. Teater “Main Dulu, Main Sekarang” dari Sanggar Bias hadir pula mengisi di hari ketiga. Selain itu masih ada pertunjukan musik Jimbe dari Yayasan Ciliwung Merdeka.

Kemeriahan Cerita Tenun Rakyat ini juga ditambah dengan kontes foto Cerita Tenun Tangan yang diadakan setiap hari. Caranya sederhana, cukup unggah foto tentang acara Weaving For Life, lalu tag 3 orang teman di Instagram.

Seru sekali, bukan?

Jauh di luar dugaan, Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta ini disambut hangat oleh lebih banyak orang dan lebih banyak media. Bahkan di hari terakhir, sudah ada lebih dari 500 pengunjung dalam pameran Weaving for Life! Tidak hanya itu, Dewi Motik, Frans Hartono, dan Nina Tamam turut hadir mengisi rangkaian kegiatan dalam pameran ini. Rasanya segala usaha dan kerja keras tuntas terbayarkan oleh tanggapan positif yang diberikan masyarakat.

Written by : Nisrina Putri | Photo by : Evaulia Nindya

Stagen: Start Again to Preserve the Beautiful and Unique Indonesian Culture

Stagen: Start Again to Preserve the Beautiful and Unique Indonesian Culture

Sesederhana nama yang diberikan “Stagen: Start Again, Dreamdelion ingin memulai kembali tradisi tenun yang terancam hilang. Dreamdelion ingin eksistensi tenun, terutama tenun stagen di Yogyakarta, bisa kembali naik dan mendunia. Untuk itulah Dreamdelion membuat pameran ini. Masih satu rangkaian dengan Pasar Tenun Rakyat, pameran “Stagen: Start Again” hadir sebagai upaya untuk membuat tenun lebih dikenal oleh kalangan luas.

Pameran Stagen: Start Again ini dilaksanakan pada awal tahun 2016, yaitu 13-17 Februari 2016. Acara ini merupakan sebuah kolaborasi antara Dreamdelion Yogyakarta dengan Jelajah Indi Komunikasi (JIKom), House of Lawe, serta dukungan penuh dari Global Environmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SGP).  Keberadaan pameran ini juga merupakan salah satu penyambutan dari dibukanya desa wisata pewarna alam (Rainbow Village) di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman.

“Menenun itu tidak susah hanya butuh telaten saat nyekir, proses awal menggulung benang.”

– Mbak Jimah.

Dreamdelion berusaha untuk mendekatkan para pengunjung dengan tenun, untuk kemudian membuat semakin banyak orang yang jatuh cinta dengannya. Pameran ini mengeksplorasi tenun, mulai dari perkembangan alat tenun yang digunakan, proses pewarnaannya, hingga aneka ragam hasil jadi olahannya. Ada stagen polos untuk ikat perut setelah melahirkan, stagen warna, dan kreasi kain lurik dalam bentuk tas, jam tangan, dan sepatu.

Tidak hanya pameran, Dreamdelion juga mengundang Mbak Jimah (45) dan Mbak Sumirah (34), para penenun rainbow stagen dari Desa Sumberarum. Pengunjung dapat belajar menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) kepada para penenun ini. Dalam pameran ini, beberapa gambar penenun dari luar Yogyakarta dipajang. Ada dari suku Molo, Amantun dan Amanuban, Timur Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Agar acara ini semakin menarik, Dreamdelion juga mengadakan kompetisi foto di Instagram. Para pengunjung pameran ini ditantang untuk mengunggah foto-foto mereka selama pameran. Tiap harinya, dipilih satu orang pemenang yang mendapatkan bingkisan menarik dari panitia.

Para media yang hadir juga banyak untuk meliput dan mempromosikan kegiatan ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisara Kabupaten Sleman turut menyambut baik keberadaan pameran ini.

