Dreamdelion Cerdas: Melahirkan Generasi Berkarakter  

Dreamdelion Cerdas: Melahirkan Generasi Berkarakter   

Seperti halnya dengan nama“Dreamdelion” yang berasal dari kata ”dream” dan ”bunga dandelion” yakni impian untuk menyebarkan mimpi ke mana saja dan tumbuh di mana saja untuk mewujudkannya. Dreamdelion Cerdas ada untuk memberikan mimpi kepada anak-anak. Dreamdelion Cerdas sendiri sebenarnya berdiri sebelum Dreamdelion berdiri. Setelah penelitian selesai dilakukan oleh sekelompok mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yaitu Sentia, Site, dan Alia, akhirnya penelitian tersebut diwujudkan dalam bentuk pengabdian masyarakat berupa Sanggar Belajar bagi anak-anak di Manggarai, yang kemudian disebut Sanggarai.

Pada awal proses pembelajarannya, anak-anak diberikan materi pelajaran sekolah. Namun seiring waktu berjalan, dengan melihat masalah yang ada, anak-anak Manggarai ternyata lebih membutuhkan pendidikan karakter dibanding pendidikan akademik. Di mana kawasan Manggarai terkenal dengan masalahnya yang sangat kompleks sehingga berdampak pada tumbuh kembang karakter anak-anak di Manggarai. Contohnya saja adalah penyelesaian masalah yang berujung pada kekerasan, kurangnya dukungan dan motivasi bagi anak untuk menggapai cita-cita yang tinggi, dan kurang terpenuhinya hak anak. Hal semacam ini seolah-olah sudah menjadi hal lumrah yang terjadi pada anak Manggarai. Tidak ingin terlalu larut dalam permasalahan ini, akhirnya materi pembelajaran Sanggarai lebih difokuskan pada pengembangan karakter anak.

Hal ini selaras seperti yang diungkapkan Marissa selaku mantan kepala Sekolah Dreamdelion, “Anak-anak yang mempunyai karakter baik, dia akan memaksimalkan apa yang mereka inginkan dengan sebaik mungkin, sehingga memang perlu pendidikan karakter diterapkan pada anak-anak Manggarai yang nantinya menjadi bekal untuk masa depan mereka.”

Sanggarai yang kini mempunyai fokus pada pendidikan karakter mulai terealisasikan setelah berkenalan dengan Farah Mafaza melalui akun Twitter. Farah yang merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia, juga berkeinginan untuk menjalankan sanggar belajar tersebut. Dibalik Farah, tak luput juga peran mahasiswi psikologi lainnya yaitu Aisyah Ibadi, Selfi Andriani, dan Citrawanti Oktavia. Mereka mengerahkan segala kemampuan untuk memajukan sanggar tersebut dengan cara menyusun kurikulum untuk pengembangan karakter anak, dan berbagai upaya lainnya.

Pada tahun 2012, sanggar belajar Manggarai yang bernama Sanggarai ini kemudian berubah menjadi Manggarai Cerdas. Perubahan nama ini rupanya bersamaan dengan hari didirikannya Dreamdelion. Hingga saat ini, nama tersebut masih tetap digunakan.

Dalam pelaksanaan kegiatan program Manggarai Cerdas, tim Manggarai Cerdas yang biasa disebut tim MC dibantu oleh sejumlah volunteer dari latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman yang berbeda. Mereka biasa disebut ‘fasil’, karena sebagai fasilitator anak-anak-anak dalam proses pembelajarannya. Hal itu pula yang menjadi alasan dibuatnya CEO Shop (Community Empowerment Online Shop) untuk pembiayaan operasional dan juga dibukanya rekruitmen terbuka volunteer untuk kakak-kakak pengajar.

Seiring perkembangannya, sanggar belajar mulai diterapkan di Bandung dan Yogyakarta. Akhirnya pada tahun 2013, nama Manggarai Cerdas diubah kembali menjadi Dreamdelion Cerdas. Hingga saat ini Dreamdelion Cerdas telah mengalami 2 masa Kepala Sekolah setelah Farah, yaitu Marissa Abdul dan saat ini Marwah Azizah dengan kurikulum yang diajarkan adalah pendidikan karakter bagi anak. Hingga setelah kurang lebih selama empat tahun berjalan, tanpa terasa karakter-karakter kurang baik yang ada pada anak lambat laun mulai menghilang.

“Sejak adanya sanggar Dreamdelion Cerdas anak-anak mempunyai sarana bermain yang positif, mereka tidak lagi bermain atau berjualan di jalan. Pada awalnya beberapa anak yang baru masuk sanggar Dreamdelion Cerdas mempunyai sikap kurang baik, kurang responsif, kurang menerima orang, dan cenderung kasar. Setelah berada di sanggar mereka berubah menjadi lebih penyayang, dan lebih inisiatif dalam menolong. Mereka menjadi tahu makna menolong yang sesungguhnya, membantu orang bukan hanya agar mendapat imbalan seperti berupa uang. Hal-hal kecil seperti itu lah mulai muncul di sanggar,” ungkap Marissa.

Perubahan baik tersebut juga mulai dirasakan oleh orang tua anak-anak sanggar. Beberapa orang tua mengaku bahwa bahwa anak-anaknya berubah menjadi lebih baik. Memang perubahan karakter membutuhkan waktu yang panjang, namun setiap pertemuan rutin di hari Minggu ternyata juga bisa membawa dampak positif bagi anak-anak Manggarai. Sesuai dengan tujuan awal didirikannya Dreamdelion Cerdas, yakni mengubah karakter anak menjadi lebih baik.

Written by : Enggar Tri Lestari | Photo by : Aswanudin Hamid

Add Comment

seven + 6 =