Dreamdelion

Dreamdelion Sehat: Agen Perubahan Kesehatan dan Lingkungan

Dreamdelion Sehat: Agen Perubahan Kesehatan dan Lingkungan

Dreamdelion Sehat merupakan salah satu Community Empowerment dari komunitas bisnis sosial (sociopreneur) Dreamdelion. Komunitas pemberdayaan ini muncul karena adanya perhatian Faiqa Himma Emalia atas kondisi warga Manggarai yang tidak menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mahasiswi Keperawatan UI itu merasa tergerak hatinya untuk mengamalkan ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliahnya. “Ilmu yang tidak berguna bagi orang banyak adalah ilmu yang kurang manfaatnya,” batinnya ketika itu. Ia lalu mengajukan diri kepada Alia Noor Anoviar, Pendiri Komunitas Dreamdelion, untuk terlibat lebih jauh terhadap pemberdayaan masyarakat yang berfokus kepada kesehatan dan lingkungan melalui komunitas pemberdayaan Dreamdelion Sehat.

Di saat itulah, 18 Juli 2012, Dreamdelion Sehat dimulai. Faiqa dan tim yang berintikan 8 orang mulai menginisiasikan kegiatan Manggarai Sehat. PHBS menjadi poin penting yang ditekankan oleh tim Manggarai Sehat ketika itu. Kemudian Faiqa dan tim menginisiasi Gerakan Manggarai Sehat (GEMAS) untuk mengetahui status kesehatan masyarakat Manggarai. Permasalahan pernikahan dini yang 90% disebabkan oleh perilaku seks bebas juga menjadi keprihatinan tim Dreamdelion Sehat. Kesempatan berkontribusi lebih jauh ini, ditindak lanjuti dengan menginisiasi kegiatan Manggarai Berlari (MARBEL). Kegiatan ini diinisiasi sebagai usaha meningkatkan kesadaran remaja Manggarai tentang kesehatan reproduksi, pernikahan, dan aktualisasi diri.

Pada tahun 2014, koordinator yang sebelumnya dijabat oleh Faiqa dilanjutkan oleh Euis Ratna Sari. Selama kepemimpinan Euis, Dreamdelion Sehat melihat bahwa permasalahan lingkungan juga memiliki peran yang besar terhadap status kesehatan masyarakat. Ia menilai bahwa banyaknya sampah dan kurangnya penghijauan juga berperan terhadap rendahnya kualitas hidup masyarakat Manggarai. Euis dan tim mencoba menyelesaikan permasalah tersebut dengan program yang dikemas dengan nama Vertikultur. Program ini mencoba memberdayakan masyarakat untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos dan melakukan penghijauan menggunakan konsep pertanian vertikal (verticulture). Walaupun dengan permasalahan baru, namun program-program Dreamdelion Sehat yang sebelumnya telah berjalan, tetap terlaksana dengan optimal.

Saat ini, Dreamdelion sehat dipimpin oleh Diana Hemas. Program yang coba dikembangkan oleh Diana adalah kegiatan Sanggar Dreamdelion Sehat. Pertemuan yang berlangsung seminggu sekali ini merupakan kegiatan yang diinisiasi untuk anak-anak Manggarai agar lebih sadar terhadap kesehatannya. Kedepannya, Diana berharap proses pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan ini semakin simultan dengan melibatkan seluruh lapisan umur Masyarakat Manggarai.

“Kedepan, kami merencanakan akan ada semacam talk show yang mengundang orang tua dan anak-anak, sehingga yang kami ajarkan di sanggar bisa memberikan dampak yang nyata melalui implementasi sehari-hari di kehidupan mereka,” ujar Diana.

Periode kepemimpinan Diana turut ditandai dengan semakin lebarnya sayap Dreamdelion Sehat. Saat ini di Yogyakarta, Dreamdelion Sehat melakukan kegiatan pemberdayaan di Desa Sumberarum, Moyudan, Sleman. Di daerah tersebut Dreamdelion mengembangkan program Rainbow Project dengan kegiatan utama pengembangan bibit pewarna alam, kegiatan konservasi bantaran kali Progo, dan pengembangan pertanian organik. Kegiatan itu dilakukan untuk mendukung kegiatan utama Dreamdelion yaitu desa wisata berbasis kebudayaan dan lingkungan dengan komoditas utamanya tenun Rainbow Stagen.

Selama ini Dreamdelion Sehat telah banyak bekerjasama dengan berbagai pihak selaku volunteer maupun sponsor kegiatan. Hal ini tidak lepas dari filosofi yang dianut Dreamdelion yaitu “berkolaborasi” dalam memberdayakan masyarakat. Ada Bank Indonesia, CIMB Niaga, ACT, Dompet Duafa, PKPU, beberapa elemen dari Universitas Indonesia (UI), Danone, Rumah Zakat, Universitas Moestopo, dan beberapa komunitas dan instansi lain pernah bekerjasama dengan Dreamdelion Sehat. Untuk kegiatan di Yogyakarta Dreamdelion Sehat telah bekerjasama dengan PSL USD, IMoB, Beberapa elemen dari UGM, Komunitas untuk Jogja, serta beberapa komunitas dan instansi lainnya.

