Menenun untuk Kehidupan: Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

Menenun untuk Kehidupan: Sepenggal Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta

“Menenun adalah kerja budaya. Mereka sebagai warga Indonesia berhak hidup layak. Dengan mendukung gerakan ini, akan berdampak bagi berbagai pihak, diantaranya mendukung gerakan lokal.”

 

Pernyataan tersebut dituturkan oleh Paulina Dinar Tisti dari Bentara Budaya Jakarta dalam konferensi pers Cerita Tenun Tangan tanggal 15 Maret 2016 di Bentara Budaya Jakarta. Dalam acara tersebut, hadir pula Ibu Catharina Dwihastarini (GEF-SGP), Mama Yovita (Yayasan Thafen Pah), dan Mbak Adinindyah (House of Lawe).

Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap kehadiran pameran Stagen: Start Again, membuat Dreamdelion ingin membagikan semangat yang sama ke tempat baru. Dreamdelion, bersama dengan House of Lawe, GEF-SGP (Global Environment Facility-Small Grant Programme), Terasmitra, JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) ID,  Poros, dan Bentara Budaya Jakarta, membawa kisah tenun ini ke Jakarta. Yap, sebenarnya ini adalah pameran yang tidak direncanakan sebelumnya.

Cerita Tenun Tangan ini diadakan di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 15 Maret hingga 20 Maret 2016. Pameran ini mengangkat tema Weaving for Life, yaitu bagaimana tenun memiliki dampak yang sangat besar dalam hidup para penenunnya.

Tidak hanya tenun stagen dari Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, yang disajikan dalam Cerita Tenun Rakyat, ada pula tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan 3 Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), juga ada tenun dari Biboki, Timor Tengah Utara (TTU). Keberadaan tenun di masing-masing wilayah ini memiliki makna yang menarik untuk dipahami. Ada kisah, nilai, dan budaya yang tersimpan dalam tiap helai benangnya. Maka dari itu, pameran kali ini diberi nama Cerita Tenun Tangan.

Lain daerah, lain pula cerita di balik lembaran warna-warni kain tenunnya. Di Mollo, Amanatun, dan Amanuban, hasil tenun dapat menjadi sumber penghasilan dan merupakan cara untuk mengusir tambang marmer. Ada pula kisah dari Moyudan, Yogyakarta, yang menjadikan tenun sebagai upaya untuk mengurangi kegiatan penambangan pasir di sungai Progo. Kegiatan penambangan pasir ini secara nyata telah merusak ekosistem alam di desa. Sementara itu, hasil penjualan tenun di Biboki telah digunakan untuk misi regenerasi dan beasiswa anak-anak Biboki. Sungguh menarik, bukan, menyimak cerita tenun dari masing-masing daerah?

Pameran ini tidak hanya menyajikan hasil jadi tenun tangan, tetapi juga menghadirkan beberapa alat tenun yang dapat dicoba langsung oleh para pengunjung. Para penenun asli dari Yogyakarta dan Timor Tengah Utara datang juga untuk mengajari para pengunjung cara menggunakan alat tenunnya. Hasil jadi tenun tangan ini juga dipamerkan sekaligus dijual, seperti tas, dompet, baju hingga boneka. Keuntungan penjualan ini kembali ke para penenun dan pengrajin pembuat produk di Terasmitra dan GEF-SGP, lho. Selain itu, ada pula kelas kerajinan tangan yang diadakan tiap hari. Kelas kerajinan tangan ini mengajak pengunjung untuk membuat bros, jepit rambut, dan pouch cantik dari kain tenun.

Ada pula Talkshow “Eksistensi Tenun Dulu dan Sekarang” yang diadakan pada hari kedua pameran, 16 Maret 2016. Tidak tanggung-tanggung, narasumber talkshow ini adalah Didiet Maulana, desainer terkenal dari The Ikat Indonesia, Yovita Meta Basin dari Yayasan Taefan Pah, dan Adinindyah dari House of Lawe. Perbincangan ini membahas tentang minat generasi muda terhadap kerajinan tenun dan permasalahan terkait pemasaran hasil jadi tenun itu sendiri. Masih di hari yang sama, digelar pula Fashion Show dengan tema “Aplikasi Kain Tenun dalam Berbusana”.

Pertunjukan seni dan musik membuat Cerita Tenun Tangan semakin berwarna. Ada Daniel dari sanggar Sakti Dance Company dan pertunjukan musik Sasando oleh Djitron Pah yang membuka hari pertama pameran. Teater “Main Dulu, Main Sekarang” dari Sanggar Bias hadir pula mengisi di hari ketiga. Selain itu masih ada pertunjukan musik Jimbe dari Yayasan Ciliwung Merdeka.

Kemeriahan Cerita Tenun Rakyat ini juga ditambah dengan kontes foto Cerita Tenun Tangan yang diadakan setiap hari. Caranya sederhana, cukup unggah foto tentang acara Weaving For Life, lalu tag 3 orang teman di Instagram.

Seru sekali, bukan?

Jauh di luar dugaan, Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta ini disambut hangat oleh lebih banyak orang dan lebih banyak media. Bahkan di hari terakhir, sudah ada lebih dari 500 pengunjung dalam pameran Weaving for Life! Tidak hanya itu, Dewi Motik, Frans Hartono, dan Nina Tamam turut hadir mengisi rangkaian kegiatan dalam pameran ini. Rasanya segala usaha dan kerja keras tuntas terbayarkan oleh tanggapan positif yang diberikan masyarakat.

Written by : Nisrina Putri | Photo by : Evaulia Nindya

Add Comment

5 × 1 =