National Seminar: Jadi Socialpreneur? Siapa Takut!

National Seminar: Jadi Socialpreneur? Siapa Takut!

Apa sih, bisnis sosial itu? Bagaimana sih, caranya membangun bisnis berbasis komunitas pemberdayaan? Punya ide sosial tapi bingung mengeksekusi dari mana? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat kamu temukan jawabanya melalui National Seminar I dan National Seminar II National Social Business Camp (NSBC) 2014.

National Seminar merupakan bagian dari NSBC 2014, sebuah kompetisi bisnis sosial tingkat nasional yang digagas oleh Dreamdelion. Sesuai tema NSBC 2014, Energizing Youth Spirit Through Social Business Era, seminar ini diadakan untuk mengangkat isu bisnis sosial dan mengajak masyarakat khususnya anak muda dalam membangun wirausaha sosial.

Seminar ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu dalam pre event dan main event NSBC 2014. National Seminar I dilaksanakan pada tanggal 17 September 2014 di Balai Sidang UI, Depok. Ada sekitar 450 orang pendaftar pada National Seminar I yang terdiri atas masyarakat umum dan pelajar.

“Kalau punya ide, segera dilaksanakan. Jangan ditahan-tahan. Kalau sudah orang lain yang melaksanakan, kita sendiri yang rugi.”

– Nita Roshita melalui tweet akun Twitter @yChangemakers.

Ada tiga sesi dalam National Seminar I. Sesi pertama diawali oleh Prof. Rhenald Kasali dari Rumah Perubahan sebagai keynote speaker; Nucha Ayuningrum, Dosen Universitas Paramadina, menjadi moderator; Nita Roshita (Ashoka Indonesia), Dewi Meisari (UKMC UI), dan Adjie Wicaksana (Desa Binaan Mandiri) yang hadir secara langsung untuk memantik semangat peserta dalam memulai bisnis sosial.

Pada sesi kedua, masih dalam National Seminar I, hadir Nurrohim (Sekolah Master), Oskar Unggul (Telapak Indonesia), dan Wempy Dyocta Koto (Wardour and Oxford) yang menjelaskan semakin dalam mengenai seberapa besar peranan bisnis sosial dalam masyarakat dan perubahan di Indonesia. Tujuan utama dalam wirausaha sosial menurut Wempy Dyocta Koto adalah keberlanjutan.

Di sesi ketiga, Yosea (Nutrifood) bersama M. Al Fatih Timur (kitabisa.com), M. Bijaksana Junerosano (Greeneration Indonesia), Yuri Pratama (Urchindonesia), dan Jombang (Penulis Buku “Bunda Lisa”) hadir untuk berbagi pengalaman seputar wirausaha sosial yang sedang dijalani. Hadir pula Darozatun (Mahasiswa FKM UI) dan Taufik Hidayat (Mahasiswa MIPA UI) sebagai moderator dalam seminar.

“IPK itu jangan sekadar nilai saja, tapi harus berwujud dalam karya nyata.”

– Prof. Rhenald Kasali.

Setelah sebelumnya menjadi keynote speaker dalam National Seminar I, Prof. Rhenald Kasali kembali hadir secara langsung untuk berbagi ide tentang bisnis sosial di hadapan peserta National Seminar II. Sekitar 500 orang peserta seminar dengan tambahan 15 tim finalis National Competition memenuhi Auditorium K310. National Seminar II ini dilaksanakan pada tanggal 9 November 2014 di Universitas Indonesia, Depok.

Dengan Mengusung tema yang sama seperti National Seminar I, seminar kedua kali ini juga terdiri atas 3 sesi. Pada sesi I, para peserta diajak berpikir tentang bisnis sosial sebagai cara untuk memecahkan masalah sosial dan lingkungan. Sesi ini diisi oleh Prof. Rhenald Kasali dengan Alia Noor Anoviar, pendiri Dreamdelion, sebagai moderatornya. Sesi selanjutnya diisi oleh Wempy Dyocta Koto dari Wardour and Oxford. Tidak ketinggalan juga ada Sirly W. Natsir dari Perhumas Indonesia hadir menjadi moderator dalam sesi yang memiliki tema How to Make Social Entrepreneurship Become a Global Business.

Erista (Tanoto Foundation), Fahma Nurika (Dreamdelion), Dr. Achsin U. Choliq (Practical Universitiy), dan Salman Subakat (PT Paragon Technology and Innovation) hadir mengisi sesi ketiga. Tema yang dibahas kali ini adalah “How to Implement Social Entrepreneurship Idea”. Ada pula Gloria Marcella Morgen Wiria (Nutrifood), Stefanus Syalom (Mahasiswa FT UI), dan Zerlinda Zuhri (Mahasiswa Vokasi UI) yang hadir untuk menambah keseruan seminar dan diskusi kali ini.

Satu hal yang dapat dipetik dari seminar ini adalah bahwa untuk membangun sebuah komunitas bisnis sosial tidak perlu langkah yang rumit. Seperti pesan yang disampaikan oleh Wempy Dyocta Koto atau yang akrab disapa Uda Wempy, “Ketika memulai sebuah movement, keep it simple.”

Written by : Nisrina Putri

Add Comment

5 × one =