Semoga saja setelah kegiatan ini, akan ada lebih banyak orang yang terinspirasi untuk mencintai dan menjaga kebudayaan Indonesia. Tidak ada lagi orang-orang yang dengan mudahnya menawar harga rendah untuk sebuah kain tenun. Sebab sejak awal, tenun tidak semudah itu dibuat. Ini langkah awal Dreamdelion untuk memulai kembali menghidupkan tenun.

Written by: Nisrina Putri

Merekam Cerahnya Warna-Warni Rainbow Village yang Bersejarah

Merekam Cerahnya Warna-Warni Rainbow Village yang Bersejarah

“The two most enganging powers of a photograph are to make new things familiar and familiar things new.” – William Thackeray.

Pada tanggal 7 Februari 2016, Dreamdelion di Yogyakarta mengadakan kompetisi Photowalk. Kegiatan ini adalah bagian dari pre event Pasar Tenun Rakyat.  Mengangkat tema yang sama, “Weaving for Life”, Dreamdelion mengajak pecinta fotografi untuk menyusuri dusun Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Yogyakarta.

Hujan deras mengawali persiapan keberangkatan bersama para peserta di hari Minggu pagi. Meski demikian, 60 orang peserta tetap terlihat bersemangat untuk hadir dan berkumpul di GSP UGM.  Sebagai informasi, peserta berasal dari berbagai latar belakang, dari pelajar hingga karyawan. Ada pula beberapa komunitas yang berada di Yogyakarta, seperti Dagelan Mataram, lho!

Begitu tiba di lokasi, peserta berkumpul di Joglo Pelangi, sebuah tempat luas yang biasa digunakan untuk berkumpul warga. Perkenalan dan sejarah Rainbow Village menjadi kegiatan pertama. Kemudian, panitia membagi para peserta menjadi beberapa kelompok kecil. Kelompok kecil ini akan dipandu oleh seorang pemuda desa untuk berkeliling desa dan mengambil gambar suasana desa.

Warga desa begitu antusias dan menyambut hangat kehadiran para peserta. Mereka tak ragu membiarkan para peserta mengambil gambar dari kegiatan menenun dan aktivitas sehari-hari yang lainnya. Para peserta juga ditawari aneka hasil kebun mereka, seperti buah rambutan. Ada pula hasil olahannya yang lain seperti singkong, tahu bacem, tempe mendoan, kacang rebus, arem-arem, dan pisang. Sebisa mungkin, acara ini berusaha membuat para peserta dapat merasakan suasana pedesaan yang menyenangkan.

“Saya merasa senang bisa mengikuti acara ini. Saya bisa memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru seputar proses menenun. Tenun yang dihasilkan warga Sejati Desa merupakan salah satu produk lokal Indonesia yang harus dilestarikan.”

Pernyataan diatas dikemukakan oleh Iza, seorang siswa SMA Negeri di Yogyakarta, yang juga merupakan peserta Photowalk ini. Masih ada wajah-wajah antusias dan bahagia yang nampak dari para peserta.

Peserta juga dapat membeli kain hasil tenun warga desa di acara ini. Rainbow stagen yang berukuran mirip syal ini banyak menarik perhatian peserta. Ibu Sumirah, salah seorang warga Sejati Desa sekaligus penenun, tampak sumringah melihat antusiasme peserta saat bertanya, memotret, juga membeli hasil tenunnya.

Pada pukul 12.00 WIB atau tepat tengah hari. Peserta kembali berkumpul di Joglo Pelangi untuk beristirahat dan mengikuti beberapa kuis berhadiah. Agenda foto bersama menutup rangkaian kegiatan Photowalk ini.

Proses penjurian dilakukan melalui penilaian postingan di Instagram untuk hasil foto sepanjang kegiatan Photowalk ini. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah membuat foto-foto ini menjadi viral dan dilihat oleh banyak orang. Sehingga akan semakin banyak orang mengetahui keberadaan tenun lurik di Rainbow Village. Dreamdelion menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu media promosi keberadaan agenda utama Pasar Tenun Rakyat, yaitu Live in.

