Suasana di Dukuh Sumberarum, Sejati Desa malam itu cukup sepi. Selepas maghrib masyarakat desa memang jarang ada yang keluar rumah, kecuali bila memang ada kepentingan tertentu seperti sembahyang, rapat desa, atau pengajian di rumah tetangga yang mengharuskan untuk keluar rumah.  Hembusan angin memang tidak cukup kencang, namun cukup untuk membuat bulu kuduk merinding. Minimnya penerangan jalan, semakin mendukung suasana desa yang sepi, namun langit cukup cerah sehingga bulan yang saat itu masih cukup bulat mendukung terangnya malam di Dukuh Sumberarum. Selain itu bintang gemintang terlihat begitu banyak menghiasi langit malam karena minimnya polusi cahaya.

Tim Dreamdelion Yogyakarta, bersama dengan pembicara, malam itu mengadakan sesi diskusi dengan Kelompok Sadar Wisata Sejati Desa mengenai pengembangan desa wisata Dukuh Sumberarum, Sejati Desa di rumah Bapak Amin, warga setempat. Singkat cerita, masyarakat Dukuh Sumberarum memiliki semangat untuk dapat mengembangkan desa wisata setelah diadakan Pasar Tenun Rakyat bersama Dreamdelion tahun lalu. Di dasari dengan semangat yang muncul paska-even tersebut, masyarakat desa pun, secara mandiri membentuk sebuah Kelompok Desa Wisata, yang nantinya diharapkan dapat mendorong kreatifitas masyarakat desa dan dapat meningkatkan kesejahteraan desa tersebut. Oleh karena itu, Tim Dreamdelion hadir untuk menjadi fasilitator masyarakat desa, demi terwujudnya mimpi-mimpi tersebut.

Pembicara yang hadir malam itu adalah Mbak Adesty Lassaly, yang memiliki banyak pengalaman riset di berbagai desa wisata Kabupaten Sleman. Mbak Adesty pun membentuk sebuah Non-Government Organization bernama Ludens Tourism Space yang bergerak untuk memberikan konsultasi mengenai pariwisata untuk masyarakat. Pada diskusi dengan masyarakat desa, Mbak Adesty kami ajak untuk memberi gambaran kepada masyarakat desa, khususnya Pokdarwis Dukuh Sumberarum, mengenai gambaran umum desa wisata. Diskusi diawali dengan pemaparan Tim Dreamdelion mengenai hasil kerja dan observasi tim dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Tim Dreamdelion memaparkan kondisi desa sekaligus kepengurusan Pokdarwis, serta memberikan tawaran-tawaran kurikulum untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia Pokdarwis tersebut.

Hingga kemudian, sesi yang cukup menarik pun dimulai. Diskusi bersama Mbak Adesty. Diskusi tersebut saya anggap menarik, karena berbeda dengan pertemuan-pertemuan Tim Dreamdelion dengan beberapa ahli sebelumnya, Mbak Adesty menekankan mengenai pentingnya pengembangan sebuah Desa Wisata berbasis masyarakat, atau bisa dibilang, demokratis. Bagaimana kemudian sebuah desa wisata hadir, bukan sebagai ladang uang hanya bagi kelompok-keleompok tertentu saja, namun dapat menjadi sebuah wadah pembelajaran bagi seluruh elemen yang terlibat di dalamnya, baik dari masyarakat desa, baik mereka yang tergabung dalam Pokdarwis atau tidak, maupun wisatawan yang menikmati jasa pariwisata. Sehingga, desa wisata tersebut hadir karena insiatif masyarakat, digerakkan oleh roda-roda semagat yang juga berasal dari masyarakat, dan hasil yang dapat dipetik pun dikembalikan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi yang sudah ada.

Saya rasa, konsep ini sangat cocok jika diaplikasikan kepada Dukuh Sumberarum, mengingat bahwa masysarakat desa memiliki semangat untuk membentuk sebuah Pokdarwis secara mandiri. Dengan ciri khas tenun stagen yang dirasa sulit untuk ditemukan di wilayah lain di Yogyakarta, serta potensi lain seperti suasanya desa yang masih begitu terjaga dan asri, ciri khas masyarakat desa yang ramah, guyub-rukun, dan gemar bercanda, saya rasa sudah cukup untuk bisa dijadikan modal untuk membentuk sebuah desa wisata. Tidak banyak yang perlu dipoles dari segi potensi, namun tentu, banyak yang peru dikembangkan dari sisi sumber daya manusia.

‘Tidak perlu merubah apapun, biarkan saja seperti apa adanya masyarakat desa. Kemudian, turis asing pasti akan tertarik.’

Salah satu poin penting yang perlu dipertimbangkan dari diskusi malam itu. Namun, jika dikulik kembali, memang benar apa yang diungkapkan Mbak Adesty. Jogja memang memiliki ratusan desa wisata, namun, tidak jarang pula yang mati karena beragam sebab yang bisa dibilang remeh, namun memiliki dampak yang cukup besar, yaitu komitmen dan kompetisi. Banyak desa yang sudah memiliki konsep sejenis, seperti desa-desa di wilayah Kaliurang dengan konsep perkebunan salaknya. Beberapa yang sukses memang akan menguntungkan hasil yang besar, namun tidak sedikit pula yang mati karena kalah di kompetisi. Tentu saja, kami tidak ingin, Desa Wisata yang akan dibentuk dan dijalankan kelak mati begitu saja karena kalah oleh proses yang dijalani.

‘Jangan korbankan pekerjaan utama Bapak-Ibu, jadikan desa wisata sebagai penghasilan tambahan saja.’

Poin lain yang perlu digaris bawahi oleh Mbak Adesty, dan tentu kami, Tim Dreamdelion. Perlu diingat bahwa masyarakat desa dan utamanya pengurus pokdarwis memiliki pekerjaan utama untuk menghidupi keluarga masing-masing. Pokdarwis yang dihadirkan dari inisiatif warga dukuh sendiri merupakan sebuah bentuk kreatifitas yang patut diapresiasi. Semangat warga desa yang masih cukup besar baiknya dimanfaatkan sebaik mungkin. Potensi desa serta masyarakatnya yang sudah ada layaknya turut bergerak bersama dengan peningkatan kualitas dibantu oleh elemen-elemen terkait.

Berbagai tantangan tentu akan dihadapi seiring dengan berjalannya waktu. Menyusun konsep yang lebih jelas, menentukan pasar sehingga dapat mendukung tepat sasarannya strategi promosi menjadi aspek penting untuk terbentuknya sebuah desa wisata yang mumpuni.  Semoga, seiring dengan berjalannya waktu, serta beragam proses yang harus dilalui, Pokdarwis Dukuh Sumberarum dapat mengembangkan sebuah desa wisata yang mandiri, berdaya, dan tentunya demokratis, yaitu dari, oleh, dan untuk masyarakat Dukuh Sumberarum.