Dreamdelion

Perjalanan Setengah Dekade: Selamat Datang CEO Dreamdelion 2017

Perjalanan Setengah Dekade: Selamat Datang CEO Dreamdelion 2017

18 Juli 2017 –  Bertepatan dengan hari ulang tahun Dreamdelion yang ke-5, telah dilakukan serah terima jabatan CEO (Chief Executive Officer) Dreamdelion Community Empowerment oleh Alia Noor Anoviar kepada Evaulia Nindya Kirana dalam periode kepengurusan 2017/2018.

Dreamdelion Community Empowerment (Yayasan Dreamdelion Indonesia) merupakan community development yang berfokus pada isu-isu terkait dengan pendidikan, kesehatan dan lingkungan, serta pendampingan dalam pemberdayaan ekonomi lokal. Berkolaborasi dengan komunitas lokal, Dreamdelion berkeinginan untuk menciptakan dampak sosial positif terhadap tantangan sosial yang dihadapi oleh masyarakat sasaran. Nama Dreamdelion berasal dari 2 kata yaitu Dream yang berarti mimpi dan Delion (bunga dandelion) yang tertiup angin. Dreamdelion memiliki makna menyebarkan mimpi.

Dreamdelion memiliki visi menciptakan perubahan sosial melalui peran anak-anak muda dan komunitas setempat. Misi Dreamdelion adalah mewujudkan aksi kolaborasi untuk mengembangkan potensi lokal dan meminimalisasi tantangan sosial, pengembangan SDM lokal untuk memaksimalkan perubahan sosial yang menjadi target kolaborasi, dan menciptakan perubahan sosial yang terukur.

Satu tahun terakhir, Dreamdelion banyak melakukan perubahan baik strategi organisasi, logo dan karakter untuk menghadapi tantangan zaman yang disesuikan dengan kapasitas dan kapabilitas. Dreamdelion juga mengumumkan susunan co-founder baru yaitu Alia Noor Anoviar sebagai Advisor, Evaulia Nindya Kirana sebagai CEO, Diana Hemas Sari sebagai Community Development Leader, dan Nabila Hajar Aflaha sebagai Executive Secretary and Treasurer.

Alia Noor Anoviar selaku founder Dreamdelion menyatakan bahwa Dreamdelion harus tetap tumbuh untuk meciptakan perubahan di Indonesia. Alia menjelaskan bahwa tahun ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan regenerasi meningat bahwa di era sekarang ini, Dreamdelion membutuhkan warna baru.

“Saya memilih Eva untuk menjadi pemimpin yang baru karena selama 3 tahun ini Eva sangat aktif berkontribusi di Dreamdelion. Saya melihat dia adalah sosok yang inovatif, berani dan bertanggung jawab. Saya melihat itu ketika Eva menjadi Marketing Manager  dan Project Officer Pasar Tenun Rakyat tahun 2016 lalu. Saya dan Eva selalu aktif untuk berdiskusi mengenai rencana-rencana keberlanjutan Dreamdelion kedepannya, sehingga saya yakin Eva dapat membawa Dreamdelion ke arah yang lebih baik”, ujar Alia.

Sementara itu, Eva sebagai CEO baru Dreamdelion menjelaskan bahwa dirinya banyak mendapatkan pengalaman langsung terjun ke masyarakat melalui kegiatan community development. Dreamdelion telah menjadi tempatnya mengembangkan diri dan memperluas jaringan baik dengan masyarakat maupun stakeholder lainnya. Eva optimis bahwa dia akan mampu melewati tantangan yang ada kedepannya dengan dukungan dan kerjasama yang baik dari tim internal dan partner kolaborasi Dreamdelion.

Selama 5 tahun berdiri, Dreamdelion aktif berkegiatan di Jakarta, Yogyakarta, Cianjur, Ngawi, dan Surabaya. Eva dan Alia berharap adanya peluang kolaborasi baik dari NGO, Pemerintah, sektor publik maupun swasta untuk mendampingi masyarakat di kelima daerah tersebut di Indonesia.

Memperingati Hari Bumi Hadirkan Harapan Untuk Pulau Harapan

Memperingati Hari Bumi Hadirkan Harapan Untuk Pulau Harapan

Pulau Harapan merupakan bagian dari Kepulauan Seribu yang berlokasi di sebelah utara Jakarta. Sebuah pulau yang cukup padat penduduk dan populer di kalangan wisatawan sebagai tempat untuk berlibur ataupun sekedar singgah sebelum menuju pulau-pulau lain di sekitarnya untuk menikmati pantai dan keindahan bawah laut. Dapat ditempuh dengan waktu 2 atau 3 jam dari Jakarta, Pulau Harapan merupakan salah satu pilihan yang menarik bagi yang ingin melakukan weekend gateaway untuk sekedar melepas penat dan menghirup angin laut. Perjalanan saya bersama Dreamdelion yang berkolaborasi dengan KeMANGTEER Jakarta, Bersih Nyok!, Gemass Indonesia, ACP Indonesia, dan Kampung Dongeng dalam rangka memperingati hari Bumi pada 5-6 mei lalu telah memberikan sebuah kenangan tersendiri tentang pulau penuh cerita ini.

Dreamdelion menerjunkan 5 orang untuk melakukan social mapping, kegiatan yang bertujuan untuk menggali potensi yang dimiliki oleh Pulau Harapan agar bisa dikembangkan melalui program-program yang sustainable. Selain itu, tim juga melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama warga Pulau Harapan yang terbagi menjadi dua sesi, sesi bersama bapak-bapak dan sesi bersama ibu-ibu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui Pulau Harapan di mata penghuninya serta harapan dan hambatan yang dirasakan oleh mereka selama tinggal di pulau tersebut. Banyak hal-hal menarik yang akhirnya bisa didengar dari penuturan dan curhatan mereka.