Ingin berkunjung ke Sejati Desa tapi belum tahu alamatnya dimana? Feel free to ask us! #WeavingForLife: Kalau bukan kita yang menjaga budaya, siapa lagi?

Written by: Nisrina Putri | Photo by: Randitya A

Tanam Gayam: Upaya Dreamdelion Peduli Kelestarian Alam Indonesia

Tanam Gayam: Upaya Dreamdelion Peduli Kelestarian Alam Indonesia

Dreamdelion Sehat selalu berkomitmen terhadap isu kesehatan dan lingkungan. Seperti yang telah dilakukan di Yogyakarta, Dreamdelion Sehat melihat adanya pertambangan pasir di kali Progo, tepatnya di desa Sumberarum, Moyudan, Sleman, berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, Dreamdelion Sehat berkolaborasi dengan Global Environtmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SPG) untuk isu-isu lingkungan. Hal ini dilakukan dengan membuat kegiatan penanaman pohon untuk konservasi yang dinaungi oleh Rainbow Project.

Rainbow Project Dreamdelion Sehat di Yogyakarta mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan melalui beberapa cara, yakni pembuatan rumah semai yang menjadi penyuplai tanaman bagi kegiatan konservasi, pengadaan pewarna alam, dan pengembangan pertanian organik. Hal ini dilakukan untuk mendukung program besar Dreamdelion yang mengangkat potensi desa Sumberarum menjadi Desa Wisata dengan komoditas utama tenun Rainbow Stagen, kegiatan konservasi, dan pertanian organik.

Kegiatan penanaman pohon menjadi kegiatan penting. Hal ini dikarenakan hasil survei awal konservasi sungai Progo bersama tim Ekologi Biologi menunjukan pertambangan pasir di desa tersebut mengancam kelestarian lingkungan. Hasil survei tersebut menunjukan bahwa kegiatan pertambangan pasir berpotensi  terhadap perusakan tanaman dan lahan hijau, penurunan simpanan air tanah, serta penggerusan tepi sungai Progo. Berangkat dari hal ini, Dreamdelion menjadikan penanaman pohon sebagai salah satu solusi alternatifnya.

Pada Maret 2016, Dreamdelion Sehat bersama masyarakat Sejati Desa dan LEM FKT UGM membuat rumah semai untuk menunjang kegiatan penanaman pohon. Warga Sejati Desa diajak untuk mempelajari tahapan penanaman melalui pelatihan pembuatan bibit tanaman seperti kegiatan penyemaian biji dan penyapihan tanaman keras sebagai bahan penanaman kegiatan konservasi. Walaupun pada awalnya banyak bibit yang tidak tumbuh, namun semangat warga dan tim tidak luntur untuk melanjutkan upaya konservasi lingkungan sungai Progo. Dengan bantuan bibit tanaman dari BPDAS Serayu-Opak-Progo, kegiatan penanaman pohon untuk konservasi Progo masih berlanjut di rumah semai Dreamdelion Sehat.

Salah satu jenis tanaman yang direkomendasikan untuk penghijauan di kali Progo adalah pohon gayam. Pohon ini dipilih karena kemampuannya menyimpan air yang tinggi, sehingga masalah kekeringan akibat pertambangan pasir dapat diminimalisir dampaknya. Selain gayam, upaya konservasi air tanah juga dilakukan dengan pemilihan bambu untuk ditanam di areal sekitar sungai Progo. Selain gayam dan bambu, beberapa jenis pohon lain seperti petai, nyamplung, gaharu, kluwak, mahoni dan jati juga ditanam untuk memperkaya keanekaragaman hayati.

