Malu-malu tapi seru, itulah kesan yang terlihat dari ekspresi para murid SMP Tunas Bangsa ketika mengikuti serangkaian games dan sesi berbincang dengan tim Dreamdelion Cianjur pada Sabtu, 11 Maret 2017. Walaupun cuaca pada hari itu cukup mendung dan rintik hujan menemani, semangat dan antusias mereka cukup untuk mencerahkan suasana. Bermain dengan adik-adik kelas 7 dan 9 yang berasal dari sekitar Puncak Simun tersebut mampu menjadi recharge buat saya.

Dimulai dengan games berkenalan yang menjadi pembuka untuk lebih mengenal satu sama lain dan mencairkan suasana. Lalu dilanjutkan dengan membagi ke dalam beberapa kelompok yang mana setiap kelompok terdapat kakak pendamping dari tim Dreamdelion untuk membuat yel-yel. Dengan kelompok tersebut juga akhirnya kami mengikuti games selanjutnya yang seru dan cukup membutuhkan kerja sama dalam kelompok. Kebetulan, saya bersama Yogi yang tergabung dengan adik-adik di kelompok Tiluk (“tiluk” adalah padanan bahasa Sunda dari “tiga”), kami berhasil memenangkan permainan tersebut.

Kegiatan selanjutnya adalah berbincang dengan adik-adik, saya dan Yogi mencoba untuk menggali lebih dalam tentang hobi, cita-cita, serta keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memiliki hobi membaca, menggambar, bermain gitar, dan balap liar. Dua anak laki-laki yang mengaku suka melakukan balap liar cukup mengusik keingintahuan saya untuk menggali lebih dalam terhadap hobi mereka yang terdengar kurang positif. Bahkan ketika saya meminta mereka untuk menceritakan pengalaman yang paling berkesan, salah satunya mengatakan bahwa ia hampir mengalami kecelakaan ketika sedang kebut-kebutan di jalanan. Kejujuran bahwa mereka tidak jera dengan kejadian tersebut membuat saya penasaran dengan cita-cita mereka.

Dua gadis yang berada di kelompok saya berkata ingin menjadi guru. Murid-murid yang lain ada yang ingin menjadi polisi, pemain bola, pengusaha. Lagi-lagi saya tertarik dengan dua anak yang hobi balap liar dan mereka mengatakan ingin melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM). Kesukaan mereka untuk mengutak-atik mesin motor lah yang menjadi motivasi untuk melanjutkan sekolah mereka ke jenjang tersebut.  Cara berpikir mereka yang belum terbuka membuat saya gatal untuk menjelaskan bahwa hobi mereka bisa ditekuni dengan cara yang lebih positif, bukan hanya untuk menggunakan motor secara ugal-ugalan tapi dengan pendidikan yang tepat dan passion yang disalurkan dengan benar bisa menjadi jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dari interaksi yang saya lakukan pada hari itu, saya bisa melihat bahwa siswa-siswi SMP Tunas Bangsa memiliki potensi untuk menjadi generasi yang lebih baik ke depannya. Terlepas dari berbagai permasalahan yang ada dan menjadi penghambat proses belajar, mereka memiliki cita-cita yang layak untuk diwujudkan. Wajah-wajah yang tadinya menunjukkan raut tak serius dan bodoh amat, seiring dengan beberapa cerita yang saya bagikan dan mereka resapi hingga mampu memunculkan gurat merenung dan berpikir ketika mereka memproses informasi tentang adanya sisi lain yang lebih baik jika mereka mau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Momen singkat yang membuat saya yakin bahwa ada mimpi-mimpi yang patut untuk diperjuangkan.

Written by : Putri Wulandari | Photo by : Putri Wulandari

Editor : Bagus A