Skip to main content

Dreamdelion

Mr. Podcast Indonesia Berbagi Prespektif tentang Personal Branding

Mr. Podcast Indonesia Berbagi Prespektif tentang Personal Branding

“Jadi, apa itu branding?” tanya Kak Iqbal di awal acara.

First impression,” jawaban dari Uwi, teman yang duduk di samping saya.

“Identitas diri,” jawaban dari Bagus, project leader Dreamelion Cianjur.

“Yang menjadi pembeda kita dengan yang lain (competitive advantage),” jawaban dari Hendro  yang duduk di seberang meja saya.

Sejujurnya, sebelumnya saya adalah orang yang skeptis jika menyangkut tentang mempromosikan diri. Dengan berkembangnya berbagai media sosial yang mempu menjadi sarana untuk mengaktualisasikan berbagai hal, saya berprinsip bahwa ada batasan yang harus dibuat agar apa yang dapat dilihat dan diketahui khalayak umum tidak melangkahi ranah privacy. Terdengar old style? Ya, itulah pemikiran saya tentang branding sebelum saya mengikuti sesi Mentoring 1 untuk Intern Dreamdelion Cianjur dan Jakarta bersama Iqbal Hariadi, Marketing Manager kitabisa.com.

Dulu saya menganggap bahwa branding itu bullshit, tak lebih dari kesan yang sengaja dibangun untuk meningkatkan impresi dari target pasar big companies sehingga produk mereka semakin laku. Apalagi melihat semakin berkembangnya branding negatif dengan prinsip “it’s good to be bad” yang diusung oleh para selebgram yang lagi nge-hits, membuat saya semakin tak percaya bahwa branding bisa digunakan untuk kebaikan. Satu hari mentoring pada Sabtu, 25 Maret 2017 berhasil menggoyahkan kepercayaan saya. Topik pada hari itu mampu menggeser cara berpikir saya untuk melihat sisi lain dari branding yang berhasil dibawakan secara apik oleh sang Mr. Podcast Indonesia.

Dengan niat yang baik untuk berbagi atau berkarya, social media bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menyebarkan kebaikan dan meningkatkan ketrampilan diri. Terutama untuk membangun citra diri ingin dikenal sebagai sosok yang seperti apa. Fokus pada satu atau dua media sosial yang paling sering digunakan, mulai dengan membagikan hal-hal yang terkait dengan minat pribadi atau keresahan yang kita rasakan dan ingin dibagi. The little things around yang mampu mengusik hati dan pikiran kita sehari-hari.

Bentuk lainnya adalah melalui berkarya sesuai passion. Tak perlu takut untuk terlihat jelek karena karya awal itu pasti jelek, hajar saja ketakutan yang ada. Itulah langkah awal yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya lain hingga pada akhirnya mengghasilkan karya besar yang lebih berkualitas. “Banyak yang mencemooh atau tak suka? Bisa jadi itu hanya pelampiasan rasa iri mereka,” kata Kak Alia, sang founder Dreamdelion. “Cukup temukan satu orang yang sepaham dan tulus mendukung kita,” kata Kak Iqbal, “pada akhirnya hal tersebut cukup untuk memacu dan menjadi bahan bakar semangat kita.”

Sisi lain dari branding selanjutnya adalah ia bisa dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan masalah sosial. Dikaitkan dengan dunia start-up dan social enterprise yang sedang berkembang, akan lebih mudah bagi orang awam untuk berpartisipasi dalam berbagai campaign di media sosial jika branding dari organisasi yang menyelenggarakan sudah cukup dikenal luas. Untuk mencapai pada titik bahwa branding kita diterima oleh masyarakat tentu membutuhkan waktu dan usaha yang persistence. Dengan melakukan eksperimen dan learning, serta mindset yang tough, hal tersebut merupakan kunci untuk growing and getting better.

Kini saya mengerti bahwa branding tidak melulu untuk meningkatkan follower ataupun buyer. Lebih dari itu, branding adalah personal statement yang mampu menunjukkan value yang kita punya dan ingin kita bagi. Baik atau buruk bentuknya, hal tersebut adalah pilihan atas strategi yang bisa digunakan. Namun, pada akhirnya niat baik akan membawa kebaikan lebih mudah tersebar bukan?