Kegiatan penanaman pohon untuk konservasi pada dasarnya telah dilakukan oleh tim Dreamdelion Sehat dan warga secara mandiri. Namun, untuk menginspirasi masyarakat, kegiatan penanaman juga dilakukan bersamaan dengan kegiatan besar Dreamdelion yaitu Pasar Tenun Rakyat (PTR) pada bulan April 2016. Peserta PTR yang berasal dari golongan masyarakat umum, para mitra dari Teras Mitra, media, institusi dinas skala provinsi maupun nasional, dan berbagai komunitas, merupakan media yang potensial untuk memperkenalkan upaya Dreamdelion Sehat dan Masyarakat Desa Sumberarum mengenai kepedulian terhadap lingkungan di sekitar sungai Progo. Diharapkan melalui kampanye besar tersebut, masyarakat akan mengenal Desa Sumberarum sebagai desa wisata yang juga peduli terhadap konservasi.

Suksesnya penanaman di kegiatan PTR bukan menjadi akhir agenda konservasi Dreamdelion Sehat di Yogyakarta. Melalui pemberdayaan masyarakat dan kerjasama dengan  elemen lain di sekitar Yogyakarta seperti FKT UGM, PSL USD, Biologi UGM, dan IMOB, kegiatan konservasi daerah sekitar sungai Progo masih dilanjutkan. Tim rumah semai Dreamdelion Sehat masih terus mengupayakan  pengadaan bibit tanaman buah seperti duku, durian merah dan sengon yang kedepannya akan dipakai untuk kegiatan enrichment planting (penanaman pengayaan jenis tanaman) serta melakukan kegiatan monitoring tanaman yang telah ditanam.

Written by: Dipta B | Photo by: Anita W

Kiprah Dreamdelion Sehat di Yogyakarta, Bersama Membangun Desa Wisata

Kiprah Dreamdelion Sehat di Yogyakarta,
Bersama Membangun Desa Wisata

Rainbow Project memiliki fokus kegiatan meliputi (1) konservasi DAS Progo melalui penanaman bantaran kali, pembuatan lahan demplot pewarna alam dan rumah semai, (2) pelatihan pemanfaatan tanaman pewarna alam dan pengelolaan desa wisata. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan masyarakat Desa Sumberarum dan juga para volunteer dari berbagai instansi di Yogyakarta seperti Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Sanata Dharma (PSL USD), Indonesia Movement of Biodiversity (IMoB), Fakultas Biologi UGM, Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Kehutanan UGM, Komunitas untuk Jogja, KKN UPN, dan volunteer perseorangan lainnya. Dukungan juga diberikan oleh instansi pemerintah seperti BPDAS Serayu-Opak-Progo yang memberikan bibit untuk penghijauan.

Hingga saat ini, Dreamdelion Sehat bersama masyarakat dan volunteer telah menginisiasi banyak kegiatan, seperti pengembangan kegiatan pertanian organik, pelatihan pembuatan kompos dan pestisida organik, pelatihan menyemai dan menyapih bibit tanaman, pembuatan bibit untuk kegiatan penanaman, survei konservasi di bantaran sungai Progo, penanaman pewarna alam dan penanaman pohon untuk konservasi bantaran sungai Progo, monitoring tanaman, dan beberapa kegiatan lainnya dengan pusat kegiatan berada di Rumah Semai Organik, Rumah Semai Tanaman Konservasi, dan Pewarna Alam yang dibangun bersama masyarakat.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dreamdelion Sehat ini mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat. Seperti yang diutarakan oleh Dita Inata, salah satu volunteer dari IMoB, “Bisa menempa diri bersama Dreamdelion Sehat sungguh pengalaman luar biasa. Kami berbagi kesadaran mencintai dan menebar kebaikan bagi lingkungan, menyulam asa bersama mereka mewujudkan bantaran Progo yang lebih hijau.” Namun demikian, Agus, salah satu volunteer, mengusulkan bahwa perlu adanya pelatihan bagi volunteer ataupun anggota Dremdelion dalam pengelolaan lingkungan hidup.

“Saya rasa elemen Dreamdelion Sehat perlu meningkatkan kemampuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup agar cita-cita Progo yang lebih hijau bisa dengan cepat terlaksana. Mungkin adanya pelatihan bisa mendorong peningkatan itu,” ucap salah satu mahasiswa dari UGM tersebut.