Inisiatif positif dari Faiqa Himma ini diharapkan akan terus tumbuh dan berkembang seperti filosofi bunga dandelion yang terbang dan tumbuh di tempat baru. Seperti harapan salah saru volunteer yang pernah bekerjasama dengan Dreamdelion, Fajar Tontowi, mahasiswa Gunadarma itu pernah berharap, “Semoga Dreamdelion bisa ada di seluruh kota di Indonesia, sehingga bisa memajukan Indonesia dengan aksi nyata.”

Harapan yang sama diungkapkan oleh Titisari, Mahasiswa UI, “Dreamdelion adalah wadah bagi generasi muda untuk beraksi nyata, saya harap Dreamdelion terus berkembang hingga ke daerah di seluruh Indonesia. Dan mungkin dari kalian ada yang mau jadi agen perubahan?”

Written by: Dipta B

Menilik Keindahan Pembuatan Stagen Desa Sumberanum Lebih Dekat

Menilik Keindahan Pembuatan Stagen Desa Sumberanum Lebih Dekat

“Di desa ini, semua perempuan menenun apabila ada waktu senggang,” ujar ibu salah satu penenun stagen di dusun Sejatidesa, desa Sumberanum. Kisah yang dimulai pada pertengahan 2013 antara Dreamdelion dan masyarakat desa Sumberanum kini masih berlanjut. Meskipun pada awalnya, masyarakat setempat pernah merasa skeptis dan khawatir apabila kedatangan Dreamdelion hanya beberapa bulan kemudian terhenti. Masyarakat setempat masih khawatir akan pengalaman tersebut.

Perjalanan Dreamdelion dengan masyarakat desa Sumberanum pun sudah menjajaki tiga tahun. Selama tiga tahun tersebut, sudah beratus-ratus kain stagen yang diproduksi masyarakat Sumberanum. Awalnya, kain stagen yang diproduksi masih didominasi warna gelap, seperti hitam dan biru tua. Kini, produksi stagen yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), sudah mampu menginovasikan kain stagen menjadi warna yang lebih kreatif. Bahkan, setelah melakukan internalisasi, hearing, dan sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan Dreamdelion, masyarakat mampu menghasilkan kain tenun yang ikonis yang dikenal dengan rainbow weave, jenis kain tenun stagen yang memiliki warna yang menyerupai pelangi.

Proses penenunan stagen terbilang tidak mudah. Ada beberapa tahap persiapan sebelum benang-benangnya siap ditenun. Di awal pengerjaan, ibu-ibu penenun perlu mempersiapkan benang stagen yang disebut lawe, benang untuk pembuatan stagen yang masih mentah. Lawe ini belum berwarna-warni, masih merupakan benang dengan warna putih seperti gading. Untuk membuat benang ini memiliki warna-warna yang indah, ibu-ibu penenun perlu merendamkan lawe ini ke dalam cairan pewarna yang masih panas. Setelah itu, lawe harus dikeringkan dengan dijemur, dan siap untuk masuk tahap selanjutnya.

Selanjutnya setelah mendapatkan benang yang berwarna-warni, ibu-ibu penenun perlu melakukan sekir. Sekir adalah penataan ratusan benang yang berwarna-warni untuk kemudian membentuk pola yang diinginkan. Untuk mencapai pola kain tenun stagen yang sempurna, tahapan sekir ini memerlukan waktu yang panjang, ketelatenan, dan kesabaran yang tinggi. Selain itu, tahapan sekir ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, perlu penenun ahli untuk melakukannya

“Jika akan menenun stagen bermotif, proses sekir ini lebih rumit. Sebanyak 350 helai benang dengan beberapa warna harus ditata menggunakan pola tertentu agar menghasilkan motif yang diinginkan,” ujar Sumirah, salah satu penenun kain stagen di dusun Sejatidesa.

Kain kain tenun stagen hasil produksi masyarakat desa Sumberanum ini mampu menghasilkan 15 sampai 20 meter dengan lebar 14,5 cm. Adapun kain stagen yang dihasilkan adalah kain stagen polos dan kain stagen motif. Untuk kain stagen polos dengan panjang 9,5 meter diberi harga Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu, sedangkan untuk kain stagen bermotif diberi harga per meter Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

Kini, produk-produk kain stagen dapat dinikmati dengan berbagai inovasi. Bekerjasama dengan House of Lawe, kain stagen buatan desa Sumberanum disulap menjadi produk Daisy Pouch, Tera Bag, Lola Bag, dan Nit-nit Pouch. Untuk menikmati kain stagen dalam bentuk baju tenun, Dreamdelion juga bekerjasama dengan Oemah Etnik.