Written by: Putri Wulandari | Photo by: Putri Wulandari | Editor: Bagus A

Serunya Menjalani Waktu Akhir Pekan dengan Dreamdelion Cianjur

Serunya Menjalani Waktu Akhir Pekan dengan Dreamdelion Cianjur

Malu-malu tapi seru, itulah kesan yang terlihat dari ekspresi para murid SMP Tunas Bangsa ketika mengikuti serangkaian games dan sesi berbincang dengan tim Dreamdelion Cianjur pada Sabtu, 11 Maret 2017. Walaupun cuaca pada hari itu cukup mendung dan rintik hujan menemani, semangat dan antusias mereka cukup untuk mencerahkan suasana. Bermain dengan adik-adik kelas 7 dan 9 yang berasal dari sekitar Puncak Simun tersebut mampu menjadi recharge buat saya.

Dimulai dengan games berkenalan yang menjadi pembuka untuk lebih mengenal satu sama lain dan mencairkan suasana. Lalu dilanjutkan dengan membagi ke dalam beberapa kelompok yang mana setiap kelompok terdapat kakak pendamping dari tim Dreamdelion untuk membuat yel-yel. Dengan kelompok tersebut juga akhirnya kami mengikuti games selanjutnya yang seru dan cukup membutuhkan kerja sama dalam kelompok. Kebetulan, saya bersama Yogi yang tergabung dengan adik-adik di kelompok Tiluk (“tiluk” adalah padanan bahasa Sunda dari “tiga”), kami berhasil memenangkan permainan tersebut.

Kegiatan selanjutnya adalah berbincang dengan adik-adik, saya dan Yogi mencoba untuk menggali lebih dalam tentang hobi, cita-cita, serta keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memiliki hobi membaca, menggambar, bermain gitar, dan balap liar. Dua anak laki-laki yang mengaku suka melakukan balap liar cukup mengusik keingintahuan saya untuk menggali lebih dalam terhadap hobi mereka yang terdengar kurang positif. Bahkan ketika saya meminta mereka untuk menceritakan pengalaman yang paling berkesan, salah satunya mengatakan bahwa ia hampir mengalami kecelakaan ketika sedang kebut-kebutan di jalanan. Kejujuran bahwa mereka tidak jera dengan kejadian tersebut membuat saya penasaran dengan cita-cita mereka.

Dua gadis yang berada di kelompok saya berkata ingin menjadi guru. Murid-murid yang lain ada yang ingin menjadi polisi, pemain bola, pengusaha. Lagi-lagi saya tertarik dengan dua anak yang hobi balap liar dan mereka mengatakan ingin melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM). Kesukaan mereka untuk mengutak-atik mesin motor lah yang menjadi motivasi untuk melanjutkan sekolah mereka ke jenjang tersebut.  Cara berpikir mereka yang belum terbuka membuat saya gatal untuk menjelaskan bahwa hobi mereka bisa ditekuni dengan cara yang lebih positif, bukan hanya untuk menggunakan motor secara ugal-ugalan tapi dengan pendidikan yang tepat dan passion yang disalurkan dengan benar bisa menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dari interaksi yang saya lakukan pada hari itu, saya bisa melihat bahwa siswa-siswi SMP Tunas Bangsa memiliki potensi untuk menjadi generasi yang lebih baik ke depannya. Terlepas dari berbagai permasalahan yang ada dan menjadi penghambat proses belajar, mereka memiliki cita-cita yang layak untuk diwujudkan. Wajah-wajah yang tadinya menunjukkan raut tak serius dan bodoh amat, seiring dengan beberapa cerita yang saya bagikan dan mereka resapi hingga mampu memunculkan gurat merenung dan berpikir ketika mereka memproses informasi tentang adanya sisi lain yang lebih baik jika mereka mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Momen singkat yang membuat saya yakin bahwa ada mimpi-mimpi yang patut untuk diperjuangkan.

Written by : Putri Wulandari | Photo by : Putri Wulandari

Editor : Bagus A

Membangun Langkah Awal yang Baik Bersama Dreamdelion Ngawi

Membangun Langkah Awal yang Baik Bersama Dreamdelion Ngawi

Dreamdelion, kata yang indah dan penuh makna bila kita mencermatinya. Awal dari semua ini adalah pada tanggal 2 Januari ketika aku bertemu seseorang yang hebat, Alia Noor Anoviar. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya. Dari perbincangan awal mengenai mimpiku masuk UGM hingga bahasan paling menarik tentang dreamdelion. Nah, aku mulai bertanya-tanya soal organisasi kemasyarakatan, potensi masyarakat, dan banyak hal yang bisa kupelajari dari semua itu. 