Perlahan namun pasti, cita-cita Dreamdelion Sehat di Yogyakarta terhadap kondisi kesehatan masyarakat dan kondisi lingkungan desa Sumberarum ditingkatkan secara nyata. Kegiatan-kegiatan lain telah disiapkan untuk menunjang pengembangan desa wisata berbasis budaya “tenun Rainbow stagen” dan lingkungan “konservasi bantaran Progo”. Kegiatan yang dilakukan dengan menggandeng masyarakat dan berbagai instansi itu diharapkan semakin besar dan berdampak nyata kepada masyarakat Sumberarum. Seperti nilai yang dianut Dreamdelion yaitu “berkolaborasi”, Dreamdelion selalu mengajak semua lapisan masyarakat tersebut untuk bersama membangun desa wisata di Sumberarum.

Ditulis oleh: Dipta B | Foto oleh: Anita D

Peduli Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dreamdelion Luncurkan GEMAS

Peduli Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dreamdelion Luncurkan GEMAS

Melihat kondisi masyarakat Manggarai yang mayoritas tidak menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Dreamdelion Sehat yang saat itu dipimpin oleh Faiqa Himma Emalia, tergerak memberdayakan masyarakat daerah tersebut untuk lebih peduli terhadap kesehatan warganya melalui kegiatan GEMAS (Gerakan Masyarakat Sehat). Hingga saat ini, kegiatan yang selalu melibatkan banyak komunitas dan masyarakat umum dalam pelaksanaaanya ini telah terlaksana sebanyak 6 kali.

Kegiatan GEMAS pertama kali dilaksanakan pada tahun 2013 dengan tujuan mengetahui kondisi kesehatan warga Manggarai. Hal ini diutarakan oleh Jihan Rigel, Ketua Kegiatan GEMAS I, “Kegiatan ini dilakukan untuk pendeteksian dan assesment awal kesehatan masyarakat Manggarai yang kedepannya menjadi titik awal pembuatan work plan dan program-program yang akan dijalankan Dreamdelion Sehat kedepan.” Diawali dengan senam jantung sehat dan pembagian bubur kacang hijau, assesment selanjutnya dilakukan dengan bantuan 50 orang dari dokter volunteer, NUFA Fakultas Ilmu Keperawatan UI, dan Fakultas Farmasi UI. Kegiatan yang dihadiri 500 warga Manggarai itu turut memperoleh bantuan dari beberapa LSM seperti Dompet Dhuafa, PKPU dan ACT dengan menyumbangkan obat-obatan yang diberikan gratis pada masyarakat.

Di tahun yang sama, Dreamdelion Sehat kembali melanjutkan kesuksesan kegiatan GEMAS I melalui kolaborasi dengan BEM FIB UI 2013. Dreamdelion Sehat menyelenggarakan kegiatan GEMAS II dengan target 250 warga lanjut usia. Pelaksanaan program tersebut juga dilengkapi dengan kegiatan lain seperti penyuluhan mengenai lingkungan yang bersih untuk ibu-ibu serta kegiatan bermain dan belajar bersama untuk anak-anak di lingkungan RW 04 Manggarai.

Di tahun 2014, Dreamdelion Sehat berkolaborasi dengan FKG UI untuk melaksanakan kegiatan GEMAS III. Kegiatan yang berfokus pada kesehatan gigi tersebut merupakan penawaran dari para Co-ass FKG UI. Euis Ratna Sari, Ketua Dreamdelion Sehat mengungkapkan bahwa, “Kami terima kerjasama dengan FKG UI karena Dreamdelion Sehat juga memiliki tujuan untuk meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat.” Hal ini menunjukan komitmen Dreamdelion terhadap kesehatan warga Manggarai.