Written by: Leovita A | Photo by: Ratna Ayu

Dreamdelion Kreatif: Membangun Semangat Kreatifitas Tanpa Batas

Dreamdelion Kreatif: Membangun Semangat Kreatifitas Tanpa Batas

Dreamdelion yang merupakan komunitas bisnis sosial yang diinisiasikan pada 18 Juli 2012 ini telah dikenal luas dan berhasil memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan mimpinya. Adapun masyarakat tersebut terdapat di lokasi bantaran kali Manggarai, Jakarta, desa Sumberanum, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dalam pemberdayaan masyarakat, Dreamdelion memiliki tiga program unggulan, yakni Dreamdelion Kreatif, Dreamdelion Sehat, dan Dreamdelion Cerdas.

Dreamdelion Kreatif memiliki tujuan untuk membekali peserta pemberdayaan. Pada awalnya Dreamdelion Kreatif ini disebut Manggarai Berkarakter, karena saat itu Dreamdelion masih berfokus pada masyarakat Manggarai saja. Tujuan dari Manggarai Berkarakter adalah untuk membangun karakter masyarakat di Manggarai, khususnya ibu rumah tangga. Karena seringkali terjadi tumpang tindih tugas dengan tim lain, nama Dreamdelion Kreatif ini kemudian berganti nama menjadi Dreamdelion Kreatif.

Dreamdelion Kreatif yang awalnya diikuti 7 orang ini pun berkembang. Dreamdelion yang tadinya fokus pada masyarakat Manggarai kemudian melebarkan sayap hingga ke Yogyakarta dan Jawa Timur. Adapun pelatihan yang diajarkan oleh Dreamdelion ini berupa pelatihan hardskill maupun softskill. Pelatihan hardskill ini dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk mempelajari cara pembuatan kerajinan tangan dengan menggunakan mesin produksi. Adapun pelatihan softskill dilakukan dengan melatih bagaimana cara manajemen keuangan, memasarkan produk, bernegosiasi, dan berkomunikasi yang baik dengan berbagai pihak.

Tidak hanya sampai di situ, Dreamdelion Kreatif juga mengajak kerjasama berbagai pihak dalam pengembangannya. Kerjasama itu dilakukan dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Imigrasi (Kemenakertrans) dan Rumah Perubahan Rhenad Kasali. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menyelenggarakan pelatihan kerajinan tangan bersama 25 ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pekerja lepas, penjual makanan, dan pencuci laundry. Tidak hanya ibu rumah tangga, peserta lanjut usia pun juga turut hadir dalam pelatihan tersebut.

Written by: Leovita A

Menggerakkan Kreativitas Masyarakat, Yuk Mengenal Dreamdelion Lebih Jauh!

Dreamdelion yang merupakan komunitas bisnis sosial yang diinisiasikan pada 18 Juli 2012 ini telah dikenal luas dan berhasil memberdayakan masyarakat untuk mewujudkan mimpinya. Adapun masyarakat tersebut terdapat di lokasi bantaran kali Manggarai, Jakarta, desa Sumberanum, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dalam pemberdayaan masyarakat, Dreamdelion memiliki tiga program unggulan, yakni Dreamdelion Kreatif, Dreamdelion Sehat, dan Dreamdelion Cerdas.

Dreamdelion Kreatif memiliki tujuan untuk membekali peserta pemberdayaan. Pada awalnya Dreamdelion Kreatif ini disebut Manggarai Berkarakter, karena saat itu Dreamdelion masih berfokus pada masyarakat Manggarai saja. Tujuan dari Manggarai Berkarakter adalah untuk membangun karakter masyarakat di Manggarai, khususnya ibu rumah tangga. Karena seringkali terjadi tumpang tindih tugas dengan tim lain, nama Dreamdelion Kreatif ini kemudian berganti nama menjadi Dreamdelion Kreatif.

Dreamdelion Kreatif yang awalnya diikuti 7 orang ini pun berkembang. Dreamdelion yang tadinya fokus pada masyarakat Manggarai kemudian melebarkan sayap hingga ke Yogyakarta dan Jawa Timur. Adapun pelatihan yang diajarkan oleh Dreamdelion ini berupa pelatihan hardskill maupun softskill. Pelatihan hardskill ini dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk mempelajari cara pembuatan kerajinan tangan dengan menggunakan mesin produksi. Adapun pelatihan softskill dilakukan dengan melatih bagaimana cara manajemen keuangan, memasarkan produk, bernegosiasi, dan berkomunikasi yang baik dengan berbagai pihak.

