How to be a Great Storyteller

How to be a Great Storyteller

“Everyone is a storyteller”

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah mentoring pertama dari Internship Dreamdelion tentang storytelling bersama Kak Rona Mentari. Beliau ini adalah seorang aktivis storytelling dan juga founder Rumah Dongeng Mentari. Sore itu Kak Rona berbagi cerita tentang bagaimana menjadi seorang storyteller yang baik.

Kak Rona memulai sesi mentoring dengan bercerita tentang awal mula ia menjadi storyteller. Awalnya Kak Rona ini adalah seorang anak yang pendiam dan pemalu, namun karena ibunya selalu menjadi seorang pendengar yang baik untuknya, maka ia mulai lebih percaya diri untuk berani bercerita di depan umum. Sebuah pelajaran berharga juga menurutku sebagai calon orang tua kelak, bahwa hal yang sangat penting untuk dilakukan pada seorang anak adalah menjadi seorang pendengar yang baik dan selalu menanyakan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Nah, mungkin mulai masuk ke pembahasan tentang storytelling. Mengapa storytelling itu penting?

Pertama, storytelling merupakan hal yang disukai oleh anak-anak, bahkan kita sebagai orang dewasa pun masih menyukai dongeng atau cerita. Anak-anak juga cenderung lebih antusias untuk mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh orang lain.

Kedua, dongeng menarik karena mampu mengajari tanpa menggurui. Melalui dongeng, kita dapat menyampaikan pesan-pesan tanpa harus terkesan menggurui seseorang. Anak-anak juga cenderung akan lebih menangkap pesan jika disampaikan melalui cara yang menarik.

Ketiga, Dongeng juga akan merangsang imajinasi anak. Imajinasi diperlukan agar anak mau bercita-cita tinggi. Imajinasi juga membuat kita berpikir lebih kreatif.

Keempat, dongeng juga akan meningkatkan minat baca dan tulis. Berbagai dongeng yang menarik akan meningkatkan minat baca anak-anak. Selain itu, apabila seseorang ingin mendongeng, tentunya mereka butuh membaca buku untuk mendapatkan ide mendongeng. Dongeng yang disampaikan juga bisa berupa hasil modifikasi cerita dalam buku dengan pesan tertentu yang kita ingin sampaikan.

Kelima, dongeng juga mengajarkan budaya talent. Dalam mendongeng, kita juga bisa menggunakan kemampuan tertentu yang kita miliki agar menarik bagi audiens, misalnya menyanyi, bermain musik, menggambar, dan lain sebagainya.

Bahkan, sebuah penelitian dari Mc Clelland menemukan bahwa sastra anak yang disampaikan ke anak-anak di Inggris berpengaruh pada masa depan anak.

Ada pula beberapa tips yang dapat digunakan ketika akan mendongeng di depan anak-anak. Beberapa di antaranya yaitu menyiapkan cerita dengan baik, mengetahui siapa audience kita, dan menggunakan media sesuai talent. Hal tersebut penting untuk kita lakukan agar kita lebih bisa menyesuaikan cerita sesuai target audiens, menarik bagi audiens, serta mengurangi kemungkinan lupa ketika mendongeng.

Posisi ketika mendongeng juga perlu diperhatikan. Salah satu posisi yang paling efektif untuk mendongeng di dalam ruang adalah dengan memilih sudut ruangan. Posisi tersebut dapat dipilih untuk mengurangi distraksi atau gangguan yang sering terjadi ketika mendongeng, misalnya adanya objek tertentu yang mengalihkan perhatian anak-anak.

Suasana hati anak-anak juga perlu diperhatikan ketika mendongeng. Waktu yang dinilai cukup efektif untuk mendongeng yaitu sekitar 15 menit.

Selain itu, ada pula sebuah tips untuk mengatasi seorang leader dari anak-anak yang memberikan pengaruh kepada temannya untuk tidak mendengarkan dongeng yang kita sampaikan, yaitu dengan melibatkan mereka ke dalam dongeng kita sebagai tokoh yang baik. Hal itu dapat dilakukan dengan menjadikan nama si anak sebagai tokoh protagonis dan patut ditiru dalam dongeng. Cara ini cukup efektif dan pernah diterapkan oleh Kak Rona.

Terakhir, ketika berhadapan dengan anak-anak, maka jangan mudah baper dan tetap ekspresif. Jangan berhenti bersemangat ketika ada feedback yang tidak kita inginkan dari mereka. Tetap tersenyum! Pahami dan libatkan mereka dalam cerita yang kita sampaikan.

Semoga bermanfaat ya!

Add Comment

eight + one =