Sudah bertemu inspirator, tentunya harus ada tindakan real. Aku mengajak teman-temanku, dari temen sekelas sampai adik-adik kelas. Memang benar kata pepatah, bahwa mengajak demi kebaikan itu perjuangannya wow banget. Dari beberapa kelas yang berminat bergabung hanya 19 orang yang berminat. Tak apalah, itu sudah jumlah yang banyak. 

Untuk mengadakan suatu kegiatan tentu harus direncanakan, kami pun berdiskusi mengenai program vertikultur sesuai dengan saran dari kakak dreamdelion sebelumnya. Diskusi pertama memang hanya dihadiri 6 orang saja, yaitu aku (Herlina), Rina, Nindi, Nifta, Eksanti dan Icha. Sesuai program yang terencana, tanggal 9 – 11 Januari kami mengumpulkan tanah, pupuk, uang Rp2.000 (untuk membeli biji tanaman), dan juga per anak membawa botol ukuran 1,5 liter sebanyak 5. Wihhh.. Susah loh dapat botolnya. Karena kebanyakan dipakai bapak ibu ke sawah. Dan akhirnya tanggal 13 Januari kami siap bertempur, wew,, bertempur dengan pupuk kandang yang bau tentunya. 

Dalam gerimis dan sampai hujan deras, kami menanam biji sawi, kangkung dan juga bayam. Karena kami menghendaki hari itu jadi, ya bagaimana pun caranya harus berhasil. Bismillah kun fayakun. Jeng..jeng..jeng.. Hasil tak mengkhianati usaha kami. Vertikultur sederhana kami jadi dan banyak kritikan yang membangun dari bapak ibu guru. 

Hari berganti hari, biji tanaman kini telah tumbuh, kami rawat dengan baik dan tumbuh dengan sehat. Tanggal 24 Februari kami memanen sayuran dan memasaknya di kantin sekolah. Panen bareng, masak bareng, makan bareng, banyak deh yang bareng. Hehe.. Ya itulah sedikit cerita dari kami anak-anak SMK N 1 Paron, Ngawi. Bye.. 😊

Written by: Herlina

Antusiasme Menyambut Mahasiswa Luar Negeri di Sleman

Antusiasme Menyambut Mahasiswa Luar Negeri di Sleman

Cerita hari ini bermula ketika kami tiba-tiba menerima sebuah e-mail dari Singapore Management University yang ingin sekali berkunjung ke Sejatidesa, Sumberarum, Moyudan, Sleman untuk belajar mengenai social enterprise. E-mail itu kami terima kurang lebih satu minggu setelah launching website resmi kami. Tentu saja, tawaran itu mendapat sambutan baik dari kami dan warga desa. Warga desa sangat antusias mendengar kabar tersebut. Persiapan kami lakukan kurang lebih selama satu bulan. Mulai dari perencanaan paket wisata yang akan ditawarkan, kegiatan yang siap untuk dilaksanakan, perencanaan teknis, hingga pelaksanaan kegiatan di lapangan kami persiapkan dengan baik.

Meraka adalah sembilan mahasiswa Keio University yang sedang menjalankan short program di Singapore Management University, dua staf dari Lien Centre for Social Innovation dan dua pendamping dari Keio University.  Mereka melaksanakan kegiatan selama satu hari di Sejatidesa. Kegiatan di desa dimulai dengan pengenalan Kelompok Sadar Wisata Pelangi Progo yang dipimpin oleh Ketua Pokdarwis Pelangi Progo yaitu Bapak Sutikno. Selanjutnya, kami melakukan sharing session dengan Dreamdelion. Sesi ini dipimpin langsung oleh Alia Noor Anoviar selaku CEO Dreamdelion. Kami banyak membahas mengenai apa itu social enterprise dan apa saja yang telah dilakukan Dreamdelion di Sejatidesa. Kami sangat senang mengetahui bahwa mahasiswa tersebut juga ternyata sedang mempelajari social enterprise sehingga kami pun banyak belajar bersama mereka.