Tidak hanya sampai di situ, Dreamdelion Kreatif juga mengajak kerjasama berbagai pihak dalam pengembangannya. Kerjasama itu dilakukan dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Imigrasi (Kemenakertrans) dan Rumah Perubahan Rhenad Kasali. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka menyelenggarakan pelatihan kerajinan tangan bersama 25 ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pekerja lepas, penjual makanan, dan pencuci laundry. Tidak hanya ibu rumah tangga, peserta lanjut usia pun juga turut hadir dalam pelatihan tersebut.

Written by : Leovita A

Mengangkat Sociopreneur dalam Pemberdayaan Masyarakat, Dreamdelion adalah Mimpi Bersama

Mimpi merupakan keajaiban dari perubahan. Ketika sebuah mimpi telah dicetuskan, maka perubahan yang mengagumkan lahir di dunia ini. Banyak kisah menakjubkan yang lahir dari sebuah mimpi. Namun, yang lebih hebat dari mimpi adalah untuk melakukan perubahan dari mimpi itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus asal India, “You must be the change you wish to see in the world.” Untuk dapat melihat dunia, mengubah dunia, membuat mimpi menjadi nyata, seseorang perlu menjadi bagian dari perubahan. Seseorang itu perlu menjadi perubahan (penggerak) atas mimpinya. Sama halnya dengan Dreamdelion. Tanpa adanya penggerak dari mimpi, keajaiban Dreamdelion tidak akan hadir di pemimpi lainnya.

Digagasnya Dreamdelion diawali dari penelitian yang dilakukan beberapa kaum muda mengenai permasalahan masyarakat urban pada tahun 2011. Saat itu mereka melihat bahwa salah satu lokasi dengan permasalahan masyarakat urban serius ada di bantaran kali Manggarai. Manggarai yang merupakan salah satu kota di Jakarta yang memiliki terminal, stasiun, serta beberapa pusat perbelanjaan. Namun, meskipun lokasi ini terbilang stategis, masyarakatnya didominasi dengan kaum marjinal. Layaknya permasalahan urban, masyarakat bantaran kali Manggarai memiliki permasalahan sosial yang terbilang kompleks, mulai dari kemiskinan, kependudukan, pendidikan, bahkan kesehatan. Hal itulah yang membuat Dreamdelion terdorong untuk mengadakan pemberdayaan masyarakat di sana.

Di awal perjalanan memberdayakan masyarakat, Dreamdelion perlu menggunakan cara unik agar dapat masuk masyarakat. Hal ini dikarenakan resistensi masyarakat Manggarai yang tinggi. Sebelumnya, masyarakat Manggarai sering menerima keinginan mahasiswa untuk memberdayakan lokasi setempat, namun hal itu tidak berjalan lancar bahkan programnya dibiarkan terbengkalai. Melihat adanya kekhawatiran masyarakat akan pengalaman sebelumnya, Dreamdelion menggunakan pendekatan pada ibu-ibu dan anak-anak yang cenderung lebih terbuka dengan pendatang baru. Melalui cara inilah akhirnya Dreamdelion pun mampu berbaur dengan masyarakat Manggarai.

Awalnya tidak percaya, saya pikir hanya iseng-iseng saja,” ungkap Yuli salah satu masyarakat Manggarai.

Kini, komunitas yang mengangkat konsep bisnis sosial ini telah berjalan selama lebih dari 4 tahun dan sudah berkembang ke banyak lokasi, bukan hanya di bantaran kali Manggarai, tetapi Dreamdelion sudah ada di Yogyakarta bahkan Jawa Timur. Dari konsep inilah Dreamdelion menggerakkan mimpinya. Menggerakkan mimpi bersama yang membawa kebermanfaatan. Dengan slogan Bahagia Itu Sederhana, Dreamdelion yakin bahwa untuk menciptakan kebahagiaan bersama ternyata tidak dapat melalui cara-cara yang sederhana. Oleh karena itu, mereka yakin itulah alasan mereka untuk harus bersama.

Written by : Leovita A | Photo by : Evaulia Nindya

Menggagas Konsep Bisnis Sosial dalam Misi Pemberdayaan Masyarakat

Menggagas Konsep Bisnis Sosial dalam Misi Pemberdayaan Masyarakat

Mimpi merupakan keajaiban dari perubahan. Ketika sebuah mimpi telah dicetuskan, maka perubahan yang mengagumkan lahir di dunia ini. Banyak kisah menakjubkan yang lahir dari sebuah mimpi. Namun, yang lebih hebat dari mimpi adalah untuk melakukan perubahan dari mimpi itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus asal India, “You must be the change you wish to see in the world.” Untuk dapat melihat dunia, mengubah dunia, membuat mimpi menjadi nyata, seseorang perlu menjadi bagian dari perubahan. Seseorang itu perlu menjadi perubahan (penggerak) atas mimpinya. Sama halnya dengan Dreamdelion. Tanpa adanya penggerak dari mimpi, keajaiban Dreamdelion tidak akan hadir di pemimpi lainnya.