Kepedulian terhadap remaja Manggarai terlihat dari kegiatan GEMAS IV dimana 150 peserta dari 500 warga merupakan remaja Manggarai. Dibantu oleh Rumah Panda FKM, screening (penyaringan kasus kesehatan) kepada remaja dilakukan untuk mengetahui perilaku bebas yang terjadi di antara remaja Manggarai yang berdampak pada tingginya pernikahan usia dini. Selain bekerjasama dengan Rumah Panda FKM, Dreamdelion Sehat turut membuka rekrutmen dokter volunteer bagi para dokter yang telah memiliki legalitas. Tenaga jasa turut dibantu oleh ITHPS dan para apoteker yang berasal dari Fakultas Farmasi UI. Pelaksanaan GEMAS IV juga mendapat dukungan sponsor dari banyak pihak, sebut saja Bank Indonesia, Dompet Dhuafa, Danone, ACT, PKPU, dan banyak sponsor lainnya. Kegiatan semakin marak dengan adanya publikasi dari Radio RTC UI.

Setelah jeda selama satu tahun, upaya soft opening (lagi) dilakukan sembari melaksanakan kegiatan GEMAS V dengan tema “Manggarai Sehat, Manggarai Berkualitas”. Dreamdelion Sehat melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan secara gratis serta talkshow terkait pentingnya hidup sehat. Dengan Membawa misi Dreamdelion untuk selalu bersinergi, kegiatan ini bekerja sama dengan CIMB Niaga dan Dompet Dhuafa serta melibatkan 10 Dokter, 4 Ahli Gizi, 3 suster, 6 apoteker, dan 37 volunteer, sehingga 175 warga dapat memperoleh layanan kesehatan secara gratis, 1748 obat-obatan terdistribusikan, dan 200 anak-anak terlibat dalam permainan edukatif terkait dengan kesehatan dan lingkungan. Hal ini seperti yang diungkapkan Diana sebagai Koordinator Dreamdelion, “Bagaimanapun kami mengupayakan Dreamdelion Sehat selalu bersinergi dengan banyak pihak agar banyak pula pihak yang bisa terlibat memberikan manfaat untuk banyak orang.”

GEMAS VI hadir di bulan Juni 2016 dengan tema bertajuk “Manggarai Peduli Kesehatan Gigi”. Kegiatan ini mengajak 150 anak dari Sanggar Dreamdelion untuk sadar mengenai pentingnya kesehatan gigi. Kegiatan yang memperoleh dukungan dari Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Moestopo, Pepsodent, dan Rumah Zakat ini menjadi menarik dengan adanya tarian mengenai kesehatan gigi yang dilakukan oleh anak-anak sanggar. Tarian yang melibatkan huruf yang bertuliskan “Gosok Gigilah” menjadi daya tarik di kegiatan tersebut. Acara yang dikemas secara menarik ini juga mengadakan pemeriksaan gigi gratis, penindakan (pencabutan) bila diperlukan, serta penyuluhan mengenai pentingnya merawat gigi. Selain itu, pengemasan acara yang menarik bagi anak-anak juga dimaksudkan untuk menarik minat anak-anak terhadap kegiatan sanggar Dreamdelion Sehat yang menjadi salah satu program yang dilaksanakan di sana.

Kegiatan yang dikemas melalui program GEMAS hingga saat ini mendapat sambutan baik dari masyarakat. Dreamdelion Sehat berharap hal ini berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat di sekitar Manggarai sehingga kualitas hidup masyarakat di sana semakin baik dan mensukseskan program pemerintah melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Written by: Dipta B

Dreamdelion Sehat: Agen Perubahan Kesehatan dan Lingkungan

Dreamdelion Sehat: Agen Perubahan Kesehatan dan Lingkungan

Dreamdelion Sehat merupakan salah satu Community Empowerment dari komunitas bisnis sosial (sociopreneur) Dreamdelion. Komunitas pemberdayaan ini muncul karena adanya perhatian Faiqa Himma Emalia atas kondisi warga Manggarai yang tidak menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mahasiswi Keperawatan UI itu merasa tergerak hatinya untuk mengamalkan ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliahnya. “Ilmu yang tidak berguna bagi orang banyak adalah ilmu yang kurang manfaatnya,” batinnya ketika itu. Ia lalu mengajukan diri kepada Alia Noor Anoviar, Pendiri Komunitas Dreamdelion, untuk terlibat lebih jauh terhadap pemberdayaan masyarakat yang berfokus kepada kesehatan dan lingkungan melalui komunitas pemberdayaan Dreamdelion Sehat.