Sebagian besar warga Pulau Harapan memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Namun, sekitar 2 tahun terakhir, semakin berkembangnya bisnis homestay di pulau tersebut membuat semangat melaut sudah tidak sebesar dahulu. Hal ini dikarenakan pendapatan yang bisa didapatkan dari mengelola penginapan jauh lebih besar dan lebih pasti dibandingkan dengan hasil melaut. Jika sekali melaut seharian hanya bisa mendaptkan sekitar Rp 50.000, mengelola homestay bisa mendapatkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Meskipun bisa jadi ada yang di cancel pemesanan penginapannya, namun sudah bisa mengantongi uang DP. Tentu saja pekerjaan dengan jaminan pemasukan yang lebih pasti ini semakin diminati warga Pulau Harapan hingga pulau tersebut penuh dengan bangunan rumah dan sedikit lahan yang tersisa untuk sarana lainnya. Menurut Pak Rohman, jika dulu di Pulau Harapan terlihat banyak pohon sukun, sekarang yang terlihat adalah banyak genteng berwarna.

Ikan di laut yang berkurang jumlahnya dari waktu ke waktu juga menjadi penyebab ciutnya semangat melaut para nelayan. Menurut penuturan para warga ketika FGD, dalam hal ini bapak-bapak, menjelaskan bahwa saat ini mencari ikan di laut sudah tidak semudah dahulu seperti pada sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Dikarenakan dulu masih banyak ikan di sekitar pulau sehingga dengan memancing di pinggir pulau saja sudah bisa mendapatkan tangkapan yang lumayan. Namun saat ini nelayan harus bekerja lebih keras dengan melaut lebih jauh ke tengah laut untuk mendapatkan ikan. Dampaknya, mereka harus menghadapi perompak yang semakin banyak beroperasi menjelang lebaran. Hasil tangkapan pun tidak sebanyak dulu dan belum tentu bisa menutupi biaya operasionalnya.

Sedihnya, hasil tangkapan tersebut pun bukan untuk dimakan oleh penduduk, namun untuk dijual kepada pemilik usaha catering yang kebanjiran pesanan untuk melayani wisatawan yang berkujung dan menginap di sana. Hal ini sesuai penuturan ibu-ibu Pulau Harapan yang menyayangkan bahwa makan ikan seminggu sekali saja sudah bersyukur, karena untuk memenuhi kepentingan usaha catering, bahkan warga pulau sendiri jarang makan ikan. Jika pihak catering masih kekurangan ikan, maka akan membeli ke Jakarta. Miris sekali mendengar hal tersebut, mengingat hasil laut yang seharusnya bisa memenuhi kebutuhan penduduk terutama memenuhi gizi anak-anak, namun harus mengalah untuk bisnis komersil.

Sampah juga menjadi hal yang masih dipersoalkan hingga kini. Lebih mudah menemukan sampah plastik di pinggir pulau dibandingkan ikan laut. Baik di darat maupun di laut, keberadaan sampah plastik tidak diharapkan namun gaya hidup yang sudah melekat membuat plastik menjadi barang yang tak terhindarkan eksistensinya. Di darat, pengolahan sampah plastik yang belum jelas dan efektif menjadi keluhan warga, walaupun sudah ada tempat penampungan dan alatnya namun belum dimanfaatkan sebaik mungkin. Sampah-sampah masih diangkut oleh kapal yang sebulan sekali berkunjung untuk mengangkut sampah dan dibawa ke Jakarta. Padahal biaya untuk pengangkutan sampah di pulau-pulau tidaklah murah karena mencapai ratusan juta rupiah per hari untuk operasionalnya, sesuai penuturan dr. Nila—founder Bersih Nyok!—ketika memberikan penyuluhan kepada warga mengenai pentingnya mengelola sampah dengan benar. Di laut, sampah menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah ikan dikarenakan menutupi terumbu karang dan membuatnya mati. Menurut salah satu peserta FGD, sekali menebar jala ketika sedang melaut bisa mendapatkan 10 kg sampah plastik. Baling-baling kapal pun sering rusak akibat tersumbat sampah plastik. Bukan hal yang mustahil untuk mengatasi keberadaan sampah plastik ini agar tidak sampai pada jumlah yang merugikan, but still, there is a long way to go.

Harapan warga untuk Pulau Harapan banyak yang terkait dengan kondisi lingkungan alam tempat tinggal mereka agar tetap lestari dan indah. Mereka sadar bahwa para turis bersedia mengunjungi pulau tercintanya untuk melihat keindahan dan mereka pun berharap Pulau Harapan akan tetap indah. Baik di laut maupun di daratnya, sumber daya alam nya agar tetap dapat dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak. Tak hanya untuk generasi masa kini, namun untuk anak cucu di masa mendatang. Sungguh Pulau Harapan yang penuh harapan.

By Putri Wulandari

Yuk Coba Pecel Semanggi, Kuliner Ikonik Bernutrisi Khas Surabaya!

Yuk Coba Pecel Semanggi, Kuliner Ikonik Bernutrisi Khas Surabaya!

Pecel Semanggi dari Surabaya

Matahari belum cerah sempurna, akan tetapi kaki kami tegap menapak pelataran Masjid Agung Surabaya untuk berburu makanan ikonik dari Surabaya. Minggu pagi itu, kami rela bangun dan bergegas lebih  awal untuk mencari penjual pecel semanggi. Memang, butuh usaha sedikit ekstra untuk dapat mencicipi makanan ini karena distribusinya yang sudah cukup langka. Penjual semanggi, hanya bisa ditemukan di titik-titik tertentu di Surabaya, di antaranya taman bungkul, masjid agung, dan jl. Rajawali.

Kenapa bersusah-payah mencari pecel semanggi? Selain bahwa pecel ini adalah kuliner yang khas Surabaya, pecel semanggi juga memiliki cita rasa yang unik dan berbeda. Meski bernama pecel, bumbu kuliner ini memiliki campuran selain kacang, juga ubi rambat dan gula merah. Biasanya, pecel semanggi disajikan dengan kerupuk puli besar yang sungguh menambah kelezatan. Pecel semanggi juga menjadi lebih menarik karena harganya yang ramah kantong, berkisar 5 – 15 ribu rupiah.