Digagasnya Dreamdelion diawali dari penelitian yang dilakukan beberapa kaum muda mengenai permasalahan masyarakat urban pada tahun 2011. Saat itu mereka melihat bahwa salah satu lokasi dengan permasalahan masyarakat urban serius ada di bantaran kali Manggarai. Manggarai yang merupakan salah satu kota di Jakarta yang memiliki terminal, stasiun, serta beberapa pusat perbelanjaan. Namun, meskipun lokasi ini terbilang stategis, masyarakatnya didominasi dengan kaum marjinal. Layaknya permasalahan urban, masyarakat bantaran kali Manggarai memiliki permasalahan sosial yang terbilang kompleks, mulai dari kemiskinan, kependudukan, pendidikan, bahkan kesehatan. Hal itulah yang membuat Dreamdelion terdorong untuk mengadakan pemberdayaan masyarakat di sana.

Di awal perjalanan memberdayakan masyarakat, Dreamdelion perlu menggunakan cara unik agar dapat masuk masyarakat. Hal ini dikarenakan resistensi masyarakat Manggarai yang tinggi. Sebelumnya, masyarakat Manggarai sering menerima keinginan mahasiswa untuk memberdayakan lokasi setempat, namun hal itu tidak berjalan lancar bahkan programnya dibiarkan terbengkalai. Melihat adanya kekhawatiran masyarakat akan pengalaman sebelumnya, Dreamdelion menggunakan pendekatan pada ibu-ibu dan anak-anak yang cenderung lebih terbuka dengan pendatang baru. Melalui cara inilah akhirnya Dreamdelion pun mampu berbaur dengan masyarakat Manggarai.

Awalnya tidak percaya, saya pikir hanya iseng-iseng saja,” ungkap Yuli salah satu masyarakat Manggarai.

Kini, komunitas yang mengangkat konsep bisnis sosial ini telah berjalan selama lebih dari 4 tahun dan sudah berkembang ke banyak lokasi, bukan hanya di bantaran kali Manggarai, tetapi Dreamdelion sudah ada di Yogyakarta bahkan Jawa Timur. Dari konsep inilah Dreamdelion menggerakkan mimpinya. Menggerakkan mimpi bersama yang membawa kebermanfaatan. Dengan slogan Bahagia Itu Sederhana, Dreamdelion yakin bahwa untuk menciptakan kebahagiaan bersama ternyata tidak dapat melalui cara-cara yang sederhana. Oleh karena itu, mereka yakin itulah alasan mereka untuk harus bersama.

Written by: Leovita A | Photo by: Evaulia Nindya

Ketika Menjalankan Bisnis Sosial dengan Passion, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Kata passion merupakan kata yang biasa didengar, terutama di kalangan anak muda yang masih mencari jati dirinya. Kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris ini sebenarnya memiliki arti gairah, semangat, keinginan besar, dan sebagainya. Banyak pihak yang mengartikan passion sebagai sesuatu yang memang benar-benar diinginkan yang datang dari dalam diri. Menurut Alia Noor Anoviar, penggagas Dreamdelion, “Passion merupakan perasaan yang kuat untuk melakukan suatu hal, bisa jadi karena hal tersebut merupakan bagian dari minat dan bakat yang dimiliki, bisa jadi sesuatu tersebut adalah hal yang sangat dapat memotivasi seseorang mencapai target tertentu dalam kehidupannya.”

Sebagai mahasiswa lulusan FEUI, ia sangat ingin membentuk suatu gerakan konkret mengenai pemberdayaan masyarakat. Suatu gerakan yang mampu menjawab permasalahan sosial, khususnya permasalahan pada masyarakat marjinal. Berangkat dari passion inilah Alia membentuk komunitas bisnis sosial Dreamdelion pada 18 Juli 2012.

Titik balik bagi Alia untuk melanjutkan passion-nya dan membuat sebuah komunitas bisnis berawal dari pengalamannya saat melakukan pertukaran pelajar ke Thailand. Selama menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi, Alia selalu dicekoki dengan teori stakeholder (teori pemangku kepentingan) dan stockholder (teori pemegang saham). Teori yang sangat akrab dalam memaksimalisasi keuntungan pribadi yang kemudian membentuk Alia menjadi penganut individualisme. Namun, semua itu berubah ketika ia di Thailand. Sewaktu pertukaran pelajar, Alia diperkenalkan dengan konsep bisnis sosial yang tidak melulu membicarakan tentang modal, tidak selalu membicarakan keuntungan materi saja, dan bisnis itu lah yang dinamakan bisnis sosial atau sociopreneur. Sebuah konsep yang telah menginspirasi Alia untuk kemudian menggagas Dreamdelion.