Di saat itulah, 18 Juli 2012, Dreamdelion Sehat dimulai. Faiqa dan tim yang berintikan 8 orang mulai menginisiasikan kegiatan Manggarai Sehat. PHBS menjadi poin penting yang ditekankan oleh tim Manggarai Sehat ketika itu. Kemudian Faiqa dan tim menginisiasi Gerakan Manggarai Sehat (GEMAS) untuk mengetahui status kesehatan masyarakat Manggarai. Permasalahan pernikahan dini yang 90% disebabkan oleh perilaku seks bebas juga menjadi keprihatinan tim Dreamdelion Sehat. Kesempatan berkontribusi lebih jauh ini, ditindak lanjuti dengan menginisiasi kegiatan Manggarai Berlari (MARBEL). Kegiatan ini diinisiasi sebagai usaha meningkatkan kesadaran remaja Manggarai tentang kesehatan reproduksi, pernikahan, dan aktualisasi diri.

Pada tahun 2014, koordinator yang sebelumnya dijabat oleh Faiqa dilanjutkan oleh Euis Ratna Sari. Selama kepemimpinan Euis, Dreamdelion Sehat melihat bahwa permasalahan lingkungan juga memiliki peran yang besar terhadap status kesehatan masyarakat. Ia menilai bahwa banyaknya sampah dan kurangnya penghijauan juga berperan terhadap rendahnya kualitas hidup masyarakat Manggarai. Euis dan tim mencoba menyelesaikan permasalah tersebut dengan program yang dikemas dengan nama Vertikultur. Program ini mencoba memberdayakan masyarakat untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos dan melakukan penghijauan menggunakan konsep pertanian vertikal (verticulture). Walaupun dengan permasalahan baru, namun program-program Dreamdelion Sehat yang sebelumnya telah berjalan, tetap terlaksana dengan optimal.

Saat ini, Dreamdelion sehat dipimpin oleh Diana Hemas. Program yang coba dikembangkan oleh Diana adalah kegiatan Sanggar Dreamdelion Sehat. Pertemuan yang berlangsung seminggu sekali ini merupakan kegiatan yang diinisiasi untuk anak-anak Manggarai agar lebih sadar terhadap kesehatannya. Kedepannya, Diana berharap proses pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan ini semakin simultan dengan melibatkan seluruh lapisan umur Masyarakat Manggarai.

“Kedepan, kami merencanakan akan ada semacam talk show yang mengundang orang tua dan anak-anak, sehingga yang kami ajarkan di sanggar bisa memberikan dampak yang nyata melalui implementasi sehari-hari di kehidupan mereka,” ujar Diana.

Periode kepemimpinan Diana turut ditandai dengan semakin lebarnya sayap Dreamdelion Sehat. Saat ini di Yogyakarta, Dreamdelion Sehat melakukan kegiatan pemberdayaan di Desa Sumberarum, Moyudan, Sleman. Di daerah tersebut Dreamdelion mengembangkan program Rainbow Project dengan kegiatan utama pengembangan bibit pewarna alam, kegiatan konservasi bantaran kali Progo, dan pengembangan pertanian organik. Kegiatan itu dilakukan untuk mendukung kegiatan utama Dreamdelion yaitu desa wisata berbasis kebudayaan dan lingkungan dengan komoditas utamanya tenun Rainbow Stagen.