Setelah sesi sharing yang ditemani oleh segelas es dawet dan jajanan pasar, kami menyempatkan mengajak mereka untuk bermain gamelan bersama. Kami bermain gamelan di salah satu rumah warga. Para anak-anak yang sudah ahli memainkan gamelan pun bersemangat untuk ikut mengajari cara bermain gamelan kepada para pengunjung.

Setelah puas bermain gamenlan, kami melanjutkan agenda berikutnya yaitu natural tie dye. Kami berkolaborasi dengan Kotak Si Kuning untuk memperkenalkan natural tie dye kepada mereka.  Kami menjelaskan setiap proses yang harus dilakukan untuk membuat natural tie dye. Mereka sangat antusias menjalani setiap proses dalam pembuatan natural tie dye. Agenda ini ditutup dengan berfoto bersama dengan hasil karya tie dye yang telah selesai.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. kami menuju salah satu rumah warga untuk makan siang bersama. Menu makanan yang disediakan adalah gudeg (makanan khas Jogja). Kami menghabiskan waktu makan bersama dan mengakrabkan diri sambil melihat-lihat hasil produk tenun milik warga. Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan menenun. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok untuk mempelajari dan mempraktikkan secara langsung proses menenun dari awal hingga akhir. Awalnya, agak sulit bagi mereka terlihat kesulitan untuk melakukan proses menenun. Tetapi, mereka akhirnya bisa melakukan proses tersebut meski tidak terlalu lancar. Kami mengakhiri kegiatan hari itu dengan sesi kesan dan pesan serta pengumuman juara hasil tie dye terbaik yang telah dipilih oleh warga.

Ini adalah kali pertama warga mendapatkan kunjungan langsung dari. Adanya perbedaan tidak membuat mereka malu atau merasa rendah diri untuk menunjukkan potensi yang dimiliki oleh desa mereka. Baik mahasiswa maupun pendamping sangat terkesan dengan Sejatidesa. Salah satu perwakilan pengunjung bernama Christian mengatakan bahwa suasana di desa itu memberikan ketenangan baginya karena jauh dari riuh kesibukan di negaranya. Ia berpesan, budaya desa yang tradisional jangan sampai hilang karena itulah keunggulan yang dimilik desa tersebut.

Sejatidesa, 25 Februari 2017, bersama kawan-kawan Keio University dan Singapore Management University telah meambah satu lembar kisah dalam catatan harian kami. Masih banyak lembar yang menanti untuk diisi. Kepercayaan, semangat warga, serta ketulusan hati teman-teman untuk ikut mewujudkan mimpi warga Sejatidesa menjadi kekuatan kami untuk kembali menuliskan cerita pada lembar catatan harian kami selanjutnya.

So, We are ready for the next collaboration guys!

Written by: Nabila Aflaha

 

Dreamdelion X Gerakan Melukis Harapan: Inspiring Surabaya, Rek!

Dreamdelion X Gerakan Melukis Harapan: Inspiring Surabaya, Rek!

Bermula dari wacana kami (saya dan mbak Ocit) untuk menghabiskan bahan pewarna alam dengan membuat workshop. Kemudian terpikirkan untuk berkolaborasi dengan komunitas di Malang atau Surabaya (karena posisi di Kediri, mencari tempat terdekat). Kemudian terhubung dengan komunitas Gerakan Melukis Harapan Surabaya dari kakak Alia. Persiapan pun hanya dalam waktu satu minggu haha. Di Surabaya, kami banyak mendapatkan banyak pembelajaran dan inspirasi. Lemme share a little bit.

Jumat, 13 Januari 2017

Sore itu hujan turun begitu derasnya, kami sampai di sebuah gang kecil di pinggir jalan. Sedikit kaget karena mobil tidak bisa masuk gang. Akhirnya mas Mustofa datang dengan membawa jas hujan. Kami berjajar berjalan menyusuri gang layaknya barongsai haha. Kampung Kenjeran adalah kampung kecil yang letaknya diapit oleh rel kereta api dan sungai.