Nama Dreamdelion sendiri mengandung dua kata, yakni kata dream yang berarti mimpi dan kata delion yang merepresentasikan bunga dandelion dengan mahkota bunga yang mudah ditiup dan menyebar ke mana-mana. Dari dua kata ini mengandung makna sesungguhnya dari Dreamdelion, yakni mampu membawa mimpi yang bisa memberdayakan (masyarakat) dan bisa menyebar di manapun berada. Dengan arti sempit makna Dreamdelion itu adalah berani bermimpi.

Selama perjalanannya menggagas komunitas Dreamdelion ini, Alia tidak selalu dihadapkan dengan kemudahan. Terkadang ada saatnya ketika Alia mendapatkan keraguan yang dilontarkan melalui pernyataan-pernyataan seperti ‘Untuk apa bantu orang lain? Kamu lebih baik bantu diri sendiri dulu,’ dan ‘Bantu orangnya nanti saja saat sudah kaya,’ Alia menjawab, “Rasanya luar biasa ketika dapat membantu orang lain meskipun belum punya apa-apa.” Alia sangat yakin bahwa meskipun diawali dengan hal sederhana, Dreamdelion ini mampu membantu banyak orang dan mampu menginspirasi orang lain untuk membantu orang yang lebih banyak.

Selalu ada masa di mana kita dibatasi oleh hal-hal yang membuat kita tidak mampu mendapatkan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, atau bahkan kita merasa sangat jauh dari apa yang sebenarnya kita butuhkan,” ungkap Alia. “Karena hidup adalah tantangannya.”

“Buat saya

ketika banyak orang yang meragukan apa yang saya pilih,

saya menjadi merasa tertantang

untuk melakukan apa yang saya pilih.

Merasa ‘I can do my best!

– Alia Noor Anoviar dalam catatan pribadi.

Written by : Leovita A

Menjalankan Bisnis Sosial dengan Hati, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Menjalankan Bisnis Sosial dengan Hati, Alia: Hidup adalah Tantangannya!

Kata passion merupakan kata yang biasa didengar, terutama di kalangan anak muda yang masih mencari jati dirinya. Kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris ini sebenarnya memiliki arti gairah, semangat, keinginan besar, dan sebagainya. Banyak pihak yang mengartikan passion sebagai sesuatu yang memang benar-benar diinginkan yang datang dari dalam diri. Menurut Alia Noor Anoviar, penggagas Dreamdelion, “Passion merupakan perasaan yang kuat untuk melakukan suatu hal, bisa jadi karena hal tersebut merupakan bagian dari minat dan bakat yang dimiliki, bisa jadi sesuatu tersebut adalah hal yang sangat dapat memotivasi seseorang mencapai target tertentu dalam kehidupannya.”

Sebagai mahasiswa lulusan FEUI, ia sangat ingin membentuk suatu gerakan konkret mengenai pemberdayaan masyarakat. Suatu gerakan yang mampu menjawab permasalahan sosial, khususnya permasalahan pada masyarakat marjinal. Berangkat dari passion inilah Alia membentuk komunitas bisnis sosial Dreamdelion pada 18 Juli 2012.

Titik balik bagi Alia untuk melanjutkan passion-nya dan membuat sebuah komunitas bisnis berawal dari pengalamannya saat melakukan pertukaran pelajar ke Thailand. Selama menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi, Alia selalu dicekoki dengan teori stakeholder (teori pemangku kepentingan) dan stockholder (teori pemegang saham). Teori yang sangat akrab dalam memaksimalisasi keuntungan pribadi yang kemudian membentuk Alia menjadi penganut individualisme. Namun, semua itu berubah ketika ia di Thailand. Sewaktu pertukaran pelajar, Alia diperkenalkan dengan konsep bisnis sosial yang tidak melulu membicarakan tentang modal, tidak selalu membicarakan keuntungan materi saja, dan bisnis itu lah yang dinamakan bisnis sosial atau sociopreneur. Sebuah konsep yang telah menginspirasi Alia untuk kemudian menggagas Dreamdelion.

Nama Dreamdelion sendiri mengandung dua kata, yakni kata dream yang berarti mimpi dan kata delion yang merepresentasikan bunga dandelion dengan mahkota bunga yang mudah ditiup dan menyebar ke mana-mana. Dari dua kata ini mengandung makna sesungguhnya dari Dreamdelion, yakni mampu membawa mimpi yang bisa memberdayakan (masyarakat) dan bisa menyebar di manapun berada. Dengan arti sempit makna Dreamdelion itu adalah berani bermimpi.