Muasal Semanggi

Jika terlampaui sulit bertemu pecel semanggi di Surabaya Kota, kita bisa mengunjungi Kampung Kedung, Benowo di daerah Surabaya barat untuk menikmati kuuliner ini. Sebab, dari Benowolah persediaan semanggi berasal.  Sehingga, dapat ditemukan banyak penjual semanggi dengan bakul keranjang anyam dan kain jarit di daerah ini.

Awalnya, tumbuhan semanggi, dengan daun yang biasanya berkelopak empat di tiap tangkainya, tumbuh liar di persawahan Kampung Kedung. Menemukan peluang, semanggi kemudian dibudidayakan, dan dijadikan bahan makanan oleh masyarakat Benowo. Dengan harapan, semanggi dapat menjadi  sumber bagi  mata pencaharian.

Khasiat Semanggi

Di samping lezat dan ramah kantong, mengkonsumsi pecel semanggi dapat membantu kita mengatasi beberapa gangguan kesehatan. Daun semanggi dengan kandungan flavonoid, polifenol, tanin, asam oksalat saponin, zat samak, dan minyak atsiri dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran kencing, keterlambatan haid, menurunkan tekanan darah tinggi mengatasi neurasthenia, flu-demam, diare, radang tenggorokan, bahkan hepatitis.

Nah, obat-able banget, kan? Nggak rugi, deh, memburu pecel semanggi.

Membuat Semanggi

Jika tak juga sempat bertemu bakul pecel semanggi, kita bisa membuat pecel semanggi sendiri. Bahannya mudah didapat. Kita hanya perlu menyiapkan bahan-bahan seperti daun semanggi, tauge, juga kerupuk puli. Caranya pun sangat mudah,  cukup merebus tauge dan menyiapkan bumbu. Agar lebih jelas, kami sudah menyiapkan ringkasannya:

Bahan Semanggi :

 

  • daun semanggi secukupnya, direbus
  • tauge secukupnya, diseduh dengan menggunakan air panas
  • kerupuk puli

 

Bumbu Semanggi :

  • 1 sendok makan kacang tanah goreng, lalu diuleg kasar
  • ½ sendok makan petis
  • 3 sendok makan ketela rambat atau ubi rebus yang dihaluskan
  • Gula merah sesuai selera
  • Air secukupnya

 

Cara Membuatnya :

 

  • Uleg setengah halus gula merah, garam, dan kacang tanah
  • Masukkan ketala rambat dan petis. Uleg lagi hingga semua bahan menyatu
  • Beri air secukupnya dan aduk rata hingga menyerupai saus kental
  • Letakkan daun semanggi di atas piring, biasanya bakul semanggi menyajikannya di daun pisang pincuk
  • Beri tauge rebus di atasnya, lalu siram dengan sausnya
  • Tambahkan cabai bagi pecinta pedas
  • Sajikan bersama kerupuk puli di atasnya

 

Pecel semanggi sudah mulai tak banyak dijual. Padahal, pecel semanggi adalah salah satu kuliner kekayaan Surabaya yang layak dijual dan dibanggakan. Kuliner ini tak boleh hilang. Sebab itu, penting bagi kita untuk turut melestarikan pecel semanggi. Yuk, tuku pecel semanggi, rek!

#dirgahayusurabayaku

Dari, Oleh, dan Untuk Masyarakat: Konsep Desa Wisata Berbasis Demokrasi

Dari, Oleh, dan Untuk Masyarakat: Konsep Desa Wisata Berbasis Demokrasi

Suasana di Dukuh Sumberarum, Sejati Desa malam itu cukup sepi. Selepas maghrib masyarakat desa memang jarang ada yang keluar rumah, kecuali bila memang ada kepentingan tertentu seperti sembahyang, rapat desa, atau pengajian di rumah tetangga yang mengharuskan untuk keluar rumah.  Hembusan angin memang tidak cukup kencang, namun cukup untuk membuat bulu kuduk merinding. Minimnya penerangan jalan, semakin mendukung suasana desa yang sepi, namun langit cukup cerah sehingga bulan yang saat itu masih cukup bulat mendukung terangnya malam di Dukuh Sumberarum. Selain itu bintang gemintang terlihat begitu banyak menghiasi langit malam karena minimnya polusi cahaya.

Tim Dreamdelion Yogyakarta, bersama dengan pembicara, malam itu mengadakan sesi diskusi dengan Kelompok Sadar Wisata Sejati Desa mengenai pengembangan desa wisata Dukuh Sumberarum, Sejati Desa di rumah Bapak Amin, warga setempat. Singkat cerita, masyarakat Dukuh Sumberarum memiliki semangat untuk dapat mengembangkan desa wisata setelah diadakan Pasar Tenun Rakyat bersama Dreamdelion tahun lalu. Di dasari dengan semangat yang muncul paska-even tersebut, masyarakat desa pun, secara mandiri membentuk sebuah Kelompok Desa Wisata, yang nantinya diharapkan dapat mendorong kreatifitas masyarakat desa dan dapat meningkatkan kesejahteraan desa tersebut. Oleh karena itu, Tim Dreamdelion hadir untuk menjadi fasilitator masyarakat desa, demi terwujudnya mimpi-mimpi tersebut.

Pembicara yang hadir malam itu adalah Mbak Adesty Lassaly, yang memiliki banyak pengalaman riset di berbagai desa wisata Kabupaten Sleman. Mbak Adesty pun membentuk sebuah Non-Government Organization bernama Ludens Tourism Space yang bergerak untuk memberikan konsultasi mengenai pariwisata untuk masyarakat. Pada diskusi dengan masyarakat desa, Mbak Adesty kami ajak untuk memberi gambaran kepada masyarakat desa, khususnya Pokdarwis Dukuh Sumberarum, mengenai gambaran umum desa wisata. Diskusi diawali dengan pemaparan Tim Dreamdelion mengenai hasil kerja dan observasi tim dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Tim Dreamdelion memaparkan kondisi desa sekaligus kepengurusan Pokdarwis, serta memberikan tawaran-tawaran kurikulum untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia Pokdarwis tersebut.