Sampailah kami di rumah mas mustofa. Ada beberapa komunitas yang telah hadir seperti Komunitas Padi Pari dan Sanggar Pelangi. Disini kita sharing banyak hal tentang pemberdayaan dan bercerita banyak tentang pengalaman. Selain itu, kami mendengarkan mimpi besar karang taruna Kampung ini untuk memajukan kampungnya lewat permainan tradisional. Semangatnya begitu luar biasa. (ditunggu festivalnya ya)

Sabtu, 14 Januari 2016

Pagi hari kami sudah dibuat pusing oleh ketidakcocokan maps yang di share Fauzan dengan maps yang ada di uber haha setelah berputar-putar tenyata lokasinya ada di pinggir jalan yang kita lewati. Agenda pertama hari ini adalah perkenalan (asik punya banyak teman baru) dan sharing tentang kegiatan kami masing-masing ketika melakukan pemberdayaan dan pendampingan. Setelah itu, teman-teman mengikuti serangkaian workshop natural Tie dye. Mereka sangat bersemangat karena ini adalah pengalaman pertama mereka berkreasi dengan tie dye. Setelah foto bersama dan bagi2 doorprize, kami beristirahat dan kemudian melanjutkan perjalanan ke UKM yang ada di eks lokalisasi dolly. Ibu-ibu dari UKM Samijali menceritakan kisah-kisah awal pembentukan UKM ini hingga berhasil mengembangkannya bersama teman-tema GMH.

Terima kasih teman-teman Gerakan Melukis Harapan Surabaya atas keramahannya dan bersedia berkolaborasi di acara workshop kecil-kecilan kali ini. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam kampanye Weaving for Life. Terima kasih juga telah memberikan kami banyak inspirasi. Kami banyak belajar dari kalian semua. Semoga kedepan ada hal yang bisa dikolaborasikan kembali.

Written by: Evaulia | Photo by: Yosua Pelamonia

Menjadi Bagian dari Dreamdelion Kreatif Mengajarkanku Banyak Hal

Menjadi Bagian dari Dreamdelion Kreatif Mengajarkanku Banyak Hal

Tahun 2013 adalah tahun di mana saya pertama kali menyandang status sebagai mahasiswa baru. Sebagai mahasiswa baru, tentu saya dan anda juga mungkin tidak ingin hanya berkegiatan di dalam kelas saja. Di hari-hari awal kuliah, organisasi-organisasi intra sangat gencar melakukan promosi kepada mahasiswa baru, entah melalui bazaar, poster, atau ajakan dari orang-orang yang kenal dengan mahasiswa baru. Mahasiswa baru pun berbondong-bondong mendaftar di berbgai macam organisasi baik intra fakultas intra universitas, maupun ekstra kampus. Organisasi yang diikuti pun tak cukup hanya satu. Terkadang seorang mahasiswa baru bisa mngikuti lebih dari satu organisasi.

Saya termasuk orang yang gencar mencari kegiatan di luar kelas. Di tengah perjalanan saya mendaftar dan mengikuti berbagai macam organisasi, saya menemukan satu hal menarik. Melalui teman saya, saya diajak untuk bergabung dengan salah satu komunitas yang cukup baru di Yogyakarta. Ya, komunitas itu adalah Dreamdelion. Pertama kali melihat pengumuman open recruitment Dreamdelion, saya langsung tertarik. Jujur, saya langsung tertarik dengan komunitas ini karena namanya yang unik. Setelah menulusuri sedikit mengenai seluk-beluk kegiatan kmunitas ini di Yogyakarta, saya menjadi lebih tertarik lagi. Bersama beberapa teman saya dari fakultas yang sama, kami mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari Dreamdelion.

Rangkaian open recruitment.nya pun berbeda dengan organisasi yang lain. Setelah mendaftar, beberapa hari kemudian langsung diadakan gathering pertama untuk berkunjung ke desa binaan Dreamdelion. Dreamdelion adalah komunitas yang memberdayakan masyarakat di Sejatidesa, salah satu desa yang terletak di Moyudan yang memiliki potensi kebudayaan yang luar biasa. Potensi kebudayaan tersebut adalah tenun.

Setalah berkunjung ke desa dan diperlihatkan potensi-potensi desa yang ada, rangkaian open recruitment selanjutnya adalah membuat social project. Karena Dreamdelion adalah komunitas yang memberdayakan masyarakat sebagai salah satu elemen lingkungan sosial, maka calon anggota Dreamdelion harus terbiasa dengan kegiatan-kegiatan sosial. Dalam tahapan seleksi ini, mulai terlihat calon-calon anggota yang benar-benar memiliki niat untuk terjun ke dunia relawan sosial.

Proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi klegiatan social project berjalan selama kurang lebih tiga bulan. Setelah melakukan tahapan ini, calon anggota Dreamdelion kemudian dipanggil untuk melakukan wawancara. Hanya beberapa orang tersisa yang memenuhi panggilan wawancara tersebut. Pengumuman penerimaan anggota dilakukan beberapa minggu setelah wawancara selesai.

Saya diterima sebagai anggota tim produksi bagian kreatif bersama teman satu fakultas saya. Dalam perjalanan saya menjadi anggota tim produksi, saya belajar banyak hal.mulai dari proses menenun, cara menjahit produk, cara mengoperasikan mesin jahit, cara membuat pola, cara menjadi trainer dalam berbagai pelatihan kelas craft yang beberapa kali kami laksanakan. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melaksanakan pelatihan-pelatihan craft. Salah satunya adalah House of Lawe.

Selain berbagai macam ilmu mengenai craft, selama dua tahun bergabung dengan komunitas ini saya banyak belajar bahwa menanamkan komitmen untuk terjun di masyarakat bukanlah hal yang mudah akan tetapi, hanya komitmen yang mampu mendorong saya untuk tetap menghadirkan diri dalam lingkungan masyarakat hingga saat ini.

Written by: Nabila Hajar Aflaha

Sebuah Cerita tentang Pasar Tenun Rakyat 2016

Sejatidesa merupakan sebuah tempat belajar yang menyenangkan dan mengesankan ketika aku menjadi Panitia Pasar Tenun Rakyat 2016. Penduduk yang ramah , lingkungan yang masih asri , makanan khas desa yang selalu menggiurkan , hingga kain tenun yang selalu menarik perhatianku. Ingin tau bagaimana kelanjutan ceritanya ? Inilah sepenggal cerita dari Dusun Sejatidesa, Desa Sumberarum dan Pasar Tenun Rakyat 2016.

Pasar Tenun Rakyat 2016 merupakan sebuah acara yang bertujuan untuk memperkenalkan Sejatidesa kepada masyarakat luas dalam upaya untuk menjadikan desa tersebut sebagai desa wisata. Selain itu , acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kain tenun karya penduduk Sejatidesa. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 April 2016 dengan tema Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity. Sebuah kebanggaan tersendiri ketika aku diberi kesempatan untuk bergabung dalam kepanitiaan Pasar Tenun Rakyat 2016. Awalnya aku ragu untuk bergabung di kepanitiaan ini karena aku tidak meimiliki pengetahuan apapun tentang kain tenun. Namun , akhirnya aku pun mencoba untuk mendaftar dan Alhamdulillah aku bisa bergabung dalam kepanitiaan ini.

Setelah panitia terbentuk , kami pun mulai bekerja untuk mempersiapkan Pasar Tenun Rakyat 2016. Panitia terdiri dari Tim Dreamdelion dan penduduk desa. Saat itu , kami pun bekerja bersama –sama. Diantara kedua tim ini , tidak ada yang menggururi ataupun sok bisa segalanya. Tim Dreamdelion dan penduduk desa pun membaur menjadi satu demi suksesnya acara ini. Penduduk desa pun sangat ramah kepada kami , mereka selalu bersedia untuk membantu kami sehingga hal ini membuatku merasa senang dan nyaman dapat bekerja sama dengan mereka. Banyak hal yang kami persiapkan demi terselenggaranya Pasar Tenun Rakyat 2016  , mulai dari mencari peserta , membuat konsep acara , mempersiapkan penginapan untuk peserta , mempersiapkan berbagai sambutan , mempersiapkan konsumsi , dan masih banyak persiapan lainnya. Walaupun kami sempat kelelahan saat mempersiapkan segalanya , tapi kami berusaha untuk tidak mengeluh dan selalu semangat dalam mengerjakan berbagai pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawab kami. Antusias penduduk desa dalam menyambut acara Pasar Tenun Rakyat 2016 membuat kami semakin bersemangat untuk mewujudkan sebuah acara yang luar biasa. Apalagi , ketika kami rapat bersama mereka , kami selalu disediakan berbagai makanan dan minuman yang membuat energi kami selalu terisi kembali.

Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Panitia dari tim Dreamdelion dan penduduk desa pun bersiap siap untuk menyambut peserta live in ataupun workshop. Berbagai sambutan pun telah dipersiapkan , mulai dari tarian , gamelan , makanan khas desa , dan juga sambutan lainnya. Tak lupa sambutan dan ucapan selamat datang dari kepala dusun , kepala desa , pak camat, hingga Kepala Dinas Pariwisata Sleman. Setelah berbagai sambutan , peserta pun diajak untuk keliling desa yang dipandu oleh LO dan warga desa. Walaupun siang itu cuaca sangat panas , namun antusias peserta untuk keliling desa pun tak surut. Setelah keliling desa , peserta pun melanjutkan agenda lainnya seperti Workshop Tenun dan latihan kesenian ( tari dan gamelan ). Hari pertama Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Peserta pun begitu antusias dalam mengikuti berbagai agenda yang telah disusun oleh panitia. Walaupun ada peserta yang belum pernah sama sekali latihan tari dan karawitan , namun rasa keingintahuan mereka membuat suasana semakin menyenangkan saat malam itu.

Hari kedua merupakan hari yang spesial menurutku. Ada sebuah agenda yang aku sendiri belum pernah melakukannya. Penduduk desa mengajak kami untuk melakukan upacara Baritan, sebuah upacara yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Dalam upacara tersebut , terdapat sapi yang digiring menuju sungai. Setelah sampai di sungai , sapi tersebut dimandikan oleh warga. Kemudian diikuti dengan pelarungan makanan ke sungai dan makan bersama makanan khas desa seperti ketupat. Selepas upacara Baritan , peserta diajak untuk melakukan konservasi. Setiap peserta dibimbing oleh pemandu untuk melakukan penanaman pohon di tempat yang telah ditentukan. Setelah konservasi , peserta pun melanjutkan berbagai agenda lainnya seperti workshop tiedye dan workshop craft. Pada workshop tiedye , peserta belajar tentang cara memberi warna alami pada kain. Hasilnya nanti boleh dibawa pulang oleh peserta dan dijadikan kenang-kenangan. Walaupun cuaca panas saat itu , peserta tetap bersemangat untuk menuntut ilmu. Selain mendapat ilmu mengenai pewarna alami , peserta juga diberi kesempatan untuk belajar membuat kerajinan dari kain tenun. Pada workshop craft , peserta diajari untuk membuat semacam tempat pensil. Pelan pelan tapi pasti , mereka mencoba untuk menjahit kain yang telah disediakan oleh panitia. Hingga pada akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tempat pensil tersebut.

Setelah melalui berbagai rangkaian acara , tibalah saatnya pentas seni dan farewell party. Pada malam itu , acara begitu meriah. Ada gamelan , ada tarian yang dibawakan oleh adik adik dari desa , penampilan dari peserta , bahkan ada juga penampilan dari GAMADASI UGM. Rasa senang , bangga , dan sedih bercampur menjadi satu saat itu. Senang karena acara berjalan dengan lancar dan dipertemukan dengan orang orang baru yang begitu luar biasa menurutku , dari berbagai daerah , agama , dan latar belakang. Bangga karena acara Pasar Tenun Rakyat 2016 dapat berjalan dengan lancar dan semua itu tak akan pernah terwujud jika kami tidak saling percaya ,tidak saling bahu membahu , dan tidak bertanggung jawab tehadap pekerjaan yang harus dikerjakan. Semua panitia bekerja keras untuk mewujudkan acara yang begitu luar biasa. Aku bangga bisa bertemu dengan teman teman panitia dan aku sangat mengapresiasi antusias peserta dalam mengikuti acara ini. Sedih karena akan berpisah dengan mereka semua. Mereka yang telah membuatku senang , mereka yang banyak membantuku , mereka yang selalu bersemangat walaupun disaat tertentu rasa lelah pun datang , dan mereka yang telah memberikan pengalaman yang luar biasa. Bagiku , Pasar Tenun Rakyat 2016 keren banget.

Inilah kisah yang ingin kubagikan kepada kalian. Sampai jumpa di Pasar Tenun Rakyat periode selanjutnya.

Written by : Zulfa Dewi Rosada | Photo by : Agam Budi