Selama perjalanannya menggagas komunitas Dreamdelion ini, Alia tidak selalu dihadapkan dengan kemudahan. Terkadang ada saatnya ketika Alia mendapatkan keraguan yang dilontarkan melalui pernyataan-pernyataan seperti ‘Untuk apa bantu orang lain? Kamu lebih baik bantu diri sendiri dulu,’ dan ‘Bantu orangnya nanti saja saat sudah kaya,’ Alia menjawab, “Rasanya luar biasa ketika dapat membantu orang lain meskipun belum punya apa-apa.” Alia sangat yakin bahwa meskipun diawali dengan hal sederhana, Dreamdelion ini mampu membantu banyak orang dan mampu menginspirasi orang lain untuk membantu orang yang lebih banyak.

Selalu ada masa di mana kita dibatasi oleh hal-hal yang membuat kita tidak mampu mendapatkan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang kita inginkan, melakukan apa yang ingin kita lakukan, atau bahkan kita merasa sangat jauh dari apa yang sebenarnya kita butuhkan,” ungkap Alia. “Karena hidup adalah tantangannya.”

“Buat saya, ketika banyak orang yang meragukan apa yang saya pilih,
saya menjadi merasa tertantanguntuk melakukan apa yang saya pilih.
Merasa I can do my best!

– Alia Noor Anoviar dalam catatan pribadi.

Written by: Leovita A

Dreamdelion: Yuk Intip Si Kepik!

Tahukah kamu kalau hewan bernama kepik sebenarnya memiliki arti ‘yang bersayap setengah’? Nama itu diberikan karena sayap depan serangga tersebut dapat dilipat. Serangga inilah yang kemudian menginspirasi anak-anak bantaran kali Manggarai dalam berkreasi kerajinan tangan. Kepik buatan anak-anak Manggarai ini dibuat dengan menggunakan kertas kokoru dan ornamen mata. Kertas kokoru merupakan kertas bergulung yang dapat digunakan untuk membuat objek 2 atau 3 dimensi dengan cara melipat, menggulung, menggunting, maupun mengelem.

Pelatihan yang diadakan di awal tahun 2015 tersebut merupakan bagian dari kegiatan Sanggar Manggarai. Sanggar Manggarai ini tidak hanya mengajak anak-anak Manggarai untuk membuat kerajinan tangan seperti kepik, tetapi juga ada sanggar belajar, kelas bahasa Inggris (English Class), taman baca, dan lainnya. Untuk pembuatan si Kepik ini, berawal dari ajakan anak-anak Manggarai untuk diajari kerajinan tangan. Antusiasme anak-anak pun berkembang ketika teman-teman Dreamdelion mengeluarkan bahan berupa kertas kokoru dan ornamen mata. Cara yang dilakukan anak-anak Manggarai pun sederhana, yakni melipat, menggulung, menggunting, mengelem, kemudian memasang ornamen mata pada kertas kokoru yang telah jadi. Dengan bimbingan Dreamdelion, anak-anak pun mampu membuat kepik dari karyanya sendiri.

Kreativitas anak-anak Manggarai sangat tinggi. Terbukti dari kemampuan anak-anak yang mampu membuat kerajinan tangan lain ketika beberapa bahan telah habis. Kerajinan tangan yang tak kalah serunya dari si Kepik adalah jam tangan, mobil, cincin, permen lolipop, bahkan ada yang mampu membuat tokoh Disney, Mickey Mouse!

Pelatihan kerajinan tangan ini tidak hanya diajarkan pada anak-anak kecil Manggarai, tetapi juga dengan ibu rumah tangga. Meskipun sebelumnya belum memiliki keterampilan mumpuni, kini ibu-ibu Manggarai membuktikan bahwa dengan semangat dan keuletannya, mereka mampu menghasilkan berbagai kerajinan tangan yang tak kalah menarik dengan si Kepik. Bahkan, kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai memiliki daya jual yang baik. Adapun kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai adalah bros, boneka flanel, boneka wisuda, gantungan kunci, dan aksesoris lainnya.

Sama dengan pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada anak-anak Manggarai, untuk pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada ibu-ibu Manggarai, Dreamdelion melakukannya dengan bimbingan praktik. Saat pelatihan kerajinan dari kain flanel yang diadakan Dreamdelion bersama ibu-ibu Manggarai, pelatih menambahkan tentang bagaimana pemilihan jarum yang sesuai dengan jenis kain. Hal ini agar proses menjahitnya lebih mudah. Setelah itu, Dreamdelion membimbing ibu-ibu Manggarai dalam praktik cara menjahit produk tas cantik. Pada umumnya, pembuatan kerajinan dilakukan dengan tiga langkah, yakni pemilihan dua motif kain, pemotongan kain sesuai ukuran, kemudian penyelesaian dengan cara menjahit sesuai pola dan ditambah kancing atau resleting.