Hingga kemudian, sesi yang cukup menarik pun dimulai. Diskusi bersama Mbak Adesty. Diskusi tersebut saya anggap menarik, karena berbeda dengan pertemuan-pertemuan Tim Dreamdelion dengan beberapa ahli sebelumnya, Mbak Adesty menekankan mengenai pentingnya pengembangan sebuah Desa Wisata berbasis masyarakat, atau bisa dibilang, demokratis. Bagaimana kemudian sebuah desa wisata hadir, bukan sebagai ladang uang hanya bagi kelompok-keleompok tertentu saja, namun dapat menjadi sebuah wadah pembelajaran bagi seluruh elemen yang terlibat di dalamnya, baik dari masyarakat desa, baik mereka yang tergabung dalam Pokdarwis atau tidak, maupun wisatawan yang menikmati jasa pariwisata. Sehingga, desa wisata tersebut hadir karena insiatif masyarakat, digerakkan oleh roda-roda semagat yang juga berasal dari masyarakat, dan hasil yang dapat dipetik pun dikembalikan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi yang sudah ada.

Saya rasa, konsep ini sangat cocok jika diaplikasikan kepada Dukuh Sumberarum, mengingat bahwa masysarakat desa memiliki semangat untuk membentuk sebuah Pokdarwis secara mandiri. Dengan ciri khas tenun stagen yang dirasa sulit untuk ditemukan di wilayah lain di Yogyakarta, serta potensi lain seperti suasanya desa yang masih begitu terjaga dan asri, ciri khas masyarakat desa yang ramah, guyub-rukun, dan gemar bercanda, saya rasa sudah cukup untuk bisa dijadikan modal untuk membentuk sebuah desa wisata. Tidak banyak yang perlu dipoles dari segi potensi, namun tentu, banyak yang peru dikembangkan dari sisi sumber daya manusia.

‘Tidak perlu merubah apapun, biarkan saja seperti apa adanya masyarakat desa. Kemudian, turis asing pasti akan tertarik.’

Salah satu poin penting yang perlu dipertimbangkan dari diskusi malam itu. Namun, jika dikulik kembali, memang benar apa yang diungkapkan Mbak Adesty. Jogja memang memiliki ratusan desa wisata, namun, tidak jarang pula yang mati karena beragam sebab yang bisa dibilang remeh, namun memiliki dampak yang cukup besar, yaitu komitmen dan kompetisi. Banyak desa yang sudah memiliki konsep sejenis, seperti desa-desa di wilayah Kaliurang dengan konsep perkebunan salaknya. Beberapa yang sukses memang akan menguntungkan hasil yang besar, namun tidak sedikit pula yang mati karena kalah di kompetisi. Tentu saja, kami tidak ingin, Desa Wisata yang akan dibentuk dan dijalankan kelak mati begitu saja karena kalah oleh proses yang dijalani.

‘Jangan korbankan pekerjaan utama Bapak-Ibu, jadikan desa wisata sebagai penghasilan tambahan saja.’

Poin lain yang perlu digaris bawahi oleh Mbak Adesty, dan tentu kami, Tim Dreamdelion. Perlu diingat bahwa masyarakat desa dan utamanya pengurus pokdarwis memiliki pekerjaan utama untuk menghidupi keluarga masing-masing. Pokdarwis yang dihadirkan dari inisiatif warga dukuh sendiri merupakan sebuah bentuk kreatifitas yang patut diapresiasi. Semangat warga desa yang masih cukup besar baiknya dimanfaatkan sebaik mungkin. Potensi desa serta masyarakatnya yang sudah ada layaknya turut bergerak bersama dengan peningkatan kualitas dibantu oleh elemen-elemen terkait.

Berbagai tantangan tentu akan dihadapi seiring dengan berjalannya waktu. Menyusun konsep yang lebih jelas, menentukan pasar sehingga dapat mendukung tepat sasarannya strategi promosi menjadi aspek penting untuk terbentuknya sebuah desa wisata yang mumpuni.  Semoga, seiring dengan berjalannya waktu, serta beragam proses yang harus dilalui, Pokdarwis Dukuh Sumberarum dapat mengembangkan sebuah desa wisata yang mandiri, berdaya, dan tentunya demokratis, yaitu dari, oleh, dan untuk masyarakat Dukuh Sumberarum.

 

Memupuk Asa dari Sudut Surabaya: Vera untuk Kartini Muda Indonesia

Memupuk Asa dari Sudut Surabaya: Vera untuk Kartini Muda Indonesia

Namaku Vera. Baru dua tahun yang lalu, aku memutuskan untuk memulai perjalanan hidup baruku. Sebelumnya, aku terlahir dari keluarga berkecukupan. Kami tidak berasal dari keluarga yang kekurangan, pun juga tidak berlebih. Sehari-hari, Bapak dan Ibuku bekerja untuk menjajakan sayur di sebuah pasar tradisional di salah satu kota besar — kota Surabaya. Seringkali, aku bersama adikku juga membantu Ibu untuk berbelanja, sekedar mengantar atau untuk membawakan sayur-mayur belanjaan Ibu untuk dijual kembali di kios Ibu. Namun, ternyata Tuhan selalu memiliki rencana yang sangat indah. Tepatnya di bulan Mei tahun 2015, Ibu meninggalkan kami. Meninggalkan aku, adik dan bapakku. Gejala hepatitis adalah penyakit yang justru baru kami ketahui dari dokter setelah Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian Ibu kala itu membuatku tergerak untuk meneruskan usaha menjual sayur. Sambil berjualan sayur di pasar, saat ini, aku juga sedang menempuh pendidikan Sarjana di salah satu Universitas terbaik di Surabaya. Sebab, pendidikan adalah yang nomor satu bagi orangtuaku. Kesibukan kuliah dan berjualan sayur di pasar sungguh menyita waktuku. Waktu belajarku, waktu istirahatku, dan waktuku untuk menemani Bapak. Terlebih karena Bapak memiliki kondisi fisik yang lemah sejak penyakit jantung tinggal di dalam tubuhnya bertahun-tahun. Ketika aku kecil, Bapak sudah berkali-kali keluar masuk Rumah Sakit untuk sekedar kontrol, periksa jika suatu saat kambuh, bahkan harus rawat inap karena penyakit jantung. Setiap hari, Bapak juga tidak pernah lupa mengonsumsi obat khusus dari dokter untuk melawan rasa sakit. Tentu, bukan keadaan yang seperti itu yang aku inginkan dari Bapak. Aku selalu menginginkan Bapak dalam kondisi yang sehat. Aku pun juga menginginkan selalu bisa menemani Bapak di rumah. Bercerita tentang hal apa saja pada Bapak seperti tentang keseharian di kampus, pengalaman berjualan atau sekedar menanyakan bagaimana keadaan Bapak. Namun, ternyata Tuhan lebih sayang pada Bapak. Bapak meninggalkan kami tepat setahun setelah Ibu pergi.

