Pulau Harapan merupakan bagian dari Kepulauan Seribu yang berlokasi di sebelah utara Jakarta. Sebuah pulau yang cukup padat penduduk dan populer di kalangan wisatawan sebagai tempat untuk berlibur ataupun sekedar singgah sebelum menuju pulau-pulau lain di sekitarnya untuk menikmati pantai dan keindahan bawah laut. Dapat ditempuh dengan waktu 2 atau 3 jam dari Jakarta, Pulau Harapan merupakan salah satu pilihan yang menarik bagi yang ingin melakukan weekend gateaway untuk sekedar melepas penat dan menghirup angin laut. Perjalanan saya bersama Dreamdelion yang berkolaborasi dengan KeMANGTEER Jakarta, Bersih Nyok!, Gemass Indonesia, ACP Indonesia, dan Kampung Dongeng dalam rangka memperingati hari Bumi pada 5-6 mei lalu telah memberikan sebuah kenangan tersendiri tentang pulau penuh cerita ini.

Dreamdelion menerjunkan 5 orang untuk melakukan social mapping, kegiatan yang bertujuan untuk menggali potensi yang dimiliki oleh Pulau Harapan agar bisa dikembangkan melalui program-program yang sustainable. Selain itu, tim juga melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama warga Pulau Harapan yang terbagi menjadi dua sesi, sesi bersama bapak-bapak dan sesi bersama ibu-ibu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui Pulau Harapan di mata penghuninya serta harapan dan hambatan yang dirasakan oleh mereka selama tinggal di pulau tersebut. Banyak hal-hal menarik yang akhirnya bisa didengar dari penuturan dan curhatan mereka.

Sebagian besar warga Pulau Harapan memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Namun, sekitar 2 tahun terakhir, semakin berkembangnya bisnis homestay di pulau tersebut membuat semangat melaut sudah tidak sebesar dahulu. Hal ini dikarenakan pendapatan yang bisa didapatkan dari mengelola penginapan jauh lebih besar dan lebih pasti dibandingkan dengan hasil melaut. Jika sekali melaut seharian hanya bisa mendaptkan sekitar Rp 50.000, mengelola homestay bisa mendapatkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Meskipun bisa jadi ada yang di cancel pemesanan penginapannya, namun sudah bisa mengantongi uang DP. Tentu saja pekerjaan dengan jaminan pemasukan yang lebih pasti ini semakin diminati warga Pulau Harapan hingga pulau tersebut penuh dengan bangunan rumah dan sedikit lahan yang tersisa untuk sarana lainnya. Menurut Pak Rohman, jika dulu di Pulau Harapan terlihat banyak pohon sukun, sekarang yang terlihat adalah banyak genteng berwarna.

Ikan di laut yang berkurang jumlahnya dari waktu ke waktu juga menjadi penyebab ciutnya semangat melaut para nelayan. Menurut penuturan para warga ketika FGD, dalam hal ini bapak-bapak, menjelaskan bahwa saat ini mencari ikan di laut sudah tidak semudah dahulu seperti pada sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Dikarenakan dulu masih banyak ikan di sekitar pulau sehingga dengan memancing di pinggir pulau saja sudah bisa mendapatkan tangkapan yang lumayan. Namun saat ini nelayan harus bekerja lebih keras dengan melaut lebih jauh ke tengah laut untuk mendapatkan ikan. Dampaknya, mereka harus menghadapi perompak yang semakin banyak beroperasi menjelang lebaran. Hasil tangkapan pun tidak sebanyak dulu dan belum tentu bisa menutupi biaya operasionalnya.

Sedihnya, hasil tangkapan tersebut pun bukan untuk dimakan oleh penduduk, namun untuk dijual kepada pemilik usaha catering yang kebanjiran pesanan untuk melayani wisatawan yang berkujung dan menginap di sana. Hal ini sesuai penuturan ibu-ibu Pulau Harapan yang menyayangkan bahwa makan ikan seminggu sekali saja sudah bersyukur, karena untuk memenuhi kepentingan usaha catering, bahkan warga pulau sendiri jarang makan ikan. Jika pihak catering masih kekurangan ikan, maka akan membeli ke Jakarta. Miris sekali mendengar hal tersebut, mengingat hasil laut yang seharusnya bisa memenuhi kebutuhan penduduk terutama memenuhi gizi anak-anak, namun harus mengalah untuk bisnis komersil.

Sampah juga menjadi hal yang masih dipersoalkan hingga kini. Lebih mudah menemukan sampah plastik di pinggir pulau dibandingkan ikan laut. Baik di darat maupun di laut, keberadaan sampah plastik tidak diharapkan namun gaya hidup yang sudah melekat membuat plastik menjadi barang yang tak terhindarkan eksistensinya. Di darat, pengolahan sampah plastik yang belum jelas dan efektif menjadi keluhan warga, walaupun sudah ada tempat penampungan dan alatnya namun belum dimanfaatkan sebaik mungkin. Sampah-sampah masih diangkut oleh kapal yang sebulan sekali berkunjung untuk mengangkut sampah dan dibawa ke Jakarta. Padahal biaya untuk pengangkutan sampah di pulau-pulau tidaklah murah karena mencapai ratusan juta rupiah per hari untuk operasionalnya, sesuai penuturan dr. Nila—founder Bersih Nyok!—ketika memberikan penyuluhan kepada warga mengenai pentingnya mengelola sampah dengan benar. Di laut, sampah menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah ikan dikarenakan menutupi terumbu karang dan membuatnya mati. Menurut salah satu peserta FGD, sekali menebar jala ketika sedang melaut bisa mendapatkan 10 kg sampah plastik. Baling-baling kapal pun sering rusak akibat tersumbat sampah plastik. Bukan hal yang mustahil untuk mengatasi keberadaan sampah plastik ini agar tidak sampai pada jumlah yang merugikan, but still, there is a long way to go.

Harapan warga untuk Pulau Harapan banyak yang terkait dengan kondisi lingkungan alam tempat tinggal mereka agar tetap lestari dan indah. Mereka sadar bahwa para turis bersedia mengunjungi pulau tercintanya untuk melihat keindahan dan mereka pun berharap Pulau Harapan akan tetap indah. Baik di laut maupun di daratnya, sumber daya alam nya agar tetap dapat dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak. Tak hanya untuk generasi masa kini, namun untuk anak cucu di masa mendatang. Sungguh Pulau Harapan yang penuh harapan.

By Putri Wulandari