Pemberdayaan masyarakat melalui cara kreatif yang diberi nama Dreamdelion Kreatif ini terbukti membuahkan hasil. Tidak hanya si Kepik yang merupakan kerajinan tangan anak-anak Manggarai, tetapi juga ibu-ibu Manggarai yang bahkan memiliki daya jual yang baik di pasar. Apabila suatu saat dijumpai adanya si Kepik di lingkungan sekitar, mungkin saja itu adalah si Kepik hasil dari anak-anak Manggarai.

Written by : Leovita A

Anak-Anak Binaan Dreamdelion Mengajak Kamu Intip Si Kepik!

Anak-Anak Binaan Dreamdelion Mengajak Kamu Intip Si Kepik!

Tahukah kamu kalau hewan bernama kepik sebenarnya memiliki arti ‘yang bersayap setengah’? Nama itu diberikan karena sayap depan serangga tersebut dapat dilipat. Serangga inilah yang kemudian menginspirasi anak-anak bantaran kali Manggarai dalam berkreasi kerajinan tangan. Kepik buatan anak-anak Manggarai ini dibuat dengan menggunakan kertas kokoru dan ornamen mata. Kertas kokoru merupakan kertas bergulung yang dapat digunakan untuk membuat objek 2 atau 3 dimensi dengan cara melipat, menggulung, menggunting, maupun mengelem.

Pelatihan yang diadakan di awal tahun 2015 tersebut merupakan bagian dari kegiatan Sanggar Manggarai. Sanggar Manggarai ini tidak hanya mengajak anak-anak Manggarai untuk membuat kerajinan tangan seperti kepik, tetapi juga ada sanggar belajar, kelas bahasa Inggris (English Class), taman baca, dan lainnya. Untuk pembuatan si Kepik ini, berawal dari ajakan anak-anak Manggarai untuk diajari kerajinan tangan. Antusiasme anak-anak pun berkembang ketika teman-teman Dreamdelion mengeluarkan bahan berupa kertas kokoru dan ornamen mata. Cara yang dilakukan anak-anak Manggarai pun sederhana, yakni melipat, menggulung, menggunting, mengelem, kemudian memasang ornamen mata pada kertas kokoru yang telah jadi. Dengan bimbingan Dreamdelion, anak-anak pun mampu membuat kepik dari karyanya sendiri.

Kreativitas anak-anak Manggarai sangat tinggi. Terbukti dari kemampuan anak-anak yang mampu membuat kerajinan tangan lain ketika beberapa bahan telah habis. Kerajinan tangan yang tak kalah serunya dari si Kepik adalah jam tangan, mobil, cincin, permen lolipop, bahkan ada yang mampu membuat tokoh Disney, Mickey Mouse!

Pelatihan kerajinan tangan ini tidak hanya diajarkan pada anak-anak kecil Manggarai, tetapi juga dengan ibu rumah tangga. Meskipun sebelumnya belum memiliki keterampilan mumpuni, kini ibu-ibu Manggarai membuktikan bahwa dengan semangat dan keuletannya, mereka mampu menghasilkan berbagai kerajinan tangan yang tak kalah menarik dengan si Kepik. Bahkan, kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai memiliki daya jual yang baik. Adapun kerajinan tangan ibu-ibu Manggarai adalah bros, boneka flanel, boneka wisuda, gantungan kunci, dan aksesoris lainnya.

Sama dengan pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada anak-anak Manggarai, untuk pelatihan kerajinan tangan yang diterapkan pada ibu-ibu Manggarai, Dreamdelion melakukannya dengan bimbingan praktik. Saat pelatihan kerajinan dari kain flanel yang diadakan Dreamdelion bersama ibu-ibu Manggarai, pelatih menambahkan tentang bagaimana pemilihan jarum yang sesuai dengan jenis kain. Hal ini agar proses menjahitnya lebih mudah. Setelah itu, Dreamdelion membimbing ibu-ibu Manggarai dalam praktik cara menjahit produk tas cantik. Pada umumnya, pembuatan kerajinan dilakukan dengan tiga langkah, yakni pemilihan dua motif kain, pemotongan kain sesuai ukuran, kemudian penyelesaian dengan cara menjahit sesuai pola dan ditambah kancing atau resleting.

Pemberdayaan masyarakat melalui cara kreatif yang diberi nama Dreamdelion Kreatif ini terbukti membuahkan hasil. Tidak hanya si Kepik yang merupakan kerajinan tangan anak-anak Manggarai, tetapi juga ibu-ibu Manggarai yang bahkan memiliki daya jual yang baik di pasar. Apabila suatu saat dijumpai adanya si Kepik di lingkungan sekitar, mungkin saja itu adalah si Kepik hasil dari anak-anak Manggarai.

Written by: Leovita A