Sebagai anak pertama, tentu aku harus bertanggung jawab atas apa yang Bapak dan Ibu titipkan padaku. Kehilangan sosok orangtua membuat aku dan adikku semakin bertanggung jawab atas amanah dari Bapak dan Ibu. Kami harus menjadi perempuan yang sama-sama kuat dan saling menguatkan. Mengurus semuanya sendiri, mengatur keuangan, mencari biaya untuk kuliah kami, kebutuhan untuk makan, dan kebutuhan lainnya sehari-hari.

Malam hari terasa lebih panjang bersama dengan motor kesayanganku, lengkap dengan karung di kanan kiri untuk meletakkan sayur. Di saat perempuan seusiaku sewajarnya dapat beristirahat pukul sebelas malam, aku baru memulai aktivitas untuk membeli sayur agar aku dapat menjual kembali esok paginya. Setelah membeli kebutuhan untuk berjualan saatnya aku beranjak ke sebuah pasar dimana aku menjajakan hasil sayur mayur yang sudah ku beli. Sehari-hari, keuntungan kami memang tidak seberapa. Namun hasil keringat kami untuk berjualan sayur mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari bahkan bisa membiayai aku dan adikku kuliah hingga saat ini. Aku memang memutuskan untuk tidak meminta pada orang lain, selama aku bisa mengupayakannya dengan kemampuanku sendiri. Terkadang, kami juga pernah merasa kekurangan akibat hasil jualan yang merugi, juga tak jarang dihantui kekhawatiran tidak mampu membiayai kebutuhan ini dan itu, akan tetapi hidup sudah dirancang sedemikian rupa agar mampu kami jalani. Tak jarang, kami juga merasa ingin seperti teman-teman yang lain, yang dapat menikmati kehidupannya tanpa beban yang harus ditanggung, namun aku bersyukur dengan keadaan, karena apa yang aku jalani sekarang ini dapat mendewasakan kami, menguatkan kami dan membuat kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika kebetulan penghasilan kami berlebih, kami syukuri dengan sesekali membeli makanan enak seperti sate padang yang dijual duapuluh ribuan. Selebihnya kami tabung, sebagai rasa syukur kami atas kerja keras kami selama ini dan sebagai simpanan bagi kami suatu hari.

Menjadi pedagang sayur tidak lantas membuat aku mengubur dalam-dalam mimpiku. Setelah aku lulus kuliah nanti, aku ingin membahagiakan adik dan keluargaku dengan hasil kerja kerasku sendiri. Aku ingin bekerja sesuai dengan apa yang aku minati sekarang yaitu di keilmuan sastra Inggris. Dunia pariwisata adalah hal yang menarik untukku. Aku bermimpi dapat berkeliling dunia dengan mengaplikasikan ilmu. Terkadang aku dihampiri rasa lelah, sehingga membuat motivasiku untuk menuntut ilmu tak jarang masih naik turun. Namun aku percaya bahwa Tuhan sudah memberikan jalan terbaik untukku. Aku yakin aku juga bisa seperti teman-teman yang lainnya dalam menggapai mimpi. Di saat kesulitan maupun kesusahan yang menerpa hidupku, di saat itulah Tuhan selalu mempersiapkan jalan keluar yang harus aku tempuh. Aku hanya bisa berharap aku mampu menjadi perempuan yang kuat, bukan perempuan yang menyerah dengan keadaan dan agar apa yang aku lakukan sekarang ini, dapat meringankan langkah orangtuaku menuju surga nanti.

 

Written by : Qori, Lintang, Sarah, Ratih

Photo by : Sarah

If Everyone Tells Stories, How Can You Become a Great Storyteller?

If Everyone Tells Stories, How Can You Become a Great Storyteller?

“Everyone is a storyteller”

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah mentoring pertama dari Internship Dreamdelion tentang storytelling bersama Kak Rona Mentari. Beliau ini adalah seorang aktivis storytelling dan juga founder Rumah Dongeng Mentari. Sore itu Kak Rona berbagi cerita tentang bagaimana menjadi seorang storyteller yang baik.

Kak Rona memulai sesi mentoring dengan bercerita tentang awal mula ia menjadi storyteller. Awalnya Kak Rona ini adalah seorang anak yang pendiam dan pemalu, namun karena ibunya selalu menjadi seorang pendengar yang baik untuknya, maka ia mulai lebih percaya diri untuk berani bercerita di depan umum. Sebuah pelajaran berharga juga menurutku sebagai calon orang tua kelak, bahwa hal yang sangat penting untuk dilakukan pada seorang anak adalah menjadi seorang pendengar yang baik dan selalu menanyakan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Nah, mungkin mulai masuk ke pembahasan tentang storytelling. Mengapa storytelling itu penting?

Pertama, storytelling merupakan hal yang disukai oleh anak-anak, bahkan kita sebagai orang dewasa pun masih menyukai dongeng atau cerita. Anak-anak juga cenderung lebih antusias untuk mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh orang lain.

Kedua, dongeng menarik karena mampu mengajari tanpa menggurui. Melalui dongeng, kita dapat menyampaikan pesan-pesan tanpa harus terkesan menggurui seseorang. Anak-anak juga cenderung akan lebih menangkap pesan jika disampaikan melalui cara yang menarik.

Ketiga, Dongeng juga akan merangsang imajinasi anak. Imajinasi diperlukan agar anak mau bercita-cita tinggi. Imajinasi juga membuat kita berpikir lebih kreatif.