Selama ini Dreamdelion Sehat telah banyak bekerjasama dengan berbagai pihak selaku volunteer maupun sponsor kegiatan. Hal ini tidak lepas dari filosofi yang dianut Dreamdelion yaitu “berkolaborasi” dalam memberdayakan masyarakat. Ada Bank Indonesia, CIMB Niaga, ACT, Dompet Duafa, PKPU, beberapa elemen dari Universitas Indonesia (UI), Danone, Rumah Zakat, Universitas Moestopo, dan beberapa komunitas dan instansi lain pernah bekerjasama dengan Dreamdelion Sehat. Untuk kegiatan di Yogyakarta Dreamdelion Sehat telah bekerjasama dengan PSL USD, IMoB, Beberapa elemen dari UGM, Komunitas untuk Jogja, serta beberapa komunitas dan instansi lainnya.

Inisiatif positif dari Faiqa Himma ini diharapkan akan terus tumbuh dan berkembang seperti filosofi bunga dandelion yang terbang dan tumbuh di tempat baru. Seperti harapan salah saru volunteer yang pernah bekerjasama dengan Dreamdelion, Fajar Tontowi, mahasiswa Gunadarma itu pernah berharap, “Semoga Dreamdelion bisa ada di seluruh kota di Indonesia, sehingga bisa memajukan Indonesia dengan aksi nyata.”

Harapan yang sama diungkapkan oleh Titisari, Mahasiswa UI, “Dreamdelion adalah wadah bagi generasi muda untuk beraksi nyata, saya harap Dreamdelion terus berkembang hingga ke daerah di seluruh Indonesia. Dan mungkin dari kalian ada yang mau jadi agen perubahan?”

Written by: Dipta B

Dreamdelion Kreatif: Membangun Semangat Kreatifitas Tanpa Batas

Dreamdelion Kreatif: Membangun Semangat Kreatifitas Tanpa Batas

Dreamdelion yang merupakan komunitas bisnis sosial yang diinisiasikan pada 18 Juli 2012 ini telah dikenal luas dan berhasil memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan mimpinya. Adapun masyarakat tersebut terdapat di lokasi bantaran kali Manggarai, Jakarta, desa Sumberanum, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dalam pemberdayaan masyarakat, Dreamdelion memiliki tiga program unggulan, yakni Dreamdelion Kreatif, Dreamdelion Sehat, dan Dreamdelion Cerdas.

Dreamdelion Kreatif memiliki tujuan untuk membekali peserta pemberdayaan. Pada awalnya Dreamdelion Kreatif ini disebut Manggarai Berkarakter, karena saat itu Dreamdelion masih berfokus pada masyarakat Manggarai saja. Tujuan dari Manggarai Berkarakter adalah untuk membangun karakter masyarakat di Manggarai, khususnya ibu rumah tangga. Karena seringkali terjadi tumpang tindih tugas dengan tim lain, nama Dreamdelion Kreatif ini kemudian berganti nama menjadi Dreamdelion Kreatif.

Dreamdelion Kreatif yang awalnya diikuti 7 orang ini pun berkembang. Dreamdelion yang tadinya fokus pada masyarakat Manggarai kemudian melebarkan sayap hingga ke Yogyakarta dan Jawa Timur. Adapun pelatihan yang diajarkan oleh Dreamdelion ini berupa pelatihan hardskill maupun softskill. Pelatihan hardskill ini dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk mempelajari cara pembuatan kerajinan tangan dengan menggunakan mesin produksi. Adapun pelatihan softskill dilakukan dengan melatih bagaimana cara manajemen keuangan, memasarkan produk, bernegosiasi, dan berkomunikasi yang baik dengan berbagai pihak.

Tidak hanya sampai di situ, Dreamdelion Kreatif juga mengajak kerjasama berbagai pihak dalam pengembangannya. Kerjasama itu dilakukan dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Imigrasi (Kemenakertrans) dan Rumah Perubahan Rhenad Kasali. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menyelenggarakan pelatihan kerajinan tangan bersama 25 ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pekerja lepas, penjual makanan, dan pencuci laundry. Tidak hanya ibu rumah tangga, peserta lanjut usia pun juga turut hadir dalam pelatihan tersebut.

Written by: Leovita A