Keempat, dongeng juga akan meningkatkan minat baca dan tulis. Berbagai dongeng yang menarik akan meningkatkan minat baca anak-anak. Selain itu, apabila seseorang ingin mendongeng, tentunya mereka butuh membaca buku untuk mendapatkan ide mendongeng. Dongeng yang disampaikan juga bisa berupa hasil modifikasi cerita dalam buku dengan pesan tertentu yang kita ingin sampaikan.

Kelima, dongeng juga mengajarkan budaya talent. Dalam mendongeng, kita juga bisa menggunakan kemampuan tertentu yang kita miliki agar menarik bagi audiens, misalnya menyanyi, bermain musik, menggambar, dan lain sebagainya.

Bahkan, sebuah penelitian dari Mc Clelland menemukan bahwa sastra anak yang disampaikan ke anak-anak di Inggris berpengaruh pada masa depan anak.

Ada pula beberapa tips yang dapat digunakan ketika akan mendongeng di depan anak-anak. Beberapa di antaranya yaitu menyiapkan cerita dengan baik, mengetahui siapa audience kita, dan menggunakan media sesuai talent. Hal tersebut penting untuk kita lakukan agar kita lebih bisa menyesuaikan cerita sesuai target audiens, menarik bagi audiens, serta mengurangi kemungkinan lupa ketika mendongeng.

Posisi ketika mendongeng juga perlu diperhatikan. Salah satu posisi yang paling efektif untuk mendongeng di dalam ruang adalah dengan memilih sudut ruangan. Posisi tersebut dapat dipilih untuk mengurangi distraksi atau gangguan yang sering terjadi ketika mendongeng, misalnya adanya objek tertentu yang mengalihkan perhatian anak-anak.

Suasana hati anak-anak juga perlu diperhatikan ketika mendongeng. Waktu yang dinilai cukup efektif untuk mendongeng yaitu sekitar 15 menit.

Selain itu, ada pula sebuah tips untuk mengatasi seorang leader dari anak-anak yang memberikan pengaruh kepada temannya untuk tidak mendengarkan dongeng yang kita sampaikan, yaitu dengan melibatkan mereka ke dalam dongeng kita sebagai tokoh yang baik. Hal itu dapat dilakukan dengan menjadikan nama si anak sebagai tokoh protagonis dan patut ditiru dalam dongeng. Cara ini cukup efektif dan pernah diterapkan oleh Kak Rona.

Terakhir, ketika berhadapan dengan anak-anak, maka jangan mudah baper dan tetap ekspresif. Jangan berhenti bersemangat ketika ada feedback yang tidak kita inginkan dari mereka. Tetap tersenyum! Pahami dan libatkan mereka dalam cerita yang kita sampaikan.

Semoga bermanfaat ya!

Dreamdelion Surabaya Menyapa Hangat Good News From Indonesia

Dreamdelion Surabaya Menyapa Hangat Good News From Indonesia

Siapa yang tak mengenal GNFI? Good News From Indonesia atau yang biasa dikenal dengan GNFI merupakan salah satu media yang cukup berpengaruh dalam menyebarkan kabar baik dari Indonesia lewat berita positif yang menarik dan independen. Selama kurang lebih 9 tahun, GNFI secara konsisten membangun optimisme para pembacanya untuk tergugah bahwa Indonesia sebenarnya adalah bangsa yang mampu, bangsa yang kaya, bangsa yang patut kita cintai bersama dan bisa menjaga segala hal kelestariannya. Informasi yang diberikan kepada pembacanya melalui artikel-artikel yang dikemas secara apik dan sangat unik sehingga hal tersebut yang membedakan GNFI dengan media yang lain. Akhyari Hananto adalah seorang yang memulai membangun salah satu industri kreatif ini. Lewat GNFI, beliau ingin menyampaikan pesan-pesan positif yang menginspirasi orang lain, khususnya warga Indonesia.
 
Hari ini, Dreamdelion Surabaya mendapat kesempatan untuk sharing dengan Founder GNFI yakni Akhyari Hananto. Dreamdelion Surabaya yang saat ini memiliki fokus pada sebuah project kepenulisan, akan sangat membutuhkan lebih banyak sharing, diskusi dan mentoring pada ahlinya untuk meningkatkan skill dan belajar bagaimana membuat sebuah tulisan yang tidak hanya dibaca namun juga dapat memberikan impact yang luas.
 
Dalam penjelasannya, Akhyari menyatakan bahwa betapa media saat ini sangat memiliki pengaruh yang besar terhadap negara dan dapat merubah pola pikir masyarakat di negara tersebut. Kita tentu dapat menyadari bahwa saat ini kita hidup di era yang mana teknologi sangat bekembang dengan sangat pesat. Munculnya beberapa inovasi digital yang membuat kemudahan-kemudahan bagi pengguna dari teknologi yang digunakan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kita sedang berada di era yang borderless yang mana di hampir semua negara sudah tidak berlaku lagi batasan wilayah atau batasan daerah. Contoh sederhananya seperti pada saat di suatu event jobfair, para jobseeker yang berasal dari belahan dunia yang lain seperti Rusia, Thailand, Taiwan dan negara yang lain secara bebas datang ke Indonesia untuk hanya sekedar melamar pekerjaan. Hal tersebut tentu akan semakin memunculkan persaingan yang ketat dan menimbulkan banyak tantangan bagi pemuda yang dirasa belum siap dalam menghadapi fenomena tersebut.
 
Akhyari juga menyatakan bahwa kita sebagai warga yang hidup di salah satu negara Asia harus siap menghadapi sebuah fenomena Asian Gravity yang mana mungkin 800 tahun yang lalu tak pernah ada sebuah kemajuan tersebut, namun pelan tapi pasti Indonesia akan menjadi salah satu negara yang memiliki peran bagi kemajuan di Asia bahkan dunia. Menurut PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu perusahaan jasa keuangan dunia, Indonesia diprediksi menempati posisi kelima setelah China, Amerika Serikat, India, dan Jepang sebagai negara yang memiliki perekonomian terbesar di dunia pada Tahun 2030. Tentu hal tersebut akan menjadi peluang bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan global. Selain itu, masih banyak tantangan yang lain yang menuntut kita untuk dapat berpikir jalan keluar dari masalah yang ditimbulkan dari beberapa tantangan tersebut, diantaranya seperti artificial Intelligence, Food And Water scarcity, Climate Change, Protectionism, Income Gap, Economic disruption, dan Energy-Hungry Era, serta mungkin masih banyak tantangan lain yang belum kita ketahui.
 
Untuk menghadapi beberapa tantangan tersebut, dibutuhkan inovasi yang muncul untuk bisa menjawabnya. Hal yang penting dilakukan ketika akan memulai sebuah inovasi adalah melakukan upskilling dan re-skilling. Perbedaan upskilling dan re-skilling adalah upskilling, yakni meningkatkan skill yang sudah ada, contohnya seperti inovasi dengan memperbaiki mobil yang sebelumnya harus ada seorang sopir atau driver untuk mengemudikannya, saat ini diperbaharui dengan kecanggihan mobil auto-pilot. Sedangkan re-skilling adalah menambah skill yang baru dari skill yang sudah ada. Inovasi yang dibuat nantinya tidak hanya mampu menjadi solusi namun juga bisa di scale up atau dibesarkan untuk menjawab tantangan yang ada di masa mendatang.
 
 
Written by: Ratih Nur Hayati

Mr. Podcast Indonesia Berbagi Prespektif tentang Personal Branding

Mr. Podcast Indonesia Berbagi Prespektif tentang Personal Branding

“Jadi, apa itu branding?” tanya Kak Iqbal di awal acara.

First impression,” jawaban dari Uwi, teman yang duduk di samping saya.

“Identitas diri,” jawaban dari Bagus, project leader Dreamelion Cianjur.

“Yang menjadi pembeda kita dengan yang lain (competitive advantage),” jawaban dari Hendro  yang duduk di seberang meja saya.

Sejujurnya, sebelumnya saya adalah orang yang skeptis jika menyangkut tentang mempromosikan diri. Dengan berkembangnya berbagai media sosial yang mempu menjadi sarana untuk mengaktualisasikan berbagai hal, saya berprinsip bahwa ada batasan yang harus dibuat agar apa yang dapat dilihat dan diketahui khalayak umum tidak melangkahi ranah privacy. Terdengar old style? Ya, itulah pemikiran saya tentang branding sebelum saya mengikuti sesi Mentoring 1 untuk Intern Dreamdelion Cianjur dan Jakarta bersama Iqbal Hariadi, Marketing Manager kitabisa.com.

Dulu saya menganggap bahwa branding itu bullshit, tak lebih dari kesan yang sengaja dibangun untuk meningkatkan impresi dari target pasar big companies sehingga produk mereka semakin laku. Apalagi melihat semakin berkembangnya branding negatif dengan prinsip “it’s good to be bad” yang diusung oleh para selebgram yang lagi nge-hits, membuat saya semakin tak percaya bahwa branding bisa digunakan untuk kebaikan. Satu hari mentoring pada Sabtu, 25 Maret 2017 berhasil menggoyahkan kepercayaan saya. Topik pada hari itu mampu menggeser cara berpikir saya untuk melihat sisi lain dari branding yang berhasil dibawakan secara apik oleh sang Mr. Podcast Indonesia.

Dengan niat yang baik untuk berbagi atau berkarya, social media bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menyebarkan kebaikan dan meningkatkan ketrampilan diri. Terutama untuk membangun citra diri ingin dikenal sebagai sosok yang seperti apa. Fokus pada satu atau dua media sosial yang paling sering digunakan, mulai dengan membagikan hal-hal yang terkait dengan minat pribadi atau keresahan yang kita rasakan dan ingin dibagi. The little things around yang mampu mengusik hati dan pikiran kita sehari-hari.

Bentuk lainnya adalah melalui berkarya sesuai passion. Tak perlu takut untuk terlihat jelek karena karya awal itu pasti jelek, hajar saja ketakutan yang ada. Itulah langkah awal yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya lain hingga pada akhirnya mengghasilkan karya besar yang lebih berkualitas. “Banyak yang mencemooh atau tak suka? Bisa jadi itu hanya pelampiasan rasa iri mereka,” kata Kak Alia, sang founder Dreamdelion. “Cukup temukan satu orang yang sepaham dan tulus mendukung kita,” kata Kak Iqbal, “pada akhirnya hal tersebut cukup untuk memacu dan menjadi bahan bakar semangat kita.”

Sisi lain dari branding selanjutnya adalah ia bisa dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan masalah sosial. Dikaitkan dengan dunia start-up dan social enterprise yang sedang berkembang, akan lebih mudah bagi orang awam untuk berpartisipasi dalam berbagai campaign di media sosial jika branding dari organisasi yang menyelenggarakan sudah cukup dikenal luas. Untuk mencapai pada titik bahwa branding kita diterima oleh masyarakat tentu membutuhkan waktu dan usaha yang persistence. Dengan melakukan eksperimen dan learning, serta mindset yang tough, hal tersebut merupakan kunci untuk growing and getting better.

Kini saya mengerti bahwa branding tidak melulu untuk meningkatkan follower ataupun buyer. Lebih dari itu, branding adalah personal statement yang mampu menunjukkan value yang kita punya dan ingin kita bagi. Baik atau buruk bentuknya, hal tersebut adalah pilihan atas strategi yang bisa digunakan. Namun, pada akhirnya niat baik akan membawa kebaikan lebih mudah tersebar bukan?

Written by: Putri Wulandari | Photo by: Putri Wulandari | Editor: Bagus A

Serunya Menjalani Waktu Akhir Pekan dengan Dreamdelion Cianjur

Serunya Menjalani Waktu Akhir Pekan dengan Dreamdelion Cianjur

Malu-malu tapi seru, itulah kesan yang terlihat dari ekspresi para murid SMP Tunas Bangsa ketika mengikuti serangkaian games dan sesi berbincang dengan tim Dreamdelion Cianjur pada Sabtu, 11 Maret 2017. Walaupun cuaca pada hari itu cukup mendung dan rintik hujan menemani, semangat dan antusias mereka cukup untuk mencerahkan suasana. Bermain dengan adik-adik kelas 7 dan 9 yang berasal dari sekitar Puncak Simun tersebut mampu menjadi recharge buat saya.

Dimulai dengan games berkenalan yang menjadi pembuka untuk lebih mengenal satu sama lain dan mencairkan suasana. Lalu dilanjutkan dengan membagi ke dalam beberapa kelompok yang mana setiap kelompok terdapat kakak pendamping dari tim Dreamdelion untuk membuat yel-yel. Dengan kelompok tersebut juga akhirnya kami mengikuti games selanjutnya yang seru dan cukup membutuhkan kerja sama dalam kelompok. Kebetulan, saya bersama Yogi yang tergabung dengan adik-adik di kelompok Tiluk (“tiluk” adalah padanan bahasa Sunda dari “tiga”), kami berhasil memenangkan permainan tersebut.

Kegiatan selanjutnya adalah berbincang dengan adik-adik, saya dan Yogi mencoba untuk menggali lebih dalam tentang hobi, cita-cita, serta keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memiliki hobi membaca, menggambar, bermain gitar, dan balap liar. Dua anak laki-laki yang mengaku suka melakukan balap liar cukup mengusik keingintahuan saya untuk menggali lebih dalam terhadap hobi mereka yang terdengar kurang positif. Bahkan ketika saya meminta mereka untuk menceritakan pengalaman yang paling berkesan, salah satunya mengatakan bahwa ia hampir mengalami kecelakaan ketika sedang kebut-kebutan di jalanan. Kejujuran bahwa mereka tidak jera dengan kejadian tersebut membuat saya penasaran dengan cita-cita mereka.

Dua gadis yang berada di kelompok saya berkata ingin menjadi guru. Murid-murid yang lain ada yang ingin menjadi polisi, pemain bola, pengusaha. Lagi-lagi saya tertarik dengan dua anak yang hobi balap liar dan mereka mengatakan ingin melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM). Kesukaan mereka untuk mengutak-atik mesin motor lah yang menjadi motivasi untuk melanjutkan sekolah mereka ke jenjang tersebut.  Cara berpikir mereka yang belum terbuka membuat saya gatal untuk menjelaskan bahwa hobi mereka bisa ditekuni dengan cara yang lebih positif, bukan hanya untuk menggunakan motor secara ugal-ugalan tapi dengan pendidikan yang tepat dan passion yang disalurkan dengan benar bisa menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dari interaksi yang saya lakukan pada hari itu, saya bisa melihat bahwa siswa-siswi SMP Tunas Bangsa memiliki potensi untuk menjadi generasi yang lebih baik ke depannya. Terlepas dari berbagai permasalahan yang ada dan menjadi penghambat proses belajar, mereka memiliki cita-cita yang layak untuk diwujudkan. Wajah-wajah yang tadinya menunjukkan raut tak serius dan bodoh amat, seiring dengan beberapa cerita yang saya bagikan dan mereka resapi hingga mampu memunculkan gurat merenung dan berpikir ketika mereka memproses informasi tentang adanya sisi lain yang lebih baik jika mereka mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Momen singkat yang membuat saya yakin bahwa ada mimpi-mimpi yang patut untuk diperjuangkan.

Written by : Putri Wulandari | Photo by : Putri Wulandari

Editor : Bagus A

Membangun Langkah Awal yang Baik Bersama Dreamdelion Ngawi

Membangun Langkah Awal yang Baik Bersama Dreamdelion Ngawi

Dreamdelion, kata yang indah dan penuh makna bila kita mencermatinya. Awal dari semua ini adalah pada tanggal 2 Januari ketika aku bertemu seseorang yang hebat, Alia Noor Anoviar. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya. Dari perbincangan awal mengenai mimpiku masuk UGM hingga bahasan paling menarik tentang dreamdelion. Nah, aku mulai bertanya-tanya soal organisasi kemasyarakatan, potensi masyarakat, dan banyak hal yang bisa kupelajari dari semua itu. 

Sudah bertemu inspirator, tentunya harus ada tindakan real. Aku mengajak teman-temanku, dari temen sekelas sampai adik-adik kelas. Memang benar kata pepatah, bahwa mengajak demi kebaikan itu perjuangannya wow banget. Dari beberapa kelas yang berminat bergabung hanya 19 orang yang berminat. Tak apalah, itu sudah jumlah yang banyak. 

Untuk mengadakan suatu kegiatan tentu harus direncanakan, kami pun berdiskusi mengenai program vertikultur sesuai dengan saran dari kakak dreamdelion sebelumnya. Diskusi pertama memang hanya dihadiri 6 orang saja, yaitu aku (Herlina), Rina, Nindi, Nifta, Eksanti dan Icha. Sesuai program yang terencana, tanggal 9 – 11 Januari kami mengumpulkan tanah, pupuk, uang Rp2.000 (untuk membeli biji tanaman), dan juga per anak membawa botol ukuran 1,5 liter sebanyak 5. Wihhh.. Susah loh dapat botolnya. Karena kebanyakan dipakai bapak ibu ke sawah. Dan akhirnya tanggal 13 Januari kami siap bertempur, wew,, bertempur dengan pupuk kandang yang bau tentunya. 

Dalam gerimis dan sampai hujan deras, kami menanam biji sawi, kangkung dan juga bayam. Karena kami menghendaki hari itu jadi, ya bagaimana pun caranya harus berhasil. Bismillah kun fayakun. Jeng..jeng..jeng.. Hasil tak mengkhianati usaha kami. Vertikultur sederhana kami jadi dan banyak kritikan yang membangun dari bapak ibu guru. 

Hari berganti hari, biji tanaman kini telah tumbuh, kami rawat dengan baik dan tumbuh dengan sehat. Tanggal 24 Februari kami memanen sayuran dan memasaknya di kantin sekolah. Panen bareng, masak bareng, makan bareng, banyak deh yang bareng. Hehe.. Ya itulah sedikit cerita dari kami anak-anak SMK N 1 Paron, Ngawi. Bye.. 😊

Written